1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Insiden Libatkan Militer Jarang Terungkap Tuntas

NATO berjanji untuk menyelidiki pembantaian di Kandahar. Namun seperti di masa lalu, penyeldikan semacam itu sering tidak memadai, kecam Amnesty International.

Apa yang sebenarnya terjadi di Kandahar? Yang sudah jelas adalah, di tiga desa di selatan Kandahar, 17 warga sipil tewas, termasuk sedikitnya sembilan anak kecil dan tiga perempuan. Menurut laporan, aksi pembataian di hari Minggu pagi (11/03) ini dilakukan oleh Robert Bales. Tentara berusia 38 tahun ini kini sudah ditahan di Amerika Serikat dan harus mempertangungjawabkan perbuatannya di pengadilan militer AS.

Robert Bales

Tersangka pelaku pembantaian di Kandahar Robert Bales (kiri)

Sementara Parlemen Afghanistan menuduh pembantian ini bukan merupakan aksi pelaku tunggal. “Semua warga desa yang berbicara dengan kami, mengatakan, ada 15 sampai 20 orang,” dikatakan Nahim Lalai Hamidsai, salah seorang anggota komisi penyelidik di Parlemen, hari Minggu (18/03) kepada wakil media. Selain itu, penduduk desa yang dekat dari lokasi kejadian mengatakan kepada kantor berita AP, beberapa hari sebelum kejadian, sekelompok serdadu AS mengancam bahwa warga desa harus ‘membayar' atas satu serangan bom.

“Kami memeriksa semua tuduhan dengan serius. Dan kami sudah meminta, siapa saja yang mempunyai tuduhan, untuk menyampaikannya kepada kami dan kami akan menyelidikinya,“ dikatan Jimmie Cummings, juru bicara pasukan AS dan ISAF. “Saat ini masih sedang dilakukan penyelidikan. Semua petunjuk yang ada mengarah pada pelaku tunggal.“

Hasil Penyelidikan Berbeda

Sam Zarifi

Sam Zarifi dari Amnesty IInternational

Bagi organisasi hak asasi manusia Amnesty International (AI) sudah jelas, sumber resmi mana yang dapat diandalkan: tidak ada! “Dalam beberapa kasus lain, penyelidikan yang dilakukan pemerintah Afghanistan menyebutkan jumlah korban sipil secara berlebihan. Dan dalam beberapa penyelidikannya, ISAF menyebutkan jumlah korban yang lebih sedikit,“ dikatakan Sam Zarifi, pakar Afghanistan dari AI. Pernyataan AI ini juga didasari laporan-laporan yang telah dikeluarkan sebelumnya. Sejak lima tahun, menurut laporan PBB, jumlah korban sipil terus meningkat. Tahun 2007, sekitar 1.500 warga sipil tewas, sementara tahun 2011 jumlahnya menjadi dua kali lipat. Menurut PBB, kelompok pemberontak seperti Taliban bertanggungjawab atas 77 persen korban tewas.

Pembantaian di Kandahar bukanlah insiden pertama yang melibatkan serdadu NATO di Afghanistan. Pada bulan November 2011, pemimpin kelompok yang dikenal Kill Teams divonis penjara seumur hidup. Ia bersama empat tentara AS lainnya membunuh warga sipil dan memutilasi mayat korban. Menurut laporan, jika berkelakuan baik, ia kemungkinan sudah dapat menghirup udara bebas setelah menyelesaikan hukuman selama 8,5 tahun.

Operasi Rutin yang Mematikan

Kekejaman seperti itu merupakan pengecualian, dikatakan pakar politik Amerika John Tirman. “Banyak orang tewas dalam apa yang disebut operasi rutin, seperti penggeladahan rumah, pemeriksaan di jalan atau serangan udara.“ Baik pasukan internasional ISAF maupun militer Afghanistan terus berusaha untuk menghindari ini. Menurut PBB, tahun 2008, 838 orang tewas dalam operasi rutin militer dan tahun 2011 operasi ini memakan 207 korban tewas di pihak sipil.

Namun di mana batas antara aksi pembantaian yang kejam dan operasi rutin? Perang memang selalu memakan korban. “Jika Anda menyerang sasaran militer, pada prinsipnya ini tidak dilarang, bahwa Anda membahayakan atau menewaskan warga sipil,“ dikatakan Silja Vöneky, ahli hukum internasional di Universitas Freiburg. “Serangan dilarang, jika ini menyebabkan kerusakan kolateral di pihak sipil jauh lebih berat dari keuntungan militer.“ Satu masalah yang rumit, karena satu keuntungan militer harus ditimbang dengan kehidupan manusia.

Tanklaster in Kundus

Serangan udara di Kunduz yang menewaskan ratusan warga sipil

Betapa sulitnya pertimbangan seperti ini bisa dilihat dari satu insiden di Kunduz, yang melibatkan tentara Jerman Bundeswehr di Afghanistan. September 2009, ketika Taliban membajak dua truk tanki, komandan kamp tentara Jerman yang berjarak 15 kilometer dari lokasi kejadian, mengkhawatirkan bahwa kedua truk tersebut akan digunakan Taliban untuk menyerang. Komandan Bundeswehr tersebut memerintahkan pesawat AS untuk menembak kedua truk tanki ini. Pada saat tersebut, truk terjebak di sebuah sungai, dikelilingi masyarakat setempat, yang berharap dapat memperoleh bensin. 142 orang tewas, namun jumlah pasti masih diperdebatkan.

Kelalaian yang Kasar?

Menurut hukum perang internasional, kedua truk tanki tersebut merupakan sasaran militer yang dibenarkan, dikatak Silja Vöneky. “Pertanyaannya adalah, apakah sang komandan telah mempertimbangkan kemungkinan kerugian di pihak sipil yang jauh lebih banyak dari keuntungan militer yang akan didapatkan. Dalam insiden ini, kita harus menganggap bahwa ia tidak memperkirakan banyaknya warga sipil di lokasi.“

Pakar hak sipil di Universitas Bremen, Peter Derleder, menilai, sang komandan tidak bertindak secara sengaja. “Namun melakukan kelalaian kasar,“ dikatakan Derleder. Berdasarkan penilaiannya ini, Derleder bersama dengan seorang pengacara lain menggugat pemerintah Jerman untuk membayar ganti rugi sebesar 100.000 Euro kepada dua keluarga korban. Namun proses gugatan pengadilan ini kemungkinan dapat berlangsung tahunan.

Tidak Mau atau Tidak Mampu

Afghanistan Hubschrauber

Tentara Jerman Bundeswehr di Faisabad

Penyeldikikan insiden di Kunduz yang melibatkan tentara Jerman dianggap digelar relatif baik. Namun secara keseluruhan, Amnesty International mengecam, negara-negara yang terlibat dalam insiden ini, tidak menarik satu konsekuensi atas tewasnya warga sipil. “Baik pengadilan Afghanistan maupun pemerintahan negara-negara yang memiliki kontingen di ISAF tidak menunjukkan satu keinginan atau tidak mampu untuk menyelidiki lebih jauh siapa yang bertanggungjawab dan juga untuk memberikan ganti rugi kepada keluarga korban,“ demikian tertulis dalam laporan Amnesty International tahun 2011.

Pakar politik Tirman menuduh militer AS menutup-nutupi insiden secara sistematis, “Biasanya pihak militer mengatakan, bahwa operasi hanya menewaskan pemberontak dan jarang mengakui jika ada warga sipil yang turut tewas.“

Sam Zarifi dari Amnesty International menyanggah pendapat ini. Hal seperti ini tidak mudah dilakukan di Afghanistan, dikatakan Zarifi. “Dalam beberapa batasan tertentu ini sulit dilakukan, karena di mana NATO bertugas selalu ada media dan juga karena Taliban menginginkan insiden semacam ini dapat disebarluaskan.“ Namun bagaimanapun sebagain besar insiden yang telah terjadi di Afghanistan tidak diselidiki sampai tuntas. Zarifi menyebut satu contoh tewasnya dua bersaudara pada tahun 2007 di selatan Afghansitan akibat tembakan pasukan khusus. “Kami dan juga PBB telah mengangkat tema ini. Namun setelah lima tahun, sama sekali tidak ada pertanggungjawaban, dalam bentuk apapun.“

Dennis Stute/Yuniman Farid

Editor: Andy Budiman

Laporan Pilihan