1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Pendidikan

Inisiatif Dalam Studi Sangat Penting

Janine Albrecht21 September 2013

Sejak diberlakukan program Bachelor, studi di Jerman menjadi lebih singkat dan intensif. Ini sering membuat mahasiswa asing kelabakan.

https://p.dw.com/p/19k7m
Jonida Cangonja und Migena Kodra Studentinnen Uni Bonn, June 2013 Copyright: DW/Amarildo Topi
Jonida Cangonja dan Migena Kodra, mahasiswa di BonnFoto: DW/A. Topi

Secarik kertas berukuran Din-A-4 dengan tulisan: „Ujian Lisan – Mohon Tidak Menganggu“ menempel di pintu merah. Di balik pintu itu Tanja Kupisch sedang menguji mahasiswa jurusan bahasa Italia . Sejak tiga tahun Kupisch menyandang jabatan sebagai profesor muda di Institut Bahasa Eropa Selatan di Universitas Hamburg.

Ujiannya tidak berlangsung baik, Kupisch terpaksa memberikan nilai buruk. "Saya ikut merasakan apa yang sedang dialama mahasiswa saya jika hasilnya tidak bagus“, tutur Kupisch. Tetapi menurutnya, mahasiswa harus bisa belajar sendiri. „Kami para dosen menyampaikan bahan perkuliahan, tetapi mahasiswa juga harus belajar.“

Dosen berusia 37 tahun ini mencoba membantu mahasiswanya. Ia mengatakan, bahwa pintunya selalu terbuka.

Bekerja mandiri merupakan persyaratan

Mahasiswa Jerman sangat mandiri dan terbiasa untuk mengorganisir diri dengan urusan di universitas. Bahan perkuliahan dan daftar mata kuliah disusun mereka sendiri dan jika ingin bertemu dengan profesor, mereka yang mengambil inisiatif.

Mahasiswi Brasil Damares Zimmermann mengatakan, kuliah di Brasil dan Jerman dangat berbeda. Di Brasil ia kuliah di sebuah univeristas swasta. „Di sana bimbingannya jauh lebih banyak daripada di sini“, ungkap Zimmermann. Ia menceritakan, para profesor bahkan menjelaskan cara memperoleh buku atau di mana tempat mesin foto kopi. Di Jerman, ia membutuhkan satu semester untuk mengenal universitasnya. Kebutuhan mahasiswa asing untuk konsultasi dengan dosen lebih besar dibandingkan dengan mahasiswa Jerman. Ini juga ditegaskan oleh profesor ekonomi Thomas Eger. Ia adalah kepala „Institute of Law and Economics“ di Universitas Hamburg dan mahasiswanya berasal dari 40 manca negara.

Setiap mahasiswa asing membawa kebiasan belajar dari tanah airnya, tuturnya. „Yang mengejutkan saya adalah baik mahasiswa India maupun Israel senang sekali beragumentasi. Mereka tidak percaya begitu saja dengan apa yang disampaikan oleh dosen dan semua dipertanyakan. Berbeda dengan mahasiswa Cina. Mereka sangat rajin dan tidak banyak bertanya“, papar Eger.

Thomas Eger telah mengajar di berbagai universitas di seluruh dunia. Namun ada satu perbedaan antara mahasiswa Jerman dan internasional yang mencolok baginya, "beberapa lulusan luar negeri belum pernah menulis satu makalah pun“, tutur Eger.

Untuk program master "Law and Economics" mahasiswa wajib membayar SPP (Sumbangan Pembangunan Pendidikan) yang cukup tinggi. Mahasiswa Eropa harus membayar 4.500 Euro setiap semester, sementara mahasiswa dari luar Eropa dikenai biaya 8.500 Euro.

Bahasa Jerman adalah halangan paling besar

Banyak mahasiswa kesulitan dalam mengatur perkuliahannya, jelas Esther Kaufmann. Ia menyelenggarakan loka karya bagi mahasiswa untuk memberikan saran-saran penting terkait kuliah. Loka karya tersebut, yang dinamakan Piasta-Programm, digelar oleh departemen di Universitas Hamburg yang mengurusi hal-hal internasional. Program ini memberikan bantuan bagi mahasiswa Jerman maupun internasional untuk melewati keseharian dan tuntutan studi. Misalnya „Bagaimana mendapat bahan kuliah? Bagaimana cara menggunakan mesin fotokopi? Bagaimana cara meminjam buku di perpustakaan?“, demikian pertanyaan yang sering dilontarkan mahasiswa baru. Dikatakan juga, bahwa bahasa Jerman sering menjadi kendala.

Mahasiswi ekonomi Damares Zimmermann asal Brasil itu menceritakan, bahwa di awal studi bahasa Jerman merupakan masalah besar baginya. Semua bahan perkuliahannya terpaksa diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis terlebih dahulu, baru ia dapat mempelajarinya.

Sejak diberlakukan program Bachelor di universitas Jerman, bahan kuliah yang harus dipelajari semakin banyak. „Saya melihat, bahan-bahannya banyak sekali“, tutur profesor muda Kupisch. Kalau ia membandingkan studinya di jurusan bahasa Eropa Selatan dulu dengan sekarang, ia berkesimpulan, „mahasiswa sekarang lulus dari universitas dalam hanya tiga tahun, dulu kita membutuhkan lima tahun.“

Angka tinggi mahasiswa asing yang putus studi

Setiap semester Damares Zimmermann dan temannya Anastassia Oberländer selalu merasakan ada tekanan ujian yang sangat berat. „Suatu saat saya memahami, bahwa saya harus menginvestasi waktu yang banyak untuk belajar“, papar Anastassia Oberländer. Ia selalu lulus ujian, tanpa harus mengulang satupun. Yang paling membantunya adalah kelompok belajar dengan rekan-rekan studinya, ungkapnya.

Berbeda dengan mahasiswi ekonomi Damares Zimmermann asal Brasil itu, ia tidak pernah bergabung dengan kelompok belajar. Ia takut menggangu rekan-rekannya dari Jerman, karena ia bermasalah dengan bahasa Jerman. „Ada momen dimana saya frustrasi dan sedih, karena tidak lulus ujian. Saya menangis terus.“ Ia sempat frustrasi dan terlintas di pikirannya untuk putus kuliah.

Situasi ini sering dialami mahasiswa asing. Menurut perkiraan Pusat Informasi Perguruan Tinggi, Hochschul-Information-System (HIS), setengah jumlah mahasiswa asing di Jerman tidak menamatkan studinya.

Namun Damares Zimmermann berhasil menyelesaikan kuliahnya lebih cepat daripada temannya Anastassia Oberländer. Damares Zimmermann sudah menyerahkan skripsinya. Kini ia bisa santai, berjalan-jalan di pinggir danau atau berpesta sampai jam lima pagi. Ini yang pertama kali setelah studi dua tahun. „Perasaan yang menyenangkan!“