1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Iran Harapkan Bantuan Eropa Soal Kesepakatan Nuklir

Hari ini, Iran nyatakan harapan bahwa Eropa akan menawarkan sokongan untuk perjanjian nuklirnya. Ini diutarakan setelah timbulnya cekcok dengan Presiden AS, Donald Trump, yang akan memutuskan sikapnya pekan ini.

"Kami mengharapkan bantuan Eropa. Dan sejauh ini, sinyalnya memang positif," demikian dikatakan Wakil Presiden Iran, Ali Akbar Salehi, yang juga menjadi kepala Organisasi Energi Atom Iran. Pernyataannya disampaikan kantor berita IRNA.

Ketika berbicara di depan Sidang PBB September lalu, Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan nuklir dengan Iran sebagai kesepakatan paling buruk yang pernah dikenalnya. Baca juga: Pidato Trump di PBB Menyasar Korea Utara dan Iran

Pekan lalu, ia mengatakan, Iran meneruskan ambisi untuk punya senjata nuklir, dan tidak mematuhi persyaratan bagi kelangsungan kesepakatan. 

Bagi banyak pengamat di Iran, reaksi dari para mitra negosiasi Iran, yaitu Cina, Jerman, Perancis, Inggris dan Rusia, lebih penting daripada pernyataan yang akan disampaikan Trump mengenai ke keikutsertaan AS dalam kesepakatan nuklir yang tercapai tahun 2015, kala Barack Obama jadi presiden AS.

Minggu 15 Oktober, akan dipublikasikan laporan, apakah Iran mematuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam kesepakatan. Trump diperkirakan akan mengumumkan keputusannya sebelum hari Minggu.

Dalam pembicaraan telepon dengan Trump hari Minggu (8/10), Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan, Inggris punya komitmen kuat dengan kesepakatan itu, bersama mitra-mitra Eropa-nya. May juga menekankan, kesepakatan nuklir itu penting untuk keamanan regional.

Sejauh ini, selain mitra-mitra AS di Eropa, bahkan pejabat senior AS dan anggota senior di parlemen sudah mengatakan kepada Trump bahwa menolak kesepakatan akan menyebabkan terisolasinya AS dan bisa jadi, menyebabkan batalnya kesepakatan sepenuhnya.

Rabu (11/10), Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan, "berpegang teguh pada perjanjian yang sudah disepakati menunjukkan harga diri sebuah negara, dan sejauh mana pemerintahannya bisa dipercaya."

ml/vlz (rtr, dpa)

 

Laporan Pilihan