1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

IMF Menilai Ekonomi Asia Lebih Positif

Ekonomi global pulih lebih cepat daripada yang diduga sebelumnya. Menurut IMF, perbaikan ekonomi ini didorong pertumbuhan di Asia, yang diperkirakan akan melejit lebih tinggi lagi.

default

Dana Moneter Internasional, IMF hari Kamis (09/07) mengubah prognosa mengenai pertumbuhan ekonomi global. Secara keseluruhan diperkirakan, ekonomi dunia akan tumbuh sekitar 4,6%. Naik dari angka pertumbuhan 4,2% yang diprediksi oleh lembaga dana internasional itu, April lalu.

Perubahan angka ke atas ini terutama berlaku bagi negara-negara berkembang. Cina dan India dinilai sebagai penggerak kemajuan di Asia. Pertumbuhan ekonomi di Cina kini dipatok pada 10,5%, sedangkan di India pada 9,4%. April lalu, IMF masih memprediksi pertumbuhan ekonomi Cina dan India terpaut 0,5% lebih rendah daripada saat ini. Secara regional, perkiraan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia untuk 2010 naik menjadi 7,5% dari 7% di bulan April lalu.

Türkei Istanbul Olivier Blanchard Jahrestagung IWF und Weltbank

Ekonom IMF, Olivier Blanchard

Penasihat ekonomi IMF, Olivier Blanchard sejak awal melihat trend positif pada pertumbuhan kelompok negara ambang industri, seperti dikatakannya beberapa waktu lalu; "Di kelompok kedua itu negara-negara ambang industri seperti China, India, Indonesia. Situasi negara-negara ini sangat baik, tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi, mendekati pertumbuhan sebelum krisis. Sementara ini pertumbuhan ekonomi memang banyak didorong oleh program investasi publik, khususnya di Cina. Tapi bila melihat ke depan kita tidak harus terlalu kuatir karena meningginya permintaan swasta sangat mungkin terjadi. Misalnya, konsumsi dalam negeri di Cina bisa meningkat. Saya pikir ini berlaku bagi semua negara Asia, karena itu pada dasarnya pulihnya ekonomi di Asia lebih kuat, kukuh dan berkelanjutan.“

IMF menilik kekuatan pertumbuhan ekonomi di Asia dengan membandingkannya dengan masa-masa resesi ditahun 2009. Saat itu pertumbuhan di Asia tak sampai 4%. Pada tahun 2009, ekonomi dunia menciut sekitar 0,6% akibat krisis finansial.

Dalam peluncuran analisa terbaru IMF ini di Hong Kong, Jose Vinals, direktur bagian pasar uang dan pasar modal mengatakan, lokasi peluncuran dipilih seiring dengan prestasi Asia dalam menghadapi krisis keuangan global. Setelah berhasil menghadapi krisis ini dengan sistim ekonomi yang kuat dan tangguh, maka Asia bisa memberi momentum yang tepat untuk pemulihan global. Ia tambahkan, kombinasi dari ekspor serta permintaan dalam negeri yang menguat telah mendorong kegiatan ekonomi di kawasan ini. Begitu ungkap Vinals di Hong Kong.

Superteaser NO FLASH Börse in Tokio Finanzkrise Griechenland

Meskipun begitu, ekonom IMF, Olivier Blanchard memperingatkan bahwa ke depan, tampak adanya awan gelap di ufuk horison. Ia menyatakan ada kemungkinan masalah utang di Eropa akan berimbas pada pertumbuhan di Asia.

Blanchard juga memprediksi bahwa pertumbuhan akan melamban menjelang akhir 2010. Juga India akan mengalami penurunan, pada tahun 2011 dan pertumbuhan ekonomi negara itu bisa anjlok menjadi 8,4%. Tingkat pertumbuhan yang tetap sangat bugar, dibandingkan dengan kawasan lain. Secara kolektif pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota ASEAN diprediksi akan berkisar pada 6,4 % di tahun 2010 dan 5,5% di tahun berikutnya.

Jepang diharapkan akan tumbuh 2,4% tahun ini karena peningkatan ekspor dan turun mencapai 1,8% di tahun 2011 saat program stimulus pemerintah berakhir. Sebaliknya Selandia Baru dan Australia menghadapi pertumbuhan positif. Tahun 2010, pertumbuhan kedua negara itu dipatok pada 3%. Pada 2011 pertumbuhan Selandia Baru akan naik sampai 3,5%, sedikit lebih tinggi dari pada Australia yang diduga akan tumbuh 3,2%.

Sementara itu pertumbuhan di negara-negara industri maju, yang oleh ekonom Olivier Blanchard dimasukkan kedalam kelompok pertama, relatif konstan kecuali di Eropa yang menciut. Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan akan tumbuh 3,3%. Sedangkan pertumbuhan zona Eropa berkisar pada 1.0 persen.

Edith Koesoemawiria/dpa/afp/rtr
Editor: Hendra Pasuhuk