1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

231110 Weltaidsbericht HIV

25 November 2010

Mungkin masih terlampau dini untuk menyebutnya sebagai terobosan dalam melawan HIV/AIDS, tapi data terakhir laporan AIDS sedunia menunjukan trend perubahan arah.

https://p.dw.com/p/QHOL
Gambar simbol Hari AIDS SeduniaFoto: picture-alliance/ dpa

Tahun 2009, jumlah orang yang baru terinfeksi virus HIV mencapai 2,6 juta orang. Angka ini sangat tinggi, tapi sebenarnya angka ini merupakan isyarat positif. Begitu Bernard Schwartländer, direktur perencanaan strategis pada badan penanganan AIDS PBB, UNAIDS. "Saya kira untuk pertama kali pada hari AIDS sedunia, setelah sepuluh tahun terus memantaunya, saya bisa melaporkan bahwa perkembangan AIDS bisa dipatahkan. Untuk pertama kali dapat kita katakan bahwa jumlah orang yang terinfeksi baru menukik turun. Dalam 10 tahun terakhir turunnya sekitar 20%."

Hari AIDS sedunia jatuh pada tanggal 1 Desember. Bernard Schwartländer senang dengan adanya perbaikan itu, juga karena terindikasi bahwa penurunan juga terjadi di Afrika. Di seluruh dunia ada sekitar 33 juta orang yang mengidap penyakit AIDS. Lebih dari 60 persen atau sekitar 22 juta darinya tinggal di benua Afrika. Epidemi ini khususnya meluas di Ethiopia, Nigeria, Afrika Selatan, Zambia dan Zimbabwe.

Namun justru di kawasan sub-Sahara inilah jumlah kematian akibat AIDS di tahun 2009 menurun 320,000 orang dibandingkan angka pada tahun 2004. Menurut laporan UNAIDS, ini merupakan dampak dari gencarnya penyebaran obat-obatan anti-AIDS yang mereka lakukan, dan semakin besarnya akses masyarakat terhadap terapi AIDS.

Tapi ini tidak berarti bahwa direktur UNAIDS, Bernard Schwartländer, puas. Laporan organisasinya menunjukan bahwa AIDS masih merupakan epidemi di Afrika Selatan, dengan 5,6 juta orang yang terinfeksi virus HIV. Sementara di Swaziland yang bertetangga, jumlah orang dewasa yang tertular AIDS mencapai hampir 26%. Banyak di antara korban penyakit itu adalah perempuan, yang berarti bayi yang mereka lahirkan juga bisa sudah mengidap penyakit tersebut.

Organisasi bantuan independen “Dokter Lintas Batas” juga memperingatkan agar tetap berjaga-jaga. Masalahnya, dana global yang dipakai untuk mengatasi penyakit AIDS, TBC dan Malaria merupakan salah satu mekanisme terpenting dalam upaya ini. Tapi tampaknya negara-negara donor internasional sudah mulai enggan menyediakan dana penanggulangan AIDS. Dananya kini seret, padahal masih sedikitnya 10 juta orang yang membutuhkan perawatan untuk penyakit itu.

Tino von Schoen-Angerer dari organisasi Dokter Lintas Batas mengatakan, "Ini adalah situasi yang sangat memprihatinkan, karena kita harus siap menghadapi masa depan di mana ada segelombang orang yang akan ditolak saat membutuhkan bantuan medis dari klinik atau rumah sakit."

UNAIDS memiliki target optimal, yakni memastikan bahwa di masa depan tak ada lagi orang yang meninggal akibat penyakit AIDS. Di samping itu ditargetkan, tak satupun orang lagi yang tertular atau terinfeksi virus HIV dan bahwa para pengidap penyakit tidak didiskriminasi. Untuk mencapai target itu, dana yang dibutuhkan tak bisa terus dikurangi, karenanya UNAIDS juga mengimbau agar pemerintah-pemerintah, khususnya di kawasan sub-Sahara, meningkatkan anggaran penanganan AIDS agar tidak terlalu tergantung pada donor internasional.

Claudia Witte/afp/Edith Koesoemawiria
Editor: Christa Saloh