1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

"Harapan Kecil Perdamaian di Thailand Selatan”

“Perundingan perdamaian antara pemerintah Thailand dan kelompok separatis adalah langkah ke arah yang benar”, kata Marco Bünte, dosen Monash University di Malaysia. “Tapi masih banyak yang harus dilakukan.”

Dr. Marco Bünte, GIGA Institut Hamburg. Copyright: Marco Bünte

Marco Bünte, GIGA Institut Hamburg

Konflik di Thailand Selatan sudah menewaskan 5300 orang. Pemerintah Malaysia dan kelompok separatis BRN-C sepakat untuk melakukan perundingan perdamaian di Malaysia hari Kamis (28/03). Deutsche Welle berbicara dengan Marco Bunte, dosen dari Monash University yang mengajar di Malaysia.

DW: Apa yang akan dibahas dalam perundingan perdamaian?

Marco Bünte: Pemerintah Thailand pertama-tama mencoba berkenalan dan mencari mitra bicara untuk merancang agenda perdamaian. Karena sebelumnya tidak ada komunikasi. Sampai saat ini, kekerasan di provinsi selatan Thailand masih terus berlangsung.

Kelompok separatis di selatan Thailand terpecah-belah. Akhir Februari di Malaysia, pemerintah Thailand mencapai kesepakatan dengan kelompok Barisan Revolusi Nasional, BRN. Siapa dibalik kelompok ini?

Ini kelompok baru yang belum dikenal luas. Mereka juga tidak punya tujuan khusus, misalnya tuntutan kemerdekaan. Sel-sel ini bertindak secara otonom. Konfik di Thailand selatan adalah konflik lama. Ada kelompok-kelompok yang menuntut otonomi yang lebih besar. Tapi tidak ada struktur organisasi. Jadi pembicaraan dengan mereka memang sangat sulit.

Apa yang membuat kelompok-kelompok ini memusuhi pemerintah sampai melakukan aksi kekerasan dan serangan bom?

Penduduk di kawasan selatan merasa dirugikan, baik secara ekonomis maupun secara politis. Bahasa nasional adalah bahasa Thai, sedangkan kebanyakan masyarakat muslim di selatan berdialek melayu, jadi mereka sulit berkomunikasi dengan pejabat pemerintah. Faktor lain adalah kehadiran militer. Ada sekitar 60.000 aparat keamanan yang ditempatkan di selatan. Akhirnya terjadi banyak pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan militer terhadap masyarakat muslim. Ketidakpuasan di kalangan remaja sangat besar. Mereka lalu melakukan aksi kekerasan dan tindakan kriminal.

Apa yang dilakukan pemerintahan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra untuk menyelesaikan konflik ini?

Pemerintah Thailand sekarang berjanji untuk lebih banyak membuka dialog. Dewan Keamanan Nasional tahun lalu juga mengusulkan agar dilakukan konsultasi dengan kelompok separatis dan memberikan tawaran otonomi. Masih sulit untuk mengatakan, langkah apa saja yang nantinya bisa diwujudkan.

Sampai saat ini, penduduk di Thailand selatan merasa dirinya sebagai warga negara kelas dua. Apakah prakarsa baru ini merupakan langkah awal untuk membangkitkan kepercayaan?

Ini tentu merupakan langkah pertama untuk membuka dialog. Tapi masih banyak yang harus dilakukan. Di kawasan selatan masih berlaku situasi darurat, yang memberi kebebasan kepada militer untuk bertindak. Perubahan hanya akan terjadi, jika ada perubahan dalam kebijakan politik.

Bagaimana menurut Anda peluang perundingan perdamaian ini?

Konflik ini sudah berlangsung lama. Jadi peluang solusi sangat kecil. Pertemuan ini bisa dilihat sebagai ajang pertukaran informasi. Konflik ini sekarang menjadi konflik yang paling berdarah di Asia Tenggara. Jadi pembicaraan ini adalah langkah awal, yang harus disusul dengan langkah-langkah berikutnya.

Marco Bünte adalah dosen untuk studi internasional di Monash University cabang Malaysia. Ia juga tercatat sebagai pakar Asia Tenggara di GIGA Institut di Hamburg, Jerman.