Iran Kritik Politik Minyak Arab Saudi | dunia | DW | 12.06.2012
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Iran Kritik Politik Minyak Arab Saudi

Embargo minyak terhadap Iran yang diterapkan Uni Eropa dan akan berlaku 1 Juli mendatang, semakin menekan negara itu. Dalam waktu bersamaan Arab Saudi mengumumkan akan menaikkan kuota penambangannya.

Teheran tidak bisa berkutik, selain melontarkan protes terhadap Riyadh. Di saat tekanan sanksi terhadap sektor perminyakaan Iran diperketat, negara anggota OPEC lainnya kini dapat meraup keuntungan.

Iran mengritik Arab Saudi yang mengumumkan akan menaikkan kuota produksi minyaknya, menarik manfaat dari embargo minyak terhadap Teheran. Tema politik minyak itu akan menjadi agenda utama dalam KTT OPEC di Wina yang digelar Kamis (14/06).

Perwakilan Iran di OPEC, Mohammad Ali Khatibi Sabtu (09/06) menyampaikan protesnya secara resmi. "Adalah tidak tepat, jika dua atau tiga negara anggota OPEC melakukan kompensasi pada pasar minyak yang kekurangan pasokan, akibat sanksi yang dijatuhkan terhadap anggota lainnya", ujar Khatibi.

Iran Opec

Posisi Iran dalam OPEC makin terpojok.

Negara yang dia maksud adalah Arab Saudi, Kuwait dan Uni Emirat Arab, yang bereaksi menaikan kuota produksi terkait sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa terhadap Iran. "Anggota OPEC harus bekerjasama bukan saling menjerumuskan", tambah wakil Iran di OPEC itu.

Arab Saudi menurut taksiran OPEC, memproduksi sekitar 10 juta barrel minyak per harinya (bdp) pada kuartal pertama 2012. Volume produksinya naik 2,5 persen dibanding kuartal pertama 2011. Bulan April lalu, kuota produksi Arab Saudi mencapai rekor tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

Dalam kurun waktu yang sama, produksi minyak Iran turun sekitar 8 persen pada kisaran 3,2 juta bdp. Ekspor minyak Iran tercatat mengalami penurunan sekitar 25 persen dibanding tahun lalu. Penyebabnya, negara pengimpor utama minyak Iran di Asia, yakni Cina, India,Jepang dan Korea Selatan juga mereduksi volume impornya.

Penentang program atom Iran

Di kawasan Timur Tengah, Arab Saudi disamping Israel, merupakan negara pengritik keras program atom Iran yang kontroversial. Ujicoba roket Iran serta tidak ditaatinya resolusi Dewan Keamanan PBB, memberikan alasan bagi Arab Saudi dan sejumlah negara lain di kawasan Teluk untuk meningkatkan persenjataannya secara besar-besaran.

Dengan ditutupnya keran minyak, Riyadh kini memiliki alat yang tepat, untuk meningkatkan tekanannya kepada pimpinan di Teheran. Sebab harga minyak yang amat murah di pasar dunia, akan dapat mencegah Iran memberikan penawaran lebih rendah lagi ke negara Asia, sebagai kompensasi embargo Uni Eropa dan Amerika Serika.

Habib Husseinifard/Agus Setiawan

Editor : Dyan Kostermans