1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Imunisasi Kode Genetika Melawan Kanker

Dengan imunisasi kode genetika, sistem kekebalan tubuh diaktifkan untuk menyerang protein khas pada sel kanker.

default

Sistem kekebalan tubuh biasanya diaktifkan, jika tubuh sakit akibat serangan bibit penyakit. Sel-sel pertahanan tubuh mengenali struktur khas pada permukaan sel bibit penyakit dan menyerangnya. Antibody menandai sel bibit penyakit sebagai organisme asing, yang kemudian akan diserang dan dimusnahkan oleh sel pembunuh. Kini para pakar kedokteran dari Belanda hendak memanfaatkan perbedaan sifat sel kanker itu dalam terapi penyakit kanker.

Peneliti penyakit kanker John Haanen, dari Institut Penelitian Kanker Belanda di Amsterdam berusaha memanfaatkan sistem amat khas dari kekebalan tubuh dalam terapi kanker. Sejauh ini sel-sel tumor walaupun berbeda dari sel sehat, selalu berhasil melindungi dirinya dari serangan sistem kekebalan tubuh. Kini dengan menerapkan ciri khas permukaan sel kanker, sistem kekebalan tubuh hendak direkayasa, agar mengenali sel kanker sebagai organisme asing dan memusnahkannya.

GBF-Forscher filmen Immunzellen in Aktion

Sel kekebalan tubuh memusnahkan bibit penyakit.

Haanen menjelaskan : “Efek yang hendak kami bangkitkan dengan vaksin ini adalah, respon kekebalan tubuh terhadap ciri khas permukaan sel kanker. Diharapkan itu menyerang sifat khas yang diperlukan sel kanker untuk hidup. Jika kita dapat menyerang selnya pada posisi itu, selnya akan mati.“

Imunisasi Kode Genetika

Ciri khas pada permukaan sel kanker kebanyakan adalah protein. John Haanen dan tim penelitinya, menyisipkan potongan rancang bangun genetika untuk protein khas tsb pada sel tubuh yang sehat. Caranya dengan menyuntikannya rancang bangun bagi protein kanker yang tidak berbahaya ke dalam tubuh pasien. Di dalam tubuh, kode genetika itu masuk ke dalam sel dan dibaca oleh sistem kekebalan tubuh.

Sel-sel tubuh yang sehat kemudian memproduksi protein khas kanker dan mentransportasikannya ke jaringan sekitarnya. Di jaringan inilah sistem kekebalan tubuh terus aktif. Dengan cepat sel kekebalan tubuh mengenali protein khas sel kanker yang tidak berbahaya itu sebagai organisme asing dan mulai menyerangnya.

Juga protein yang sama, yang ada di permukaan sel tumor, mulai diserang oleh sistem kekebalan tubuh. Sebab, dengan imunisasi itu, sistem kekebalan tubuh akhirnya dapat mengenali protein khas pada permukaan sel kanker sebagai organisme asing.

Plasmide Bakteri Lebih Unggul

Krebsforschung Gen-Bakterien gegen Krebszellen

Gen bakteri untuk memerangi sel kanker

Untuk menyisipkan potongan rancang bangun genetika ke dalam sel, para peneliti dari Belanda itu memanfaatkan apa yang disebut Plasmide yang berasal dari bakteri. Lazimnya bakteri memanfaatkan potongan DNA semacam itu, untuk saling mempertukarkan informasi genetika diantara mereka.

“Potongan informasi ini, dapat kami sisipkan ke dalam gen yang diteliti, yang kami percayai berperan penting dalam memerangi kanker. Boleh jadi itu merupakan semua ciri khas yang hanya ada pada sel tumor. Kami memang belum mengetahui secara pasti bagaimana mekanismenya, akan tetapi sel tubuh menerima Plasmide ini, dan memanfaatkan informasi genetika yang terkandung di dalamnya untuk memproduksi protein“, papar Haanen.

Keunggulan plasmide adalah kemampuannya yang amat tinggi untuk beradaptasi dan sangat fleksibel. Selain itu, metode penyisipan kode genetika asing ke dalam tubuh tsb, jauh lebih aman, dibanding prosedur lainnya. Informasi genetika yang terkandung dalam plasmide, tidak akan masuk ke dalam genom dan DNA nya tetap berada di luar inti sel.

Haanen menjelaskan lebih lanjut : “Ini amat penting. Sebab jika tidak begitu, selnya akan meneruskan informasi genetis ini kepada anak sel setiap kali terjadi pembelahan. Karena itu, metode kami lebih aman dibanding prosedur lainnya, dimana informasi genetika disusupkan ke dalam sel dengan bantuan virus. Karena virus terintegrasi secara permanen ke dalam genom.“

Uji Coba Pada Manusia

Karena kode genetikanya tidak diteruskan ke anak sel, imunisasinya harus terus menerus diulang. Dalam uji coba pada monyet, metode imunisasi DNA yang dikembangkan John Haanen dan timnya terbukti sukses. Namun dalam uji coba pada pasien dengan kanker stadium lanjut, metode tsb belum dapat memerangi tumornya secara meyakinkan.

DNS Modell, Genetik

Model DNA

“Kami tidak tahu, mengapa? Kanker pada manusia amat rumit. Beberapa jenis tumor sudah eksis sejak lama, dan mengembangkan strategi unik, yang dapat menipu sistem kekebalan tubuh. Tumornya memproduksi molekul tertentu, atau menciptakan kondisi mikro, diman sel kekebalan menjauhi tumornya“, kata Haanen menambahkan.

Tapi John Haanen yakin, bahwa imunisasi DNA untuk melawan kanker yang dikembangkannya, memiliki masa depan cukup cerah. Para peneliti dari Belanda itu kini mulai menguji coba konsentrasi vaksin dosis tinggi, untuk mengaktifkan sistem kekebalan tubuh guna melawan sel kanker.

Christine Westerhaus/ Agus Setiawan

Editor :  Ayu Purwaningsih