1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Invasi Irak 2003 Berperan Bangkitkan ISIS

Mantan PM Inggris Blair akui invasi Irak pada 2003 berkontribusi pada bangkitnya ISIS. Vakumnya keamanan setelah Saddam Hussein tumbang, jadi dorongan bagi bangkitnya kelompok militan.

Keputusan Tony Blair saat menjabat sebagai perdana Inggris Inggris mengirimkan pasukan pada 2003 mendukung invasi Irak yang dipimpin Amerika Serikat untuk menumbangkan rezim Saddam Hussein, hingga kini jadi isu politik yang hidup di Inggris. Dalam sebuah wawancara, Blair mengakui bahwa invasi Irak pada 2003 itu berkontribusi pada bangkitnya ISIS.

Walau meminta maaf atas sejumlah kesalahan rencana dan intelejen pemicu perang Irak, namun Blair juga menegaskan, operasi menjatuhkan rezim Saddam Hussein merupakan tindakan tepat. Saddam Hussein tertangkap di tempat persembunyianya, diadili tanpa kehadiran pengawas internasional, divonis mati dan akhirnya dieksekusi.

Ditanya apakah invasi itu menjadi penyebab utama bangkitnya Islamic State-ISIS, Blair menjawab diplomatis : "ada elemen realita di sana. Tentu saja Anmda tidak bisa mengatakan, bahwa para pihak yang menjatuhkan Saddam Hussein pada 2003 tidak punya tenggung jawab untuk situasi 2015."

US-Abzug aus dem Irak

Saddam Husssein ditangkap lalu divonis hukuman mati dan tentara Irak praktis bubar

Para pengritik menyebutkan, keputusan George W. Bush, presiden Amerika Serikat ketika itu, yang terutama didukung Tony Blair yang saat itu memangku jabatan PM Inggris, untuk membibarkan tentara Irak yang setia kepada Saddam Hussein bertanggung jawab atas bangkitnya ISIS. Kevakuman aparat keamanan mula-mula membuat Al Qaeda kuat. Tapi kemudian kelompok ini didesak ISIS yang kini menguasai wilayah sangat luas di Irak dan Suriah.

Tonton video 01:28

Cikal bakal gerakan ISIS disebutkan adalah sejumlah perwira militer Irak dari mazhab Sunni yang dimarjinalisasi oleh penguasa baru dari kaum Syiah yang "dibacking" kekuatan Barat. Blair juga mengatakan, gerakan yang dijuluki "musim semi" Arab yang dimulai 2011 memainkan peranan besar bagi maraknya kekuatan militan di kawasan Irak dan Suriah yang dicabik perang. Politik sektarian yang dijalankan pemerintah Syiah di Irak juga jadi faktor tambahan yang memicu destabilisasi.

as/yf (rtr,afp,ap, twitter)

Laporan Pilihan