1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Goldammer: "Pemadaman Bukan Solusi"

Goldammer mencoba menemukan jalan tengah antara api dan alam. Melalui Global Fire Monitoring Centre ia mengimbau negara-negara tropis menerapkan manajemen api. Memadamkan tidak selalu menjadi jawaban.

Hutan yang terbakar melepaskan zat karbondioksida dalam skala besar. Kebanyakan kebakaran hutan disebabkan oleh ulah manusia, cuma lima persen saja yang memiliki sebab alami. Tapi sebaliknya api juga bagian dari alam - sebagian kawasan seperti Sabana hanya bisa muncul lantaran api secara berkala membakar semak dan perdu, dan dengan begitu membuka kesempatan bagi tumbuhnya flora baru.

"Global Fire Monitoring Centre" di Freiburg mencatat informasi ihwal kebakaran hutan dari seluruh dunia. Di sini Professor Johann Georg Goldammer mengembangkan strategi penanggulangan dan pencegahan kebakaran. Uniknya memadamkan api terkadang bukan solusi terbaik. DW menemui Goldammer di sebuah sabana di Brazil, Cerrado. Setiap memasuki musim panas, kawasan ini terancam oleh api. Tapi menurut Goldammer, Cerrado adalah justru rumah bagi api.

DW: Apakah api musuh iklim?

Johann Georg Goldammer: Kebakaran vegetasi di Cerrado sebenarnya bukan musuh iklim. Musuh sebenarnya adalah api di kamar bakar, jadi di mana terjadi pembakaran energi fossil. Jika kita melihat sejarah geologi bumi - hutan yang terendam, batu bara dan minyak bumi atau juga gas - kita menambang dan membakarnya untuk kendaraan, industri atau untuk pemanas rumah, maka kita punya masalah. Titik api di atas permukaan bumi sudah ada sejak jutaan tahun. Catatan geologi tertua bahkan berasal dari 400 juta tahun lalu. Kebakaran-kebakaran semacam itu bisa kita buktikan saat ini, di kawasan dengan cadangan batu bara yang terbentuk dari hutan yang terendam. Kawasan seperti di Brazil ini banyak terpengaruh oleh api.

Apakah kebakaran hutan membantu keragaman flora dan fauna?

Prof. Johann Georg Goldammer

Prof. Johann Georg Goldammer

Kalau kita melihat api, vegetasi dan kawasan hutan dari kaca mata ekologi api dan bukan dari sudut pandang pemadam kebakaran, kita bisa membedakan berbagai jenis ekosistem. Ada ekosistem yang peka terhadap api, seperti misalnya hutan tropis. Api bisa sangat berbahaya di kawasan ini, karena bisa memusnahkan kandungan flora dan fauna di dalamnya. Ada juga ekosistem yang memiliki tingkat toleransi besar terhadap api. Tapi ada juga ekosistem atau flora dalam bentuk yang paling ekstrem, mereka bergantung pada api dan tidak mungkin bertahan hidup tanpa keberadaan sumber panas tersebut.

Kalau kita melihat kawasan budi daya yang digunakan manusia selama ribuan tahun untuk pertanian, peternakan atau juga yang dibuka dengan cara dibakar, di sini terdapat jenis flora dan fauna yang sama sekali berbeda dibandingkan di hutan tertutup misalnya. Dan menariknya, ekosistem semacam itu tidak cuma terdapat di Brazil atau Amerika Utara, melainkan juga di Eropa.

Lantas bagaimana bentuk manajemen api yang baik?

Kita seharusnya berusaha menemukan garis tengah antara alam dan api. Api selalu ada, dalam dimensi yang berbeda-beda, di berbagai interval sejarah geologi bumi. Jika manusia menduduki suatu tempat dan memanfaatkannya untuk kebutuhan pribadi, maka itu akan berujung pada sebuah konflik. Di satu sisi kita harus memperhatikan ekologi api di alam dan lahan budi daya, di sisi lain kebutuhan manusia atas lingkungan tanpa polusi asap atau ancaman terhadap rumah pribadi. Maka dari itulah kita menemukan istilah manajemen api untuk mencari kompromi.

Konflik apa saja yang muncul?

Kita baru akan memiliki masalah jika manusia mengganggu vegetasi alami dan dari situ membuka lahan pertanian atau peternakan. Ini adalah zona konflik pertama. Masih ada banyak lagi. Di sebagian negara, penduduknya sudah bosan hidup di dalam kota-kota besar. Rumah-rumah bermunculan di tempat-tempat terpencil yang menjadi rumah alaminya api. Kalau kita memperhatikan, bahwa di Amerika Utara kebakaran hutan memusnahkan ratusan pemukiman penduduk, maka yang kita saksikan adalah zona konflik dan di sinilah kita harus menerapkan manajemen api.

Apakah manajemen api berarti pemadaman atau jika perlu malah menyulut kebakaran?

Memang begitu. Sejak dulu kita melihat api sebagai musuh dan berusaha memadamkannya. Cara itu menimbulkan lusinan masalah baru. Api yang melahap vegetasi dalam siklus alami, membersihkan kawasan yang bersangkutan dari bahan-bahan yang mudah terbakar, sehingga jika pun ada kebakaran, skalanya relatif kecil.

Tapi jika kita berusaha memadamkan atau mencegah kebakaran hutan, maka hutan ini akan menumpuk materi-materi yang mudah terbakar yang biasanya dilahap oleh kebakaran tahunan. Di sinilah terletak potensi kebakaran terbesar sehingga api tidak bisa lagi dokontrol.