HUT Kopassus: Episentrum itu Bernama Cijantung | dunia | DW | 16.04.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

HUT Kopassus: Episentrum itu Bernama Cijantung

Bagi sebagian masyarakat kita, peringatan ulang tahun Kopassus (16 April) bisa sedikit memberi kebahagiaan dan harapan. Kenapa demikian? Simak opini Aris Santoso.

Satuan legendaris seperti Kopassus adalah aset bangsa. Satuan dengan sebutan populer Korps Baret Merah tersebut bagaikan oase, di tengah kompleksnya masalah yang mendera bangsa kita.

Ketika tulisan ini disusun, saya baru saja mendengar berita soal  tewasnya 30 orang di wilayah Jabodetabek dalam kurun waktu hanya satu hari (Rabu, 4/4), usai mengonsumsi minuman keras oplosan, jenis minuman alkohol kelas bawah. Sementara di level yang lebih tinggi, hampir setiap hari kita mendengar operasi tangkap tangan KPK terhadap pejabat publik yang korup.

Dua komunitas itu sebenarnya sama-sama memburu kebahagiaan, namun dengan cara yang berbeda, bahkan bagi yang kelas bawah justru berakhir tragis. Sementara para pejabat korup masih sempat-sempatnya mengumbar senyum, meski sudah mengenakan rompi oranye KPK. Pemberitaan seperti ini menjadikan kita prihatin, dan membuat malu bila berhadapan dengan bangsa lain.

Penulis: Aris Santoso

Penulis: Aris Santoso

Belum lagi berita seputar pilkada serentak 2018, yang sudah melewati ambang batas, sehingga otak sudah tak sanggup lagi mencernanya. Memang berita-berita seperti itu tidak ada hubungan langsung dengan Korps Baret Merah. Namun melalui peringatan Kopassus, kita diberi waktu jeda sejenak, bahwa masih ada ikon bangsa yang bisa kita banggakan di tengah lautan problem sosial yang tak bertepi.

Episentrum

Kawasan Cijantung (Jakarta Timur)patut disebut sebagai episentrum militer Indonesia. Selain berdiri Markas Komando Kopassus sebagai titik sentral, dan beberapa satuan di bawahnya, seperti Satgultor 81 dan Grup 3/Sandi Yudha. Masih dalam kawasan yang sama, juga terdapat satuan penting lainnya, seperti Brigif Para Raider 17/Kujang I Kostrad dan Brigif Mekanis 1/Jaya Sakti Kodam Jaya. Satuan yang disebut terakhir ini, secara berturut-turut pernah dipimpin oleh (dengan pangkat saat itu) Kol Inf Moeldoko dan Kol Inf Gatot Nurmantyo, yang keduanya kini sudah menjadi figur nasional.

Gambaran ekstremnya kira-kira seperti ini, bila markas pusat seperti Cilangkap dalam kondisi lumpuh, dengan skenario ada invasi dari luar, selama Cijantung  masih belum tersentuh, pertempuran berlarut tetap bisa dilanjutkan. Ini sesuai dengan kualifikasi Komando personel Kopassus, yang terlatih beroperasi, baik secara tim mapun seorang diri.

Kopassus sebagai bagian dari kecabangan infanteri, posisinya memang sedikit dilematis, di tengah tuntutan penggunaan alutsista canggih dalam operasi tempur masa depan dan konsep poros maritim dunia. Satuan infanteri memang sedikit lambat dalam hal kecanggihan teknologi, khususnya pada satuan infanteri ringan (light infantry), yang menjadi panutan banyak satuan di Tanah Air

Namun aktualisasinya memang bukan di situ. Dalam satuan infanteri, yang lebih diutamakan adalah unsur manusianya, sebagaimana ungkapan "the man behind the gun”. Nama besar satuan seperti Kopassus, juga satuan infanteri lain baik yang bermarkas di Cijantung, atau di tempat lain, bisa berfungsi sebagai efek penangkal (deterrent effect),  bagi kemungkinan maraknya gerakan separatis, terorisme dalam negeri atau invasi dari luar. Seiring kecanggihan alutsista dan simulasi pertempuran masa depan, keberadaan satuan komando, dengan militansi yang khas, tetap dibutuhkan.

Baca juga:

Melongok Purnawirawan dan Obsesi Kekuasaan Dalam Diri mereka

Cita-citaku... Ingin jadi Tentara

Lanjutkan baca ke halaman 2 

Halaman 1 | 2 | Artikel lengkap

Laporan Pilihan