1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Ikhwanul Muslimin Kembali ke Bawah Tanah

Bagi Ikhwanul Muslimin, tindakan keras permusuhan telah membawa mereka kembali ke masa lalu sebagai organisasi bawah tanah: menjauhi telepon dan internet, menyamar dan terus bergerak melawan rezim.

Sejak pasukan keamanan memaksa membubarkan dua kamp protes pendukung presiden Islamis terguling Muhamad Mursi, para anggota Ikhwanul Muslimin berada dalam pelarian.

Pihak pemerintah telah menangkap para pemimpin kelompok tersebut, termasuk penasihat tertinggi, yang secara efektif melemahkan gerakan itu dan mengganggu struktur organisasi.

Mursi sendiri dipenjara di lokasi rahasia dan pemerintah telah mendakwa ia beserta anggota Ikhwanul lainnya terlibat dalam protes maut.

Kembali ke Bawah Tanah

Kampanye penangkapan itu telah memaksa Ikhwanul kembali ke cara-cara yang sebagian besar telah mereka tinggalkan, sejak masuk ke arena politik resmi.

Lama dilarang di Mesir, kelompok itu secara perlahan menjadi lebih toleran dibanding tahun-tahun sebelum revolusi 2011, memenangkan kursi parlemen melalui berbagai kandidat yang maju melalui jalur independen.

Mereka meraih panggung utama setelah pemberontakan yang menggulingkan presiden Husni Mubarak, dengan memenangkan mayoritas parlemen dan kemudian merebut kursi presiden. Tapi penggulingan Mursi pada 3 Juli lalu telah membalik arah jarum jam.

“Kami kembali menggunakan kontak langsung setelah melarang penggunaan telepon dan internet, yang akan membuat kami bisa ditemukan,“ kata Aisha, seorang aktivis Ikhwanul di wilayah Alexndria di utara Mesir, yang menggunakan nama samaran demi alasan keamanan.

Ayahnya, seorang anggota Ikhwanul Muslimin, telah bersembunyi di bawah tanah karena takut ditangkap setelah pembubaran kamp 14 Agustus silam oleh pasukan kemananan yang menyebabkan ratusan orang tewas.

Kebencian terhadap Ikhwanul

“Ini lebih buruk daripada dibawah Mubarak,“ kata dia. “Karena selain kekerasan polisi, ditambah lagi dengan kebencian masyarakat.“

“Banyak orang tak lagi mau bertentangga dengan Ikhwanul Muslimin, tapi untungnya masih ada orang yang simpati dengan kami.“

Ägypten Anhänger von Mohammed Mursi 17.8.2013

Para aktivis Ikhwanul Muslimin kini diburu pemerintah dan dibenci masyarakat.

Aktivis lainnya yang berbasis di Tanta, barat daya Kairo, yang menggunakan nama samaran Ahmed, mengatakan pemimpin kelompok itu kini semua dalam pelarian.

“Tak ada pemimpin kami yang menghabiskan bahkan dua malam berturut-turut di tempat yang sama,“ kata dia.

Tak ada jenjang Ikhwanul yang luput dari sasaran, mulai dari para anggota paling bawah hingga pemimpin spiritual Mohamed Badie, yang ditangkap pada 20 Agustus lalu.

Sumber keamanan mengatakan lebih dari 2 ribu anggota Ikhwanul Muslimin telah ditangkap selama 12 hari terakhir.

Tapi seorang pengacara yang dekat dengan kelompok itu yakni Ismail Wishahi, mengatakan “lebih dari 8.000 aktivis telah dipenjara”.

Suasana anti Ikhwanul Muslimin dilaporkan semakin berkembang selama beberapa pekan terakhir.

Tentara menggulingkan Mursi setelah demonstrasi besar menentang kekuasaannya.

Warga sipil Mesir dilaporkan telah menyerang puluhan kantor Ikhwanul Muslimin dan media lokal berbaris di belakang pemerintah sementara yang didukung militer, sambil menyebut Ikhwanul sebagai “teroris“ dan memberi istilah krisis itu sebagai sebuah “perang melawan terorisme.“

Masih Kuat dan Bergerak

Pada masa lalu, Ikhwanul Muslimin mampu memobilisasi puluhan ribu demonstran, menggambarkan jaringannya yang luas di seluruh negeri.

Tapi kekerasan atas kelompok ini serta penangkapan terhadap para pemimpinnya telah mempersulit Ikhwanul untuk menggerakan massa.

Perintah kini hanya bisa dilakukan dari mulut ke mulur, dan pos-pos pemeriksaan di jalanan membuat mereka tak bisa mengerahkan bus-bus berisi pendukung mereka dari pedesaan menuju kota untuk menggelar demonstrasi.

Tapi para ahli memperingatkan bahwa terlalu dini untuk melupakan Ikhwanul Muslimin, khususnya setelah berpuluh-puluh tahun gerakan itu mempunyai pengalaman dalam menghadapi represi negara dan bertahan sebagai sebuah kelompok klandestin.

“Ikhwanul Muslimin tentu terguncang, tapi mereka masih punya kontrol atas keuangan, dan mayoritas aktivisnya masih bebas,“ kata Ashraf al-Sharif, seorang professor politik American University di Kairo.

“Sebagai organisasi tertutup dan rahasia, Ikhwanul punya kemampuan melawan gelombang represi ini dan mengorganisir diri sendiri secepat mungkin,“ tambah Haitham Abu Khalil, seorang bekas anggota kelompok tersebut.

Seorang anggota Ikhwanul di kota Pelabuhan Said, utara Mesir mengatakan gerakan itu akan terus bekerja, bahkan di bawah tekanan dan meski mereka kehilangan markas-markas mereka.

“Sekali lagi, kami akan melibatkan diri secara langsung dengan masyarakat, dan kami tak perlu kantor untuk melakukannya,“ kata dia.

ab/hp (afp,rtr,ap)

Laporan Pilihan