1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Indonesia Ingin Bangkitkan Kembali Kejayaan Rotan

Dalam Internationale Möbelmesse atau Pameran Furnitur Internasional di kota Köln, 18-23 Januari 2011, Indonesia tampil dengan paviliun rotan Indonesia, meskipun Industri rotan Indonesia saat ini tengah terpuruk.

default

Spanduk Pameran Furnitur Internasional Köln 2011

Sekitar 20 tahun lalu, furnitur rotan Indonesia terkenal di manca negara. Karakter rotan yang kuat, lentur dan eksotik dapat tampil dengan berbagai bentuk baik fungsional maupun dekoratif. Sejak dibukanya keran ekspor bahan baku rotan, industri rotan Indonesia malah sedikit demi sedikit dilupakan pasar dunia. Walaupun Indonesia penghasil rotan terbesar di dunia, namun perusahaan furnitur rotan dalam negeri mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan baku. Sekitar 40 persen perusahaan yang mengadalkan rotan bangkrut lalu tutup.

Hatta Sinatra dari Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia mengamati, derasnya bahan baku rotan yang dijual ke Vietnam dan Cina, menjadikan rotan sebagai produk masal dengan kualitas rendah, sehingga merusak citra produk rotan. Dan ironisnya pesaing terbesar Indonesia dalam industri mebel rotan saat ini adalah Vietnam dan Cina

Trend dunia terus berubah, seperti halnya mode pakaian, furnitur pun mengalami perputaran trend. Hatta Sinatra mengharapkan, kejayaan mebel rotan asal Indonesia dapat diraih kembali, dengan adanya perubahan trend dalam lima tahun ke depan. "Bila kita tidak melakukan sesuatu, saya megkhawatirkan dalam beberapa tahun ke depan industri atau barang jadi rotan ini tambah habis."

Melihat fenomena ini, Departemen Perindustrian Indonesia tidak tinggal diam. Bersama dengan Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia, tahun 2011 ini mereka mengikutsertakan 12 perusahaan dalam Internationale Möbelmesse yang tergabung dalam sebuah paviliun rotan Indonesia.

Direktur Jendral Industri Kecil dan Menengah Depertemen Perindustrian Euis Saedah mengkampanyekan rotan sebagai bahan baku alami yang ramah lingkungan. "85% dari hasil rotan ada di Indonesia. Yang kedua, rotan itu sangat ramah lingkungan. Sekarang kita sedang mencoba menggalakan segala kegiatan industri yang harus berwawasan lingkungan."

Pada pembukaan paviliun rotan Indonesia, Departemen Perindustrian mengadakan perjanjian dengan penyelenggara Köln Messe, di mana paviliun rotan Indonesia akan terus muncul dalam pemeran tersebut hingga lima tahun mendatang. Perjanjian kedua yang ditandatangani dalam kesempatan itu adalah kerjasama pertukaran ilmu pengetahuan, termasuk pertukaran dosen dan mahasiswa serta pengembangan desain dengan Fakultas Desain, Hochschule Coburg.

Saat ini di Eropa, orang sangat peduli terhadap bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Seperti yang dipaparkan pengamat trend mebel internasional dari majalah Möbelmarkt, yang mengikuti perkembangan furnitur Indonesia sejak 30 tahun, Helmut Merkel. "Saat ini ada peluang bagi furnitur rotan. Banyak orang mencari produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Anda bisa melihat trend ini di industri lain. Bila orang membeli tekstil, mereka akan memeriksa betul-betul bahan apa yang digunakan, bagaimana proses pembuatannya. Bila mereka membeli mobil, sekarang ini berapa cepat mobil bisa berlari tak lagi penting, yang pasti berapa ramah lingkungan mobil itu."

Melihat hal ini, nampaknya ini memang waktu yang tepat bagi industri rotan Indonesia untuk kembali bangkit.

Miranti Hirschmann

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan