1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Guimaraes: Kota Muda Banggakan Identitas

Dua kota, Guimaraes di Portugal Utara dan Maribor di Slovenia terpilih sebagai Ibukota Budaya Eropa 2012. Di Guimaraes, masa lalu tak hanya di museum, tetapi ruang kerja muda-mudi kota.

default

Guimaraes tengah bebenah. Di tengah kesulitan ekonomi dan jumlah penduduk yang hanya sekitar 50.000 jiwa, kota yang terpilih sebagai satu diantara dua ibukota budaya Eropa 2012 ini terlihat layaknya bangunan besar yang belum selesai. Peresmiannya berlangsung 21 Januari mendatang.

Di antara gunung pasir bangunan, walikota Guimaraes tampak sibuk. Domingos Braganca adalah penanggung jawab pesta budaya di kota itu. Ia juga mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengannya, termasuk pembangunan gedung. Untuk wawancara panjang, ia tidak punya waktu. Namun di sela-sela kesibukannya, ia sempat bercerita, "Tepat di tengah kota, kami akan bikin bangunan untuk kesenian dan kegiatan kreatif. Sebuah gedung sebagai titik temu dan menjadi simbol ibukota Budaya Eropa."

Lebih dari perhelatan akbar

Persiapan menuju ibukota budaya tahun ini menuntut kerja keras penduduk Guimaraes. Kebanggaan mengiringi kerja keras itu, meski harus tetap bekerja pada akhir pekan.

"Penduduk Guimaraes memegang kuat identitas lokal mereka. Mereka bangga akan kota ini, kota yang punya hubungan dengan asal dan identitas Portugal. Raja pertama Portugal lahir di sini dan masyarakat memegang kuat warisan ini juga merasa bertanggung jawab." Demikian dikatakan Vitor Marquez dari dinas Budaya dan Wisata Guimaraes.

Penyelenggaraan pesta budaya merupakan tantangan berat bagi penanggung jawab acara kota di Guimaraes. Apalagi targetnya, lebih dari hanya menggelar perhelatan akbar. Hal itu dijelaskan Carlos Martins, pengarah program pesta budaya tersebut. "Kami akan memanfaatkan kurun waktu penyelenggaraan dan kesempatan luar biasa ini untuk mewujudkan sesuatu yang kekal. Sebuah warisan yang mempengaruhi semua generasi. Ini tidak mudah. Tidak seperti membeli dua pertunjukan dan membawanya ke panggung. Setiap kota bisa melakukan itu. Yang lebih sulit adalah menjadikan sumber kreativitas ini sebagai perspektif berkelanjutan bagi masa depan kota ini."

Kesibukan nampak di mana-mana seperti di akademi musik dan teater kecil yang menawarkan kursus bagi anak-anak dan orang dewasa.

Flash-Galerie Guimaraes Europas Kulturhauptstadt 2012

'Penduduk Guimaraes sangat bangga akan sejarah kota mereka yang berumur ribuan tahun meski kota itu adalah kota termuda di Portugal. Dulu Guimaraes adalah pusat industri tekstil dan kulit di Portugal, akan tetapi globalisasi menghapus ribuan lapangan kerja. Kini Guimaraes mencatat 15 persen penduduknya sebagai pengangguran. Karenanya, Guimaraes harus membangun perspektif baru.' Ini dikatakan Walikota Guimaraes.

Museum yang hidup

Lima puluh persen penduduk Guimaraes berusia di bawah 30 tahun, di antaranya ada sekitar 6000 mahasiswa. Mencangking laptop, mereka terlihat di berbagai pojok kota, di kafe-kafe dan taman-taman kota. Gedung-gedung tua di pusat kota bukan sekedar latar bersejarah bagi para pelancong. Penduduk kota Guimaraes menetap di tempat-tempat indah yang tak pernah sepi ini.

Infografik Europäische Kulturhauptstädte 2012-2015 Englisch

Tentu ada harapan sebagai penyelenggara pesta budaya Eropa tahun ini akan ada perbaikan bagi ekonomi lokal yang sedang menderita. Portugal memang sedang dililit krisis ekonomi dan pemotongan anggaran belanja daerah juga dirasakan kota Guimaraes. Tapi terlihat bahwa persiapan perhelatan pesta budaya Eropa tahun ini mendorong perubahan di pasar kerja. Jalanan, berbagai tempat dan taman-taman diperindah. Sementara di pusat kota akan dibangun gedung indah akademi desain dengan penataan yang dilengkapi balairung musik, serta sanggar bagi pelajar dan seniman. Masih ada proyek besar renovasi di kota tua bersejarah dan di lahan industri tua. Semuanya harus selesai tepat waktu sebelum pembukaan pesta budaya Eropa, pada 21 Januari nanti.

Cornelia Rabitz / Rara Balasong
Editor: Edith Koesoemawiria