1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

IOC Hukum India akibat Campur Tangan Politik dalam Olahlaga

Andreas Sten-Ziemons5 Desember 2012

IOC mengeluarkan Komite Olimpiade Nasional India IOA dari segala pertemuan maupun ajang Olimpiade. India ingin mempertahankan seorang pejabat korup di IOA sehingga dianggap melanggar Piagam Olimpiade.

https://p.dw.com/p/16w12
Foto: picture-alliance/dpa

Sejak lama Komite Olimpiade Nasional India IOA dianggap sebagai duri dalam daging oleh Komite Olimpiade Internasional IOC. Tampaknya kini kesabaran IOC telah habis: Setelah sidang pada hari Rabu (05/12/12) di Lausanne, Swiss, Dewan Eksekutif IOC mengumumkan bahwa IOA dikeluarkan dengan segera. Alasannya: campur tangan besar politik dalam aktivitas IOA. Lebih tepatnya, IOA menolak untuk melakukan pemilihan kepemimpinan, Rabu (05/12/12), sesuai dengan Piagam Olimpiade. Piagam Olimpiade yang terdiri dari lima bab dan 61 pasal merupakan aturan IOC yang harus ditaati oleh seluruh anggota. Dalam piagam ini antara lain tercantum fungsi IOC, harapan dari penyelenggaraan Olimpiade dan juga siapa saja yang dapat menjadi anggota IOC, atau kapan satu anggota dapat dikeluarkan.

Kandidat Bermasalah

Dalam Bab 2, pasal 3.8 disebutkan: “Satu anggota IOC dapat dikeluarkan, jika anggota tersebut melanggar sumpah atau jika anggota lalai atau dengan sengaja membahayakan kepentingan IOC atau menunjukkan perilaku yang tidak layak menurut IOC.” Selanjutnya: “Satu anggota yang dikeluarkan oleh IOC tidak dapat menjadi anggota Komite Olimpiade Nasional NOC, asosiasi NOC atau Komite Olimpiade.”

epa02597897 (FILE) A file picture dated 05 August 2010 shows Commonwealth Games Delhi 2010 Organizing Committee Secretary Lalit Bhanot speaking during a press conference in New Delhi, India. Two top officials of the committee responsible for organizing the 2010 Commonwealth Games in New Delhi were arrested on 23 February 2011 in connection with irregularities in awarding a contract for equipment to a Swiss firm, a spokesman for India's federal investigation agency said. Lalit Bhanot and VK Varma were responsible for organizing the games along with the organizing committee's former chairman Suresh Kalmadi. They were arrested by India's Central Bureau of Investigation (CBI). EPA/ANINDITO MUKHERJEE *** Local Caption *** 00000402274253 +++(c) dpa - Bildfunk+++
Lalit Bhanot Commonweathspiele Delhi 2010Foto: picture-alliance/dpa

Dan inilah masalahnya: karena satu-satunya kandidat untuk jabatan sekretaris jenderal IOA adalah Lalit Bhanot. Memang ia tidak dikeluarkan secara resmi oleh IOA. Namun karena tuduhan korupsi terkait dengan Commonwealth Games 2010 di New Delhi, Lalit Bhanot harus mendekam selama 11 bulan di penjara. Saat ini, Lalit Bhanot telah bebas kembali. Dan meskipun pelanggaran hukum yang telah dilakukannya, Komite Olimpiade Nasional India IOA tetap mencalonkannya sebagai kandidat. Satu pengadilan di Delhi bahkan memerintahkan, IOA harus menggelar pemilihan sesuai dengan undang-undang pemerintahan India.

“Keputusan pengeluaran ini benar-benar memukul kami,” dikatakan presiden terpilih IOA Abhay Singh Chautala. ”Tapi keputusan tersebut salah dan hanya sepihak.“ IOC telah mendapatkan penjelasan mengenai situasi dan rincian pemilihan. Pejabat presiden IOA telah menulis surat kepada IOC, namun tidak mendapatkan jawaban, dikatakan Abhay Singh Chautala.

Suspensi IOC ini berdampak besar bagi olahraga India. Mulai sekarang, dari IOC India tidak menerima subsidi lagi untuk pengembangan olahraga. Selain itu, pejabat olahraga India tidak dapat lagi menghadiri pertemuan IOC. Para atlet India tidak diperbolehkan tampil dengan membawa bendera India di ajang internasional. Suspensi IOC ini mungkin bisa ditarik jika IOA tidak bersikeras mencalonkan Lalit Bhanot atau jika Lalit Bhanot secara sukarela mengundurkan diri sebagai kandidat sekjen IOA.

Lepas dari Hukuman IOC

IOC telah sering memberikan suspensi kepada anggota karena campur tangan politik dalam olahraga. Terakhir, pada awal tahun 2012, Komite Olimpiade Nasional Kuwait dicekal IOC. Baru sesaat sebelum Olimpiade London 2012 dimulai, IOC mencabut kembali hukuman bagi Kuwait.

Kasus Lalit Bhanot bukanlah kasus pertama di India yang menyebabkan ketidaksenangan IOC. Suresh Kalmadi, yang sekian tahun menjabat presiden IOA, ditahan pada bulan April 2011 dengan tuduhan penipuan dan mendekam selama 9 bulan di penjara. Setelah masa hukumannya berakhir, Suresh Kalmadi menginginkan untuk kembali dipilih. Namun usaha Kalmadi untuk kembali baru dapat dihentikan setelah dilakukannya serangkaian pembicaraan dan pertimbangan kemungkinan konsekuensi yang harus dihadapi IOA.

Namun, IOC dianggap tidak selalu konsekuen dalam memberantas pejabat olahraga yang korup. Misalnya, penyelidikan terhadap anggota IOC asal Brasil dan mantan presiden FIFA, Joao Havelange, dihentikan setelah ia mengundurkan diri. Havelange dituduh terlibat skandal suap sehubungan dengan hak pemasaran olahraga, menerima uang suap sekitar 1,2 juta Euro. Presiden IOC Jacques Rogge menyebutnya sebagai “spekulasi murni“ bahwa terdapat kaitan antara pengunduran diri Havelange dan pengentian penyelidkan terhadapnya.

Dalam skandal suap yang melibatkan Havalange ini, dua pejabat olahraga Afrika juga hanya mendapatkan hukuman ringan: Ketua Konfederasi Sepak Bola Afrika Issa Hayatou hanya mendapat teguran dan Presiden Aosisasi Internasional Federasi Atletiik Lamine Diack hanya mendapatkan peringatan. Dan keduanya tetap merupakan anggota IOC.