1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Hyperthermie untuk Pengobatan Kanker

Peningkatan suhu tubuh dianggap dapat memerangi kanker, tabi juga membahayakan jaringan tubuh yang sehat. Sebuah terapi baru kita sedang diujicoba.

default

Partikel besi oksida disuntikkan pada sel tumor

Sejak 500 tahun sebelum Masehi, dokter sekaligus filsuf dari Yunani, Parmenides, sudah mengetahui dampak dari demam tinggi terhadap penyembuhan berbagai penyakit. Apa yang dalam kedokteran modern disebut Hyperthermie, atau peningkatan suhu tubuh hingga 42 derajat Celsius atau lebih, kini diujicoba sebagai metode pengobatan tumor.

Pengobatan tumor dengan metode Hyperthermie biasanya hasilnya amat terbatas. Pada prakteknya amatlah sulit melakukan pemanasan secara terkonsentrasi pada sel tumornya, tanpa merusak sel-sel sehat di sekitarnya. Kini dengan bantuan teknologi nano, untuk pertama kalinya pemanasan dapat difokuskan dengan sangat akurat pada titik sasaran. Rumah sakit Charite di Berlin sejak bulan Maret lalu memiliki peralatan yang memungkinkan pengobatan sel tumor dengan pemanasan terfokus itu.

Peralatan Penggerak Partikel Besi Oksida

Di pusat terapi radiasi rumah sakit Charite Berlin, dipasang peralatan yang disebut aktivator nano. Peralatan setinggi dua meter itu bentuknya seperti huruf U terbalik. Pasien penderita tumor dibaringkan di tengah peralatannya. Peralatan berbentuk U terbalik itu membangkitkan gelombang elektro-magnetik untuk menggetarkan partikel oksida besi berukuran nanometer, yang sebelumnya disuntikkan ke dalam sel tumor pasien.

Ein Nano-Eisen-Partikel

Partikel besi oksida berukuran nanometer

Pakar kedokteran fisika, Thorsten Oleck, yang mengoperasikan peralatan ini lewat komputer, menjelaskan, "Pasiennya dibaringkan di sana selama satu jam dan selama itu pula tumornya dipanaskan. Setelah satu jam medan magnet kembali diturunkan pelahan dan pasiennya dikeluarkan."

Peralatan aktivator nano itu membangkitkan medan magnet dengan frekuensi 100 kilo Hertz. Artinya medan magnetnya bergerak dari kutub positif ke kutub negatif dengan kecepatan 100.000 getaran per detik. Medan magnet itu juga menggerakan partikel besi oksida dalam sel tumor dengan frekuensi 100 kilo Hertz sehingga tercipta panas. Panasnya menyebabkan sel tumor mengalami stress, dan dengan itu lebih mudah dihancurkan lewat terapi radiasi atau khemoterapi.

Gagasan Lama

Pengembangan teknologi nano membuat metode terapi panas atau Hyperthermie itu terbukti dapat memerangi sel tumor lebih efektif. Sebab, untuk merusak sel tumor diperlukan suhu lebih dari 42 derajat Celsius. Sementara tanpa injeksi partikel besi berukuran nanometer, amat tidak mungkin memfokuskan panasnya secara akurat hanya pada jaringan kankernya saja dan akan menyebabkan jaringan sehat di sekitarnya juga ikut rusak.

Jalan menuju sukses pengobatan sel tumor menggunakan pemanasan itu amat panjang. Pakar biologi Andreas Jordan telah memiliki gagasan untuk prosedur pengobatannya sejak 24 tahun lalu. Mula-mula Jordan melakukan eksperimen dengan menggunakan partikel logam berukuran mikro meter. Akan tetapi ukurannya masih terlalu besar, sehingga relatif lamban untuk memicu getaran. Barulah setelah memanfaatkan pertikel oksida besi berukuran nanometer atau sepermilyar meter, Jordan berhasil mencapai terobosan.

"Transformasinya amat efisien, karena praktis seluruh partikel membentuk sebuah sosok getaran. Salah satu sifat nano adalah, dengan partikel kecil menciptakan permukaan luas, di mana panasnya dipindahkan. Setetes cairannya mengandung trilyunan partikel nano. Jika saya hamparkan, luasnya setara dengan lapangan tenis," dijelaskan Andreas Jordan.

Kendala Lain

Dari tahap uji coba hingga teknologinya dapat diterapkan menghancurkan sel tumor secara terarah, masih terdapat sejumlah pertanyaan sulit yang harus dijawab. Terutama, bagaimana caranya menghindarkan agar partikel nano itu setelah disuntikkan ke sel tumor tidak meluber ke sel sehat? Untuk mencegah hal ini terjadi, para pakar membungkusnya dengan partikel gelas amat halus. Dengan itu partikelnya tetap menempel dengan erat pada sel tumornya.

Setelah melakukan uji coba panjang selama bertahun-tahun, metode Hyperthermie dengan bantuan teknologi nano dianggap sudah cukup matang dan dapat digunakan. Penerapan metodenya saat ini terbukti sukses mengobati kanker prostata dan kanker otak yang sejauh ini sulit disembuhkan. Para dokter mengkombinasikan terapi panas itu dengan terapi radiasi dosis rendah.

Faktor Pendukung

Dengan metode pengobatan Hyperthermie itu, secara rata-rata umur harapan hidup para pasien kanker gawat meningkat dari enam menjadi 13 bulan. Bahkan pada sejumlah pasien, kankernya dalam jangka panjang dapat dinon-aktifkan. Tapi juga terdapat pasien yang tidak menunjukkan perbaikan kondisi kesehatan setelah terapinya. Demikian penjelasan Peter Wust yang mengelola riset tumor otak di rumah sakit Charite Berlin. Wust menambahkan, "Pada akhirnya yang menentukan adalah, sebagus apa para dokter bedah menyebar partikelnya dalam sel tumor. Jika amat bagus, maka terapinya juga akan sukses."

Tentu saja prosedur untuk menyebarkan secara merata partikel nano dalam sel tumor bukanlah pekerjaan mudah. Kadang-kadang sel tumornya memiliki bentuk amat rumit dengan tonjolan dan lekukan. Jika tidak berhasil menyebarkan partikel besi oksidanya secara merata dengan cara injeksi, sel-sel tumornya juga tidak akan berhasil dipanaskan secara optimal, dan akan tetap aktif. Kankernya akan tetap membahayakan.

Untuk itulah para dokter di rumah sakit Charite di Berlin mengharapkan, dengan bertambahnya pengalaman pembedahan serta penguasaan teknik baru, mereka dapat menyebarkan secara lebih merata partikel oksida besi itu pada sel tumor. Terapi dengan pemanasan untuk menghancurkan sel tumor itu diakui baru berada pada tahapan awal, dan potensinya belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan secara optimal.

Nils Michaelis/Agus Setiawan

Editor: Luky Setyarini