1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Gila Sepakbola

Andibachtiar/as/rzn2 Februari 2015

Australia, juara baru Asian Cup kini menarget titel juara Piala Dunia. Sementara Indonesia tetap terpuruk pada utopia bahkan untuk sekedar jadi juara Asia. Sebuah ulasan dari Andibachtiar Yusuf.

https://p.dw.com/p/1EULt
Symbolbild Fußball Bundesliga
Foto: picture alliance/Norbert Schmidt

“Ini adalah turnamen Sepakbola terbesar yang pernah diselenggarakan di benua Australia!” ujar Alistair Mortyn, seorang penggemar Sepakbola dari Australia, sahabat lama saya yang selalu mendambakan Sepakbola bisa menjadi olahraga utama di negerinya. Al percaya bahwa negeri kanguru memiliki segala potensi untuk menjadi salah satu elit dunia. Fasilitas lapangan yang memadai, akademi Sepakbola yang sungguh berjenjang, sampai ke perhatian pemerintah yang besar pada olahraga……

Perhatian besar pemerintah? Nanti dulu! “Pemerintah seolah menghalangi Sepakbola bisa segera menjadi bagian dari negeri ini,” kisah Al tentang bagaimana Sepakbola sulit menembus Australia “Tontonan yang sungguh terbatas dan perkenalan yang tidak masif membuat Sepakbola sulit menjadi permainan pilihan utama disini,” menurutnya, pemerintah Australia mengedepankan segala sarana, prasarana sampai siaran langsung Australian Football karena mereka merasa Australia sebagai sebuah entitas baru butuh permainan yang khas sebagai identitas mereka.

“Saat kami menaklukkan Inggris di Piala Dunia 1950, itu sebenarnya adalah momentum untuk mempopulerkan Sepakbola,” ujar Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat era Presiden Ronald Reagan. Ia lalu menjelaskan bahwa Amerika sebagai bangsa harus memiliki identitas sendiri dan jika mereka bermain Sepakbola layaknya bangsa-bangsa di Eropa maka bangsa Amerika di masa depan akan menemukan kesulitan untuk menjelaskan identitas diri mereka yang terpisah dari Eropa.

Maka seperti Australia di masa lalu, Amerika Serikat pun membatasi siaran langsung Sepakbola di negeri itu. Walau di kemudian hari kedua bangsa sadar bahwa permainan ini adalah kunci menuju pergaulan dunia sesungguhnya, Sepakbola tak pernah jadi permainan utama di kedua negara tersebut. Permainan ini praktis “hanya” jadi salah satu olahraga yang dimainkan di kedua negara beriringan dengan banyak olahraga permainan atau non permainan lainnya.

Faktanya, kedua negara mampu terus berturut-turut lolos ke Piala Dunia dan menjadi tim yang selalu diperhitungkan. Selalu menjadi tim yang dianggap mampu menyulitkan. Australia bahkan mampu menyingkirkan Kroasia di Piala Dunia 2006 yang praktis sudah jadi langganan Piala Dunia sejak pertama kali mereka merdeka di pertengahan 90an. Kekalahan Amerika Serikat di gelaran tahun lalu pun dianggap sebagai sebuah tragedi, karena mereka mampu mendominasi Belgia yang praktis turun dengan pemain yang bermain di liga elit Eropa.

Faktanya, memang tak perlu jadi olahraga utama di sebuah negara untuk bisa memiliki sebuah tim Sepakbola yang tangguh. Di Jepang Sepakbola hanyalah permainan nomer 2 setelah Baseball (sebagian bahkan mengatakan nomer 3 setelah Sumo), juga di Korea Selatan bahkan Perancis yang pernah jadi juara dunia itu. Di negeri kita, Sepakbola adalah olahraga paling utama tanpa ada permainan kedua yang mampu menandingi popularitas Sepakbola. Permainan yang terus dibahas sepanjang 24 jam tak kenal waktu tanpa perlu ada turnamen besar seperti Piala Thomas di bulutangkis yang melibatkan tim nasional kita misalnya.

Satu-satunya permainan yang mampu membuat Menpora turun tangan membentu sebuah tim yang ditugaskan memantau federasi Sepakbola kita. Tak ada permainan yang begitu dibicarakan mulai dari warung kopi pinggir kali, bar mahal di Kemang sampai di ruang nongkrong di pinggir mal…... nyaris tak kenal waktu, karena di jam tidur pun bangsa kita rela begadang demi siaran langsung dari Eropa, Amerika bahkan Afrika.

Sebegitu besarnya Sepakbola sampai kelompok penggemar klub Eropa bisa berkelahi dengan klub liga Eropa lainnya layaknya mereka fasih dan paham budaya di negara asal klub yang “mereka bela” tersebut. Saat tim nasional kalah, maka semua akan berteriak betapa rusaknya federasi Sepakbola kita. Padahal Tinju yang rutin melahirkan juara dunia kini bagai nyaris punah tak punya masa depan atlet potensial, Tenis Meja tak pernah terdengar, Pencak Silat lebih dikenal filmnya lewat The Raid (Gareth Evans, 2011) daripada prestasinya, Bulutangkis makin kewalahan bahkan cuma untuk menaklukkan Jepang, Panahan? Ah siapa yang ingat mereka adalah penyumbang pertama emas Olimpiade untuk kita.

Sepakbola memiliki tempat yang sungguh spesial di hati bangsa dan media. Ruang-ruang besar diberikan padanya jika tim nasional bertarung di turnamen level rendah tanpa iming-iming kenaikan ranking FIFA seperti AFF Cup, juga diberikan saat Piala Eropa yang terjadi di belahan dunia lain berlangsung, atau saat Piala Dunia—dunia utopis bangsa kita—terus berlangsung.

Peristiwa sebesar apapun yang terjadi di negeri ini, maka Sepakbola mampu meredam peristiwa itu dengan segala “kebesarannya” karena memang permainan ini tak hanya populer, tapi juga merasuki bangsa kita. Masalahnya…..hanya kita yang tahu bahwa kita gila Sepakbola, bangsa lain sama sekali tak paham—kecuali jika mereka pernah tinggal di Indonesia—karena toh kita sama sekali tak ada di peta Sepakbola dunia. Jangankan mampu ke Piala Dunia, bahkan jikapun mampu lolos Piala Asia—1996, 2000, 2004, 2007—kita hanya dipandang sebelah mata…..duri kecil yang bisa nyelip di gigi tapi tak mampu memberi gangguan apa-apa.

Lalu…..apa guna terlalu gila pada Sepakbola?

Andibachtiar Yusuf, Pembuat film dan pengamat sepakbola.

Twitter: @andibachtiar