1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

India dan Cina: Saingan atau Mitra?

Pertanyaan yang sering di dengar. Dunia barat sering menduga, mereka adalah mitra baik. Tetapi India melihat ini dengan kepala dingin.

default

Seorang perempuan di sebuah butik mahal di New Delhi. Seperti Cina, India juga merupakan kekuatan ekonomi di Asia.

Cina dan India yang maju dan dinamis menghiasi fantasi dunia barat. Kadang kedua raksasa Asia ini dianggap sebagai kekuatan dunia baru bersama yang disebut “Chindia”. Tetapi kadang juga diramalkan adanya persaingan antara kedua negara untuk merebut posisi penguasa Asia.

Kenyataannya sebenarnya tidak sedramatis itu namun kedua pandangan ada benarnya. Secara internasional pemerintah India dan Cina sering kali bekerja sama dengan erat dan berupaya bersama-sama untuk mengatasi masalah bilateral, seperti konflik terkait perbatasan kedua negara.Meski begitu, kemitraan strategis kedua negara masih kurang, walaupun, misalnya, sebenarnya software India dan hardware Cina dapat saling melengkapi. Alka Acharya, pakar hubungan India-Cina dari Universitas Jawaharlal Nehru di New Delhi, menjelaskan:

“Masih ada ketidakpercayaan yang besar antara kedua negara dan ini terletak pada alasan bersejarah. Artinya, mereka tidak akan dapat bekerja sama dengan erat. Ada rasa persaingan yang mendasar dan tidak ada yang pernah tahu, apa yang sebenarnya diinginkan pihak yang lain.“

Bagi Rajeev Anataram, pakar Cina dari pusat penelitian mengenai hubungan ekonomi internasional India, sudah jelas, bahwa India menganggap Cina sebagai saingan: “Ini tidak dapat dipungkiri. Mereka juga melihat kita sebagai saingan, terserah apa yang mereka katakan. Kita selalu saling berlomba untuk mendapatkan sumber daya dan pengaruh 'geo strategis'“

India memang bermimpi untuk menandingi tingkat pertumbuhan Cina pada beberapa tahun mendatang. Tetapi jelas, di beberapa dasawarsa terakhir, India masih berada jauh di bahwa Cina. Namun India juga mengakui sistem Cina yang kuat, seperti penerapan keputusan pemerintah yang lebih efisien. Menurut Alka Acharya, di Cina keputusan tidak dipertanyakan di setiap tingkatan dan penerapan dapat diawasi dengan lebih efisien dari atas ke bawah. Walaupun India bangga terhadap sistem demokrasinya, tetap ada rasa iri atas kesuksesan Cina di bidang ekonomi. Komentar Alka Acharya:

“Para penanam modal asing tidak datang ke India karena kami sebuah negara demokratis. Mereka pergi ke Cina karena mereka optimis bisa mendapat bunga yang lebih besar dari modalnya di negara yang lebih terkontrol seperti Cina, daripada di India yang demokratis.”

Terutama para pembuat strategi dan militer lah yang selalu membuat situasi semakin tegang. Di India mereka sering memperingatkan ancaman Cina dan dengan ini memberi alasan bagi India untuk mempersenjatai diri, dari bom atom sampai angkatan lautnya. India masih belum bisa melupakan perang singkat di tahun 1962, dimana India kalah dari Cina.

Namun begitu pakar politik Anantaram juga memperingatkan agar tidak membesar-besarkan masalah yang ada: “Tahun-tahun yang diwarnai dengan ketidakpercayaan memang bisa berarti, bahwa kita tidak bisa menjadi teman. Tetapi saingan bukan berarti pembunuh saudara sendiri. Dan kita tidak harus jadi musuh!“

Hans Spross / Anggatira Gollmer
Editor: Dyan Kostermanns