Imam Shamsi Ali: Demokrasi di AS Masih Hidup | dunia | DW | 13.02.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Imam Shamsi Ali: Demokrasi di AS Masih Hidup

Di tengah kecemasan atas pengusiran warga ilegal di AS, Imam asal Indonesia Shamsi Ali meyakini solidaritas dan demokrasi di AS masih tinggi. Penolakan terhadap larangan imigrasi Trump terus membumbung.

Menurut Presiden  Muslim Foundation of America, Imam Shamsi Ali, putusan pengadilan yang menolak untuk memulihkan larangan imigrasi Presiden AS Donald Trump baru-baru ini, menggambarkan bahwa demokrasi di AS masih hidup.

Imam Shamsi Ali yang berasal dari Indonesia ini menceritakan, pasca Trump mengeluarkan aturan kontroversial tersebut, tekanan warga di berbagai kota di Amerika meninggi dan semakin menjamur. Sementara itu berbagai asosiasi pengacara melakukan tuntutan hukum darurat menuntut agar keputusan itu dibatalkan.

Shamsi Ali (picture-alliance/dpa/R. Schlager)

Imam Shamsi Ali

Menurut Shamsi Ali,yang juga merupakan Presiden Nusantara Foundation di New York, sekali lagi Donald Trump harus menerima kenyataan pahit bahwa para hakim pengadilan tinggi di San Fransisco --di mana pemerintahannya mengajukan peninjauan kembali atas pembatalan "perintah eksekutif" itu-- menolak kebijakannya secara aklamasi.

"Alhamdulillah, ternyata karakter anti Islam dan Muslim Donald Trump, khususnya dengan pelarangan orang Islam masuk Amerika ini, menumbuhkan simpati dan solidaritas warga Amerika secara luas. Berbagai demo di bandara-bandara internasional Amerika justru diinisiasi oleh warga Amerika non Muslim termasuk komunitas Yahudi," ujarnya.

Hidup dalam realitanya sendiri

Ketujuh negara yang terimbas larangan Trump adalah adalah Iran, Irak, Suriah, Libia, Yaman, Sudan dan Somalia. Mereka dilarang masuk Amerika dengan alasan menjaga keamanan Amerika dari serangan teror dari luar. Shamsi Ali berpendapat, Presiden Donald Trump menampakkan diri sebagai orang yang hidup dalam bayang-bayang dirinya sendiri: "Di mana dirinya selalu merasa terancam dan hanya dia sendiri yang bisa menjamin keamanannya. Sebuah kepribadian yang terlepas dari realita sekitarnya."

Menurut Shamsi Ali, dalam sejarahnya Amerika selalu teruji oleh nilai-nilai kemanusiaan universal yang dibanggakan. Bahwa Amerika adalah negara dan bangsa imigran, terbuka untuk imigran, dan selalu mengedepankan sikap berkeadilan kepada semua tanpa batas agama, ras dan latar belakang kebangsaan. "Nilai-nilai universal Amerika inilah yang membangun kesadaran bangsa Amerika bahwa apa yang dilakukan oleh presidennya saat ini salah. Sehingga wajar jika banyak warga Amerika saat ini yang bangkit dan melakukan resistensi terhadap kebijakan Donald Trump itu," tandasnya.

Gelar aksi solidaritas

Shamsi Ali sendiri sejak awal kampanye hingga terpilihnya Trump sebagai presiden AS, dan bahkan hingga kini mengaku banyak mendapat dukungan dari teman-teman non Muslim, baik itu secara langsung dengan menawarkan perlindungan apapun yang diperlukan dalam menghadapi tantangan masa kini, atau juga secara tidak langsung dengan mengajak kerjasama dalam membangun komunitas bersama yang solid. 

Salah satu bentuk dukungan teman-teman non Muslim yang  dipaparkan oleh Presiden Nusantara Foundation tersebut, adalah keinginan mereka untuk secara terbuka menyatakan rasa simpati dan solidaritas dengan mengadakan rally bertemakan "Hari ini kami juga Muslim". Rencana kegiatan tersebut akan diadakan pada tanggal 19 Februari mendatang di jantung kota New York, Time Square. 

Berbagai  tokoh agama yang berpengaruh di kota New York telah menyatakan kesiapannya untuk hadir berbicara, antara lain Cardinal Dolan (pimpinan Katolik), Rabbi Joseph Potasnik (Majelis Rabi Yahudi di New York), Rabbi March Schneier (president FFEU), Rev.  Chloe Breyer (Direktur Interfaith Center of New York), dan banyak lagi.

Imam Shamsi Ali menyebutkan, dari  kalangan pejabat yang kemungkinan akan hadir adalah Gubernur New York, Jaksa Agung New York (AG), Walikota New York, maupun anggota kongres yang mewakili New York di Washington DC. Selain itu  juga, disebutkannya akan hadir beberapa selebriti Hollywood. Salah satu di antara mereka yang memang menjadi bagian dari panitia pelaksana adalah musisi Russell Simmons.

ap/as(sumber: Shamsi Ali, Nusantara Foundation)

Laporan Pilihan