1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Hubungan Perdagangan Tetap Menjadi Tema Utama Obama-Hu Jintao

Tema utama kunjungan Presiden Cina Hu Jintao ke AS tetap kepentingan ekonomi kedua negara. Walaupun begitu, Presiden AS Barack Obama juga menyinggung tema hak asasi manusia dan masalah Tibet.

default

Presiden AS Obama (kanan) ketika menyambut rekannya dari Cina, Hu Jinta, di Gedung Putih

Presiden Amerika Serikat Barack Obama menepati janjinya. Sebelumnya ia menegaskan, dalam lawatan Presiden Cina Hu Jintao ke Amerika tidak akan bersikap menahan diri. Obama secara lugas mengritik politik mata uang pemerintah Cina.

"Saya mengatakan kepada presiden Hu, kami memuji Cina yang meningkatkan fleksibilitas mata uangnya. Tapi saya juga harus mengatakan kepadanya, bahwa nilai Yuan tetap terlalu rendah, dan harus dilakukan penyesuaian nilai tukar. Ini dapat menjadi instrumen kuat bagi Cina, untuk mendongkrak permintaan domestiknya dan meredam tekanan inflasi. Kami mengharapkan, bahwa nilai mata uang Cina lebih banyak ditentukan oleh pasar, dan tidak ada negara yang menikmati keunggulan ekonomi secara tidak fair," papar Obama.

Obama yang pemenang hadiah Nobel Perdamaian juga menekankan tema penghormatan hak asasi manusia. Disebutkannya, Amerika memiliki kewajiban menghormati hak universal seluruh umat manusia. Diantaranya hak asasi, kebebasan pers, kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat dan kebebasan beragama. Hak-hak dasar tersebut juga diakui dalam konstitusi Cina. Karena itu Amerika berpendapat, juga Cina akan lebih sukses dan sejahtera, jika menghormati hak-hak tersebut.

Tema peka lainnya bagi pemerintah Cina, yakni tuntutan warga Tibet untuk menentukan nasib sendiri, disinggung langsung oleh Presiden Obama, "Amerika memang mengakui bahwa Tibet adalah bagian dari Cina. Tapi kami mendukung dialog lebih lanjut antara perwakilan pemerintah Cina dengan perwakilan Dalai Lama, untuk menuntaskan perbedaan pendapat. Termasuk penghormatan identitas agama dan budaya warga Tibet."

Juga presiden Cina Hu Jintao menekankan penghormatan hak asasi manusia itu dalam konferensi pers bersama. Walaupun ironisnya Cina masih memenjarakan pemenang hadiah Nobel Perdamaian 2010, Liu Xioabo, Presiden Hu menegaskan hal yang berbeda, "Cina tetap berkewajiban menjamin dan menghormati hak asasi manusia, dan sudah membuat kemajuan besar."

Akan tetapi setelah itu, Presiden Hu merelatifkan kembali pernyataannya, "Cina merupakan negara berkembang dengan populasi amat besar, yang sedang berada dalam fase reformasi yang menentukan. Dalam kaitan ini, Cina masih menghadapi banyak tantangan di bidang ekonomi dan sosial. Dan dalam tema hak asasi manusia, di Cina masih banyak yang harus dilakukan."

Perdebatan mengenai tema hak asasi manusia tidak dapat menutupi kepentingan utama dari kunjungan presiden Cina ke AS. Yakni masalah ekonomi, yang merupakan komponen inti dari hubungan Cina-AS, serta juga saling ketergantungan diantara kedua negara. Sekitar setengah juta lapangan kerja di AS amat tergantung dari ekspornya ke Cina. Sebaliknya ekonomi ekspor Cina amat tergantung dari pasar AS. Selain itu, Cina merupakan negara yang memberikan pinjaman terbesar kepada AS, senilai 800 milyar Dolar. Jadi tema utama pembicaraan di belakang layar, intinya tetap hubungan perdagangan bilateral.

Christina Bergmannn/Agus Setiawan

Editor: Dyan Kostermans

Laporan Pilihan