1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Haiti Berusaha Bangkitkan Kembali Budayanya

Ibukota Haiti, Port au-Prince perlahan-lahan telah bangkit, melakukan pembangunan kembali. Begitupula kebudayaan yang mulai menampakkan kehidupan baru di antara puing-puing dan reruntuhan.

default

Upacara berkabung masal di ibukota Haiti Port au-Prince (12/02) memperingati satu bulan gempa Haiti

Kegelapan malam menyelimuti Port au-Prince. Di dalam sebuah tenda, dari sekian banyak tenda yang berdiri, sekelompok perempuan duduk dalam lingkaran dan bernyanyi. Mereka telah kehilangan semuanya, kecuali rasa kebersamaan, lagu dan kepercayaan. Kota yang hancur akibat gempa ini tidak berdiam diri saja, kehidupan terlihat di sana. Dan suara kehidupan biasanya terdengar cukup nyaring.

Di siang hari, bisingnya suasana kerja terdengar di hampir setiap penjuru kota. Di jalan utama Grand Rue terdapat banyak bangunan yang runtuh. Diantara puing-puing dan dinding-dinding yang masih berdiri, para pemuda Haiti mulai membangun kembali galeri terbuka mereka, yang turut hancur akibat gempa. Karya-karya seni yang tersisa tergeletak di tanah atau tergantung di dinding. Ghetto Seni, demikian mereka menyebutnya, memamerkan patung-patung dari barang rongsokan, ban bekas yang dilukis dan dipakukan pada selembar papan.

Alex yang masih berusia 18 tahun turut berpartisipasi dalam Gettho Biennale bulan Desember lalu, dengan seni dari jalanan, mengatakan, "Gettho Biennale diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Kami berharap, bahwa ajang ini dapat kembali digelar tahun 2011 di Port au-Prince. Pasti merupakan event besar. Tapi setelah bencana ini, mungkin orang telah melupakan pesta seni ini.“

Alex menjual karya-karyanya yang terbuat dari kayu dan karet dengan harga mulai dari 20 Dollar. Motif karyanya kebanyakan berupa wajah yang menyeringai atau tengkorak kepala, mengingatkan orang pada mitos Voodoo.

Di sebuah sudut jalan lainnya, dapat ditemui karya yang sedikit berbeda dengan ciri lukisan Haiti, yang dipajang Elie Alseau di sebuah pagar. Lukisan lukisan yang penuh warna dengan motif alam. "Lukisan-lukisan ini menampilkan kehidupan di desa. Para perempuan di depann gubuk beratap jerami, pohon palem dan sapi-sapi. Bisnis saya berjalan tidak begitu jelek. Saat ini banyak orang asing di sini dan merekalah pembelinya,“ papar Elie Alseau.

Seni merupakah sesuatu yang sangat penting bagi warga Haiti. Mereka menganggapnya sebagai bagian dari budaya dan gaya hidup… demikian juga dengan kepercayaan.

Seorang pendeta Protestan menyampaikan kotbahnya di lapangan terbuka. Sekitar 150 orang, terdiri dari perempuan, laki-laki dan anak-anak, mengikuti kebaktian, duduk di atas kursi plastik. Gereja-gereja yang masih berdiri selalu penuh. Demikian juga dengan imam voodoo, banyak tugas yang harus mereka kerjakan. Misalnya Jean Louise Yvenel, yang dikenal dapat berhubungan dengan para roh.

"Sekarang ini, banyak orang yang datang kepada saya. Mereka memiliki masalah psikologis akibat gempa. Saya berusaha melakukan sesuatu bagi mereka. Semua orang mencari pertolongan. Tapi sekarang kebanyakan orang lebih senang pergi ke gereja. Karena mereka percaya, ini lebih baik bagi mereka,“ tutur Yvenel.

Gempa bumi tidak hanya memporakporandakan gedung-gedung tapi juga warga Haiti. Tetapi, Haiti masih tetap hidup, begitupula kebudayaannya. Walaupun pesta Karnaval tahun ini dibatalkan, di sela-sela upacara berkabung, di seluruh negeri telah timbul kembali harapan dan kegembiraan.

Martin Polansky/Yuniman Farid

Editor: Hendra Pasuhuk