1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Godfather Heroin Wafat

Bekas kroni terkenal junta militer yang pernah berkuasa di Myanmar, dan dijuluki oleh Amerika sebagai “Godfather Heroin“ setelah puluhan tahun menjual obat bius ke seluruh dunia, meninggal dunia di usia 80 tahun.

Lo Hsing Han, adalah seorang pedagang heroin besar sejak tahun 1970an, berhasil terhindar dari hukuman mati di awal karirnya sebagai penjual obat bius. Ia kemudian bahkan menjadi seorang taipan salah satu perusahaan terbesar Myanmar lewat kisah hidup yang turun naik seperti roller-coaster yang membuat ia mendapatkan kekayaan besar.

Bersama partner bisnis sekaligus anaknya Steven Law, ia menjadi target Departemen Keuangan Amerika atas sejumlah sanksi sejak tahun 2008. Keduanya dijuluki “Dua Kunci Operasi Keuangan Rezim Burma” atas hubungan bisnis mereka yang dekat dengan para bekas jendral Myanmar.

Dalam sebuah obituary media milik pemerintah, pihak keluarga mengatakan Lo Hsing Han dinyatakan meninggal pada larut malam hari Sabtu lalu, dan akan dimakamkan di Yangon pada 17 Juli mendatang.

Ucapan Duka dari Rezim

“Kesedihan kami sama besar dengan keluarga yang ditinggalkan dan kami mendoakannya dalam damai,” kata Menteri Pertanian Myanmar Myint Hlaing, dalam sebuah pesan duka yang dicetak harian milik pemerintah Myanma Alinn dan the Mirror.

Lo Hsing Han menjadi terkenal pada masa ketika Myanmar, lewat wilayah “Segitiga Emas”, menjadi pusat produksi heroin dunia.

"Lo Hsing Han, yang dikenal sebagai ‘Godfather Heroin' telah menjadi salah satu pedagang heroin kunci dunia sejak awal tahun 1970'an,” kata seorang pejabat di Badan Pengendali Aset Luar Negeri, Departemen Keuangan Amerika pada tahun 2008.

Bangsawan obat bius itu ditangkap pada tahun 1973 dan dijatuhi hukuman mati. Tapi pada tahun 1980 ia mendapat amnesti dan kurang dari satu dekade kemudian ia diduga telah membantu rezim militer dalam negosiasi dengan para pejuang pemberontak komunis.

Orang Paling Kaya

Pada tahun 1992 ia mendirikan perusahaan Asia World, yang menjadi salah satu perusahaan paling kaya di Myanmar -- yang mendapat kemudahan memenangkan berbagai kontrak menggiurkan dari junta militer.

"Asia World telah menyediakan dukungan penting bagi rezim Burma dan menerima sejumlah konsesi yang menguntungkan dari pemerintah, termasuk pembangunan pelabuhan, jalan raya, dan berbagai fasilitas milik pemerintah,” demikian pernyataan Departemen Keuangan Amerika.

Steven Law “bergabung dengan kekaisaran ayahnya pada tahun 1990'an dan sejak itu menjadi salah satu orang paling kaya di Burma,” demikian isi dokumen Departemen Keuangan Amerika, yang merujuk nama lama negara itu.

Myanmar hingga kini masih merupakan produsen terbesar kedua opium dunia -- yang merupakan bahan mentah untuk heroin -- setelah Afghanistan, yang meliputi 10 persen produksi dunia, menurut perhitungan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah obat bius dan kejahatan.

ab/hp (afp,dpa,ap)

Laporan Pilihan