1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Internasional Lamban Tanggapi Krisis di Libya

17 Maret 2011

Seluruh anggota PBB bertindak terlalu lamban menanggapi krisis di Libya. Terutama Eropa tidak bersedia mengganggu penguasa Libya, Muammar al Gaddafi.

https://p.dw.com/p/10b7V
Pertempuran antara kelompok anti dan tentara pro-Gaddafi terus berlanjut.Foto: dapd

Sikap masyarakat internasional yang berpangku tangan melihat krisis di Libya serta dampak kecelakaan atom di Jepang menjadi tema komentar dalam tajuk harian internasional.

Harian liberal kiri Inggris Independent dalam tajuknya berkomentar : Setiap organisasi internasional, termasuk PBB dan Dewan Keamanannya, hanya dapat menjadi bagus, tergantung dari bagaimana suara anggotanya. Akan tetapi, susah payahnya mencapai sebuah kesepakatan, menunjukkan dukungan pada sikap berpangku tangan dan menegaskan kesan sebuah institusi yang tidak berdaya. Di Libya peristiwanya berubah menjadi menentang oposisi. Uni Eropa, NATO dan G-8 walaupun melakukan berbagai upaya, tidak berhasil mencapai kesepakatan. PBB hanya menetapkan embargo senjata, membekukan asset Gaddafi di luar negeri dan mengajukan kasusnya ke mahkamah pidana internasional. Masyarakat internasional sebetulnya dapat dan harus berbuat lebih banyak lagi.

Harian konservatif Perancis Le Figaro juga menulis komentar senada : Impian sebuah Libya yang terbebaskan, dalam sekejap dapat berubah menjadi sebuah mimpi buruk, jika tidak dilakukan tindakan untuk menghentikan Gaddafi. Sejak hampir sebulan ini, seluruh dunia menuntut penguasa tiran itu agar lengser. Akan tetapi tidak ada yang melakukan tindakan nyata. Amerika ragu-ragu, Eropa juga lumpuh. Ke 27 negara anggota Uni Eropa berkumpul dan menyimpulkan, bahwa mereka tidak memiliki kemampuan, untuk bereaksi menanggapi permohonan dan harapan di depan pintu rumahnya. Ketimbang seperti kesurupan menimbang bahaya dari sebuah intervensi, seharusnya Uni Eropa lebih banyak memperhitungkan akibat dari sikap berpangku tangannya. Dengan menimbang pada serangan teror, meningkatnya imigran ilegal dan kehilangan pengaruh Eropa. Kini masih ada waktu untuk bertindak, sebelum semuanya terlambat.

Harian liberal kiri Italia La Repubblica berkomentar : Eropa tidak ingin mengganggu diktator Libya, Muammar al Gaddafi. Jika Benghazi sudah direbut kembali oleh Gaddafi, maka masyarakat internasional akan mengeluh, kini sudah terlambat untuk melancarkan intervensi. Dengan mengangkat bahu, masyarakat internasional akan menambahkan, bahwa para pemberontak hanya membual dengan citra dan wibawanya, dan dapat dikalahkan oleh sejumlah serangan pemboman. Hanya saja, masalahnya kini bukan citra militer dari pemberontak. Melainkan mengenai nasib warga sipil, yang diserahkan begitu saja kepada penguasa lalim.

Tema lainnya yang masih dikomentari dalam tajuk harian internasional adalah dampak dari bencana atom di Jepang. Harian independen Perancis Le Monde berkomentar : Juga dengan berusaha keras menunjukkan kejujuran dan transparansi, di masa depan kelihatannya akan semakin sulit meyakinkan umat manusia terhadap sumber energi nuklir, yang menyembunyikan risiko kematian, juga jika hal itu meringankan ancaman mengerikan dari efek gas rumah kaca. Diperlukan waktu 20 tahun, hingga mimpi buruk dari bencana atom Chernobyl dapat dilupakan. Akan tetapi, semua negara pendukung kelahiran kembali energi nuklir, dalam 10 tahun terakhir ini mencemaskan terjadinya bencana atom hebat, yang dapat kembali menenggelamkan industri energi nuklir ke dalam tidur panjang. Drama di Fukushima kini memaksa para pengusaha atom Perancis, untuk memikirkan kembali hal-hal yang tidak terbayangkan.

Agus Setiawan/dpa/afp

Editor : Dyan Kostermans