1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Hadiah HAM untuk Wartawan Pakistan

Hadiah HAM 2012 dari Yayasan Jerman Friedrich Ebert diberikan kepada organisasi Pakistan "Tribal Union of Journalists". Hadiah ini menjadi penghargaan bagi wartawan yang melaporkan dari daerah kekuasaan suku.

Dengan penghargaan tersebut Friedrich Ebert Stiftung (Yayasan Friedrich Ebert) yang berhubungan erat dengan Partai Sosial Demokrat (SPD) memberikan penghargaan bagi "prestasi istimewa organisasi yang mendukung wartawan yang hidupnya terancam, juga media yang ditekan di daerah suku di Pakistan."

250 wartawan yang tergabung dalam "Tribal Union of Journalists" (TUJ) melaporkan dari daerah-daerah yang tidak mudah dimasuki di dekat perbatasan dengan Afghanistan, untuk media nasional dan internasional. "TUJ menunjukkan keberanian para wartawan di daerah itu, yang mempertaruhkan nyawa, dengan memberikan kepada dunia informasi sangat penting dari 'Black Box' di daerah perbatasan Afghanistan dan Pakistan," demikian pujian Konstantin Bärwaldt dari Friedrich Ebert Stiftung.

Pelaporan dari Daerah Berbahaya

Safdar Hayat Dawar, Journalist und Vorsitzender der Tribal Union of Journalists und Preisträger des Menschenrechtspreises 2012 Copyright: DW/Shakoor Rahim

Safdar Hayat Dawar, ketua "Tribal Union of Journalists"

Daerah separuh otonom di Pakistan barat daya, yang secara resmi disebut Federally Administered Tribal Areas (FATA), dianggap daerah persembunyian Taliban dan pejuang Al Qaida. AS menuduh kelompok militan Taliban bertanggungjawab atas serangan terhadap pasukan internasional di Afghanistan. Di daerah tersebut kerap terjadi serangan berdarah terhadap penduduk. Baru-baru ini di provinsi Khyber Pakhtunkhwa aktivis HAM berusia 14 tahun ditembak orang bersenjata dan menderita cedera berat. Serangan itu menunjukkan, bagaimana ekstrimnya situasi bagi pejuang hak asasi di Pakistan barat daya, demikian dikutip organisasi HAM Amnesty Internasional dari laporan pakarnya bagi Pakistan, Mustafa Qadri. Juga para wartawan, yang melaporkan tentang HAM, menghadapi ancaman dari Taliban dan kelompok-kelompok militer lainnya.

Baik media lokal maupun internasional hanya dapat bergantung pada sejumlah kecil wartawan, yang melaporkan langsung, dan di bawah ancaman kehilangan nyawa, dari daerah perbatasan yang berbahaya. Demikian dikatakan Nasir Tufail, dari televisi Pakistan Geo TV, dalam wawancara dengan Deutsche Welle. "Sebagian besar wartawan bahkan tidak diperbolehkan memasuki daerah itu,“ demikian ditambahkannya. Oleh sebab itu, dari daerah itu tidak mudah memberikan laporan yang bisa dipercaya tentang Taliban dan perjuangan melawan terorisme.

Larangan Pemerintah

A portrait of Pakistani schoolgirl Malala Yousufzai is pictured during a candlelight vigil organized by Nepalese Youth in Kathmandu October 15, 2012. The Pakistani schoolgirl shot by Taliban gunmen for advocating education for girls has been sent to the United Kingdom for medical treatment, a military spokesman said on Monday. REUTERS/Navesh Chitrakar (NEPAL - Tags: POLITICS SOCIETY)

Foto Malala Yousufzai, aktivis HAM berusia 14 tahun yang ditembak Taliban

Sejauh ini, UU Pakistan tidak memperbolehkan media independen memasuki daerah FATA. Ini tambah mempersulit pekerjaan wartawan, demikian dikatakan ketua TUJ, Safdar Hayat Dawar. Ia menuntut pemerintah untuk menciptakan UU bagi pelaporan yang independen. Langkah ini, menurut pandangannya, akan mendorong demokratisasi daerah itu. "Saya berharap, penghargaan internasional semacam itu akan mendorong perbaikan situasi bagi wartawan dan kebebasan media di wilayah suku," demikian Dawar.

"Organisasi yang aktif secara internasional seperti Friedrich Ebert Stiftung menyadari peranan kami sebagai pemberi laporan dari salah satu daerah paling berbahaya di dunia. Tetapi pemerintah Pakistan sama sekali tidak menggubris tuntutan kami," demikian keluhnya, dan menambahkan, tuntutan ikatan wartawan yang dipimpinnya akan kondisi kerja lebih baik dan asuransi jiwa, tidak diperdulikan di Islamabad.

Wilayah Berbahaya

In this photo taken on Aug. 5, 2012, a Pakistani Taliban militant holds a rocket-propelled grenade at the Taliban stronghold of Shawal, South Waziristan, Pakistan. Taliban leaders will hold a meeting to decide whether a Pakistani cricket star-turned-politician Imran Khan will be allowed to hold a planned march to their tribal stronghold to protest U.S. drone strikes, the militant group's spokesman said Thursday. (Foto: Ishtiaq Mahsud/AP/dapd)

Seorang pejuang Taliban

Upaya para wartawan tidak dikenal dan tidak memperoleh penghargaan apapun. Itu dibenarkan koresponden Deutsche Welle di Pakistan, Faridullah Khan. "Kolega-kolega saya itu memperoleh nafkah lebih sedikit dari saya, dan mereka tidak punya jaminan apapun. Meskipun demikian, mereka mencari informasi di daerah berbahaya, dan melaporkannya ke dunia." Jadi hadiah HAM dari Friedrich Ebert Stiftung adalah sokongan besar bagi para wartawan, demikian ditekankannya.

Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) tahun ini menempatkan Pakistan sebagai negara paling berbahaya kedua di dunia, setelah Meksiko. Persatuan media dari delapan negara Asia Selatan, South Asian Free Media Association (SAFMA), melaporkan, 17 wartawan dibunuh di Asia Selatan, 12 di antaranya di Pakistan. "Melaporkan tentang terorisme dan Islamisme menjadi bahaya terbesar bagi wartawan Pakistan," kata Imtiaz Alam, Sekretaris Jenderal SAFMA. Ia juga kesal dengan pemerintah lokal yang tidak mengambil tindakan apapun. "Tidak ada seorangpun yang diminta pertanggunganjawabannya atas pembunuhan wartawan."

Hadiah HAM dari Friedrich Ebert Stiftung diberikan sejak 1994 kepada orang-orang tertentu, yang mengambil tindakan luar biasa dalam membela HAM di berbagai bagian dunia. Acara penyerahan penghargaan diadakan tanggal 31 Oktober di Berlin.

Laporan Pilihan