1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Intoleransi Warga Eropa Meningkat

Sikap memusuhi orang asing, intolerasi dan prasangka buruk terhadap minoritas, menyebar luas di Eropa. Demikian hasil studi terbaru Yayasan Freidrich Ebert Stiftung melalui jajak pendapat di delapan negara Eropa.

default

Gambar simbol warga pendatang di Jerman

Di Eropa banyak orang merasa terancam oleh para pendatang, kaum imigran. Ini hasil studi yang dilakukan Universitas Bielefeld tentang "mentalitas anti-demokrasi". Separuh dari jumlah total responden, di banyak negara Eropa, berpendapat bahwa terlalu banyak imigran di negara mereka dan karena itu di masa krisis warga asli harus didahulukan dalam hal pekerjaan. Terutama imigran Muslim, tidak disukai.

Profesor Andreas Zick dan timnya dari Universitas Bielefeld meneliti sikap prasangka buruk serta anti-toleransi terhadap kelompok masyarakat minoritas di Eropa. Ia mengatakan, "Kami menemukan, sikap antipati terhadap warga Muslim telah meluas di Eropa. Dan ada bentuk baru anti-semitisme, namun masih tersembunyi. Tetapi, kami juga menemukan adanya peningkatan diskriminasi berdasarkan perbedaan jenis kelamin di sejumlah negara Eropa. Secara keseluruhan, Eropa memiliki masalah terkait prasangka buruk terhadap masyarakat minoritas."

Para peneliti melakukan jajak pendapat akhir 2008 lewat telepon, kepada masing-masing 1000 warga di delapan negara Eropa, yaitu Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Italia, Portugal, Polandia dan Hungaria.

Hasil jajak pendapat menunjukkan, di negara-engara ini juga ada pandangan yang menyebar luas bahwa Islam adalah agama yang tidak mengenal toleransi, dan warga Yahudi memanfaatkan posisinya sebagai korban Nazi, pada Perang Dunia II.

Namun secara khusus, bobotnya di setiap negara berbeda-beda. Misalnya di Hungaria, 70 % responden berpendapat, pengaruh warga Yahudi di negaranya terlalu besar. Sementara di Belanda hanya 6%.

Di Jerman terkait sikap anti-toleransi terhadap masyarakat minoritas, hasilnya dapat dinilai 'cukup baik', tutur Profesor Andreas Zick. "Namun kami juga harus mengatakan dengan sangat jelas bahwa sikap antipati terhadap Islam meningkat tajam di Jerman. Terutama jika menyangkut, bagaimana menerapkan Islam dalam budaya Jerman. Di sini hasil yang kami peroleh untuk Jerman kurang memuaskan. Apalagi terkait sikap anti-semitisme modern. Responden Jerman berprasangka buruk pada warga Yahudi, tetapi kemudian menganggapnya sebagai kesalahan politik pemerintah Israel."

Hanya 17 persen responden Jerman berpendapat, bahwa budaya Islam cocok dengan negeri mereka. Responden yang berpendapat demikian lebih banyak jumlahnya di Perancis, Inggris dan Portugal. Secara keseluruhan, kebanyakan warga Eropa merasa jumlah migran di negaranya terlampau besar.

Tetapi, budaya yang dibawa oleh pendatang ini dinilai memperkaya keragaman budaya. Hampir separuh responden di Inggris merasa seperti orang asing di negerinya sendiri, akibat banyaknya kaum pendatang. Namun lebih dari 70% responden di Inggris menjawab 'ya' untuk pertanyaan, apakah pendatang memperkaya ranah budaya negeri mereka.

Studi yang dilakukan tim dari Universitas BIelefeld juga membuktikan watak rasis, ketika 1/3 responden berpendapat, ada hirarki alami antara warga kulit putih dan hitam. Ini merupakan inti pandangan kanan keras atau ekstrim kanan, kata para peneliti. Mereka menilainya sebagai hal yang mengkuatirkan, bahwa mayoritas responden di semua negara memiliki kesan bahwa para politisi tidak memahami rakyatnya. Perasaan tidak berdaya secara politik seringkali diiringi harapan akan figur pemimpin yang kuat.

Selain itu, mayoritas responden juga memiliki pandangan seksis, bahwa jenis kelamin yang satu lebih tinggi daripada yang lain. Mereka menuntut perempuan harus bersungguh-sungguh menjalankan peran sebagai istri dan ibu dan dengan begitu menerapkan pembagian peran tradisional antara pria dan wanita.

Anggapan bahwa intoleransi bertambah seiring usia, tidak sepenuhnya dikukuhkan oleh hasil studi. Remaja sekalipun mudah terpengaruh untuk berprasangka buruk, kata pakar sosial Andreas Zick. "Kita lihat di Jerman dan Italia misalnya, kelompok usia 16 - 21 tahun sangat mudah mengeluarkan pendapat negatif. Tampaknya, orang yang berada pada fase tertentu, dalam mencari posisi di masyarakat atau peran sosial baru, mereka mencari kambing hitam dan menimpakan masalah sosial kepada kelompok lain."

Para peneliti menyerukan agar hasil studi tentang meningkatnya intoleransi warga Eropa, ditanggapi dengan serius, karena kecenderungan ini membahayakan demokrasi di Eropa.

Bernd Gräßler/Andriani Nangoy

Editor: Renata Permadi