1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Inggris Deportasi Pendakwah Radikal

Abu Qatada, terduga tokoh senior Al-Qaeda Minggu pagi dideportasi ke Yordania. Di sana ia menghadapi pengadilan sehubungan sejumlah aksi terror.

Pemerintah Inggris akhirnya berhasil. Abu Qatada diterbangkan ke Yordania, setelah sebuah konvoi kepolisian menjemputnya dari penjara Belmarsh di London. Upaya mendeportasi pendakwah radikal ini sudah berlangsung lebih 10 tahun dan sempat membuat jengah pemerintah Inggris.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, “Itu isu yang membuat darah mendidih, bahwa ada seorang yang tidak berhak berada di Negara kita, yang merupakan ancaman bagi kita, begitu sulit dan butuh waktu begitu lama untuk mendeportasinya. Begitu Cameron menyambut perkembangan ini.

Ratifikasi Kesepakatan Anti Penyiksaan

Pemulangan Qatada ke Yordania menyusul ratifikasi kesepakatan mengenai penyiksaan oleh Inggris dan Yordania yang antara lain, melarang pengumpulan informasi melalui penyiksaan.

Sebelumnya proses deportasi Abu Qatada kerap terjegal persoalan hak azasi manusia. Abu Qatada, warga Yordania keturunan Palestina, selama bertahun-tahun berhasil melawan upaya untuk mendeportasinya, dengan menyampaikan kekhawatiran bahwa bukti yang dihimpun melalui penyiksaan akan digunakan untuk menjeratnya.

Abu Qatada, bernama asli Omar Mahmoud Mohammed Othman dicari oleh Pengadilan Yordania, yang pada awal 2000-an telah menjatuhkan hukuman in absentia terhadapnya.

Tuduhan Inggris

Di Inggris, Qatada dituduh memiliki hubungan dengan Zacarias Moussaoui, satu-satunya orang yang dihukum terkait serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat dan Richard Reid, teroris Islamis Inggris yang dikenal sebagai “tukang bom sepatu”. Sejumlah rekaman dakwahnya, juga ditemukan di Hamburg, Jerman, dalam apartemen yang digunakan oleh pelaku-pelaku aksi terror 11 September.

Inggris pertama kali berusaha mendeportasi Abu Qatada pada 2001, kemudian 2002 menahannya dengan merujuk undang-undang anti terorisme yang mengizinkan pemenjaraan tersangka teroris.

Tahun 2005 Undang-undang yang tidak popular itu dicabut di Inggris dan Abu Qatada kembali bebas. Namun pemerintah Inggris tetap mengawasinya dan menahannya dengan berbagai alasan lain. Terakhir ia ditahan di penjara Belmarsch karena Maret lalu melanggar persyaratan jaminan bebasnya, di mana penggunaan telefon genggam dan alat-alat komunikasi dibatasi.

Sementara Abu Qatada mengaku, ia kembali ke Yordania atas kemauan sendiri, karena ingin menemui dengan keluarganya.

ek/ab/rtr/afp

Laporan Pilihan