1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Isi Dokumen Militer AS di Afghanistan Bukan Hal Baru

Dokumen rahasia yang dibocorkan internet portal "Wikileaks" tidak hanya memuat isu mengenai operasi militer militer AS dan pendapat ISAF tetapi juga mengenai hubungan Taliban dengan dinas rahasia Pakistan ISI.

default

Lebih dari 90.000 dokumen militer Amerika Serikat mengenai operasi di Afghanistan yang sebagian sangat rahasia dipublikasikan Internet Portal "Wikileaks". Para pakar menganggap dokumen itu asli. Reaksi Afghanistan, Pakistan dan Jerman mengenai dokumentasi rahasia tersebut cukup berbeda.

"Ya, kami merasa shock," demikian diakui Waheed Omer, juru bicara Presiden Afghanistan Hamid Karzai. Shock karena begitu banyak dokumen dapat lolos ke masyarakat umum, namun tidak begitu kaget melihat isinya: "Reaksi langsung Presiden Karzai menyangkut isi dokumen adalah, kebanyakan tidak merupakan sesuatu yang baru. Ini sudah lama sekali kami diskusikan."

Dua tema dari dokumen tersebut disoroti juru bicara Waheed Omer. Pertama, peranan tercela dinas rahasia negara tetangga Pakistan pada masa lalu untuk mendestabilisasikan Afghanistan. Kedua, kenyataan bahwa dokumen rahasia itu menyinggung kasus-kasus pembunuhan warga sipil yang sebelumnya tidak diketahui. "Posisi kami mengenai kedua isu ini pada tahun-tahun silam, selalu jelas. Kami selalu mengangkat tema korban sipil yang tewas dan menegaskan, adalah hal yang buruk bila kita ingin menyingkirkan terorisme di Afghanistan dan bersamaan dengan itu membunuh orang yang tak berdosa," demikian Waheed Omer.

Dossierbild Screenshot Wikileaks Wardiary Bild 2

Screenshot Wikileaks Wardiary

Bahan mentah yang "belum dipoles"

Dokumen yang termuat secara online itu merupakan bahan-bahan mentah yang "belum digarap secara kosmetik" dari pihak terkait. Namun, kumpulan data itu hanya mencakup kurun waktu sampai akhir 2009. Istana kepresidenan Afghanistan mengatakan bahwa sejak satu setengah tahun ini kemajuan-kemajuan baik telah dicapai dalam upaya menghindari korban tak berdosa.

Mengenai isu keterkaitan dinas rahasia Pakistan ISI dengan Taliban, pakar politik Afghanistan, Haroun Mir, berpendapat bahwa dukungan Pakistan terhadap pemberontak Afghanistan bukan merupakan kejutan. Afghanistan sudah lama membicarakan hal itu, juga Presiden Karzai mengutarakannya kepada pejabat AS dan Pakistan. Kini sudah waktunya bagi Pakistan untuk menjelaskan kepada rakyat dan parlemennya, mengapa mereka sejak lama mencoba merahasiakan laporan ini.

AS mengucurkan dana yang sangat besar kepada Pakistan agar mereka menumpas Taliban. Tetapi, bila Pakistan di satu sisi menerima bantuan, dan di sisi lainya menjalin hubungan mesra dengan ekstrimis, maka ini menjadi sesuatu yang membuat risi pemerintah di Washington.

Hamid Gul

Hamid Gul, mantan Kepala ISI

Selundupkan ranjau ke Afghanistan

Dalam dokumen yang bocor itu disebut nama bekas kepala dinas rahasia Pakistan Hamid Gul yang menyelundupkan ranjau ke Afghanistan untuk membunuh serdadu NATO, dan bertemu dengan kelompok militan Arab di wilayah etnis untuk mengirimkan pelaku bunuh diri ke Afghanistan. Gul menyangkal tuduhan itu, "Saya membacanya. Semuanya dusta. Itu semua, karena saya target tuduhan yang empuk. Ini hanya menyangkut satu hal, yaitu memukul Pakistan habis-habisan."

Namun tidak dapat disangkal bahwa pada masa lalu, hubungan Pakistan dengan kelompok ekstrimis selalu erat. Banyak pengamat berpendapat, dinas rahasia ISI masih belum bersedia memutuskan hubungan dengan Taliban, karena masih memerlukan Taliban untuk memastikan pengaruhnya bila suatu saat Barat menarik pasukannya.

Sementara itu, Kementrian Pertahanan Jerman masih menunjukkan sikap menahan diri menanggapi publikasi dokumen rahasia itu. Juru bicaranya, Christian Dienst, mengatakan, dokumen itu tidak mengungapkan sesuatu yang baru. Selanjutnya ia mengatakan, langkah-langkah yang diambil pasukan Jerman di Afghanistan dikoordinir secara berkala dengan AS. Dan koordinasi ini bersifat rahasia.

Kai Küstner/Christa Saloh

Editor: Dyan Kostermans 

Laporan Pilihan