1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Google Tutup Situs di Cina: Kemenangan atau Kekalahan?

Pelanggan Google di Cina daratan kini mengakses situs Google di Hong Kong bila mencari informasi. Apakah ini merupakan kemenangan bagi Google?

default

Perusahaan internet Google jeli menggunakan peluang kecil untuk menghindari peraturan sensor yang ditetapkan pemerintah Cina. Menggunakan taktik alih situs, pengguna layanan Google di Cina daratan kini mengakses Google di Hong Kong bila akan mencari informasi. Hongkong memiliki status khusus, dan peraturan sensor Cina tidak berlaku di sana. Dengan begitu, situs Google di Cina daratan secara praktis ditutup. Hanya beberapa perusahan Cina yang memiliki kontrak terpisah dengan Google, yang masih mendapatkan layanan informasi yang tersensor.

Masalah sensor merupakan duri yang harus dihadapi Google sejak masuk ke Cina pada tahun 2006. Secara internasional, upayanya memenuhi peraturan sensor informasi Cina yang ketat menuai kritik hebat. Namun taktik yang digunakannya kini juga menyulut amarah Cina.

Memantau perkembangan ini, pakar media Zhang dari Universitas Beijing menjelaskan, "Cina merupakan sebuah negara dengan dua sistem. Tampaknya persyaratan Cina daratan dari awal tidak sesuai dengan filsafat perusahaan. Di Hong Kong tampaknya lebih cocok, karena kebebasan bersuara dan informasi lebih terjamin.”

Tindakan Google keluar dari Cina disambut oleh sejumlah aktivis Cina. Namun reaksi di kalangan bisnis tak seluruhnya positif. Sejumlah perusahaan Barat mengritik tindakan itu, karena dianggap merusak kepercayaan bisnis yang selama ini dibangun dengan Cina. Google dikritik mendahulukan prinsip kebebasan informasi daripada bisnis. Sementara perusahaan internet terbesar di Hong Kong, TOM Online memutuskan hubungannya dengan Google. Pemiliknya, Li Ka Shing, pengusaha terkaya di Hong Kong memiliki hubungan erat dengan pemerintahan Cina.

Menurut pakar Internet Yang dari jurusan ekonomi di Univesitas Beijing, belum tentu perusahaan-perusahan di Cina daratan kini masih mau beriklan di Google, “Cina memiliki lebih dari 300 juta pengguna internet. Ke depan jumlah itu akan berlipat ganda menjadi 600, bahkan 800 juta orang. Ini jumlah yang besar sekali. Kami memperkirakan, Google akan merugi akibat tindakannya. Apalagi setelah pindah ke HongKong, para klien di Cina daratan bisa menekan Google untuk menurunkan harga iklannya.”

Di Cina daratan, Google mempertahankan ketiga lokasi perusahaannya untuk melakukan penelitian, pengembangan produk dan penjualan. Namun untuk berapa lama dapat bertahan di sana, masih merupakan pertanyaan besar.

Selain menyampaikan kecaman pemerintah, sejumlah harian lokal melontarkan kritik tajam terhadap perusahaan internet yang sebelumnya memiliki 30% pangsa pasar di Cina itu. Mereka menudingnya mata-mata Amerika Serikat. Sementara saingan-saingan lokal tidak tinggal diam. Saingan terbesar, perusahaan internet Baidu yang saat ini saja memiliki 60% pangsa pasar, tetap berusaha meraih kue yang lebih besar.

Bersamaan dengan itu para pengguna Google yang biasanya dari kalangan profesional berpendidikan tinggi kini mengalami kesulitan dengan berkurangnya kwalitas layanan Google. Menurut jurubicara Google, situs di Hong Kong tidak diblokir oleh pemerintah Cina saat ini, namun bila ada ungkapan yang dianggap sensitif oleh negara tirai bambu itu, maka memang sering terjadi kesulitan.

Petra Aldenrath / Edith Koesoemawiria

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan