1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Hamas Membekukan Perundingan Pertukaran Tahanan

Di bawah mediasi Jerman, perundingan antara Hamas dan Israel mengenai pertukaran tahanan dibekukan. Hal tersebut disampaikan perwakilan Hamas di Jalur Gaza hari Selasa (02/02).

Jalur Gaza

Jalur Gaza

Kepada stasiun televisi Inggris BBC Mahmud Zahar menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas kegagalan perundingan mengenai pertukaran tahanan. Menurutnya sejak Netanyahu turun tangan, perundingan menemui jalan buntu.

Pemerintah Israel dan pimpinan Hamas di Gaza sebelumnya melakukan perundingan pertukaran serdadu Israel yang ditahan Hamas, Gilad Shalit, dengan 1000 tahanan Palestina di penjara Israel, di bawah mediasi dinas rahasia Jerman.

Perundingan itu sendiri tidak sepenuhnya dihentikan, melainkan hanya dibekukan untuk sementara. Mahmud Zahar mengatakan, "Kami mengupayakan agar rakyat kami dibebaskan dan mengakhiri penderitaan mereka, dan kami ingin memberikan kesempatan bagi keluarga serdadu Israel yang ditahan agar dapat hidup kembali seperti layaknya manusia. Tapi ini bukan dengan mengorbankan hidup kami. Kami meminta jumlah yang layak, pantas dan ini tidak berlebihan. Tapi pihak Israel mundur terlalu jauh dari upaya yang banyak dan ratusan putaran perundingan. Atas alasan ini semuanya dihentikan."

Seperti yang dilaporkan harian Israel Ha'aretz, bulan lalu kantor PM Netanyahu bersikukuh mengambil sikap keras dalam perundingan dengan Hamas. Israel antara lain menolak pembebasan hampir sepuluh pejabat Palestina yang ditahan, termasuk fungsionaris Fatah Marwan Barghuti. Berdasarkan hasil jajak pendapat, Marwan Barghuti merupakan pemimpin terpopuler warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat Yordan.

Selain itu Hamas bersikukuh bahwa tahanan Palestina yang akan dideportasi ke luar negeri, harus mendapatkan hak mengenai negara mana yang akan dipilihnya. Hal ini, menurut laporan Ha'aretz, juga ditolak Israel.

Namun menurut sumber lain alasan dibalik pembekuan perundingan tersebut merupakan pembunuhan terhadap salah seorang pemimpin Hamas, Mahmud Al-Mabhuh. Al-Mabhuh ditemukan tidak bernyawa di sebuah hotel di Dubai 20 Januari lalu. Hamas menuding Israel berada di belakang pembunuhan tersebut. Sementara media Israel melaporkan, Mabhuh sejak lama masuk dalam daftar hitam keamanan, karena diduga mengorganisir pengiriman senjata dari Iran, Cina dan Korea Utara ke Jalur Gaza.

Sementara itu, sejumlah simpatisan keluarga serdadu Israel yang ditahan Gilad Shalit, menggelar aksi protes menentang dibekukannya perundingan, di depan pintu perbatasan pengiriman barang antara Israel dan Jalur Gaza, Kerem Shalom. Sekelompok demonstran berusaha menghentikan kendaraan pengangkut barang bantuan internasional bagi warga Jalur Gaza.

"Kami menempelkan poster di seluruh truk yang membawa bahan makanan dan barang lainnya ke Gaza. Isi poster itu antara lain: ‘bebaskan Gilad, maka Gaza akan makmur', atau 'cukup!' berbahasa Ibrani dan Arab. Sebagian spanduk juga berbahasa Arab, seperti 'Ayo Gaza, Berunding!', dan 'Jika kalian tidak memberi, kalian juga tidak dapat!'" kata salah seorang demonstran.

Keluarga serdadu Israel Gilad Shalit yang ditahan Gaza dalam pernyataannya meminta Hamas untuk mempertimbangkan kembali keputusan membekukan perundingan pertukaran tahanan. Dalam pernyataan itu juga tercantum, tidak hanya putranya yang hidup tanpa hak azasi manusia di penjara Hamas, tapi juga warga Palestina di Jalur Gaza hampir empat tahun hidup dalam situasi kemanusiaan yang mengkhawatirkan.

Clemens Verenkotte/Luky Setyarini

Editor: Rizki Nugraha