Gerakan Anti Vaksin Bantu Ciptakan Wabah Difteri? | Sosial&Budaya | DW | 08.12.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Gerakan Anti Vaksin Bantu Ciptakan Wabah Difteri?

Wabah difteri mengamuk di 20 provinsi dan menyebabkan 32 kasus kematian. Pemerintah turun tangan dengan menggelar program imunisasi massal. Namun kelompok anti vaksin adalah yang paling rentan terhadap infeksi

Di tengah wabah difteri yang melanda 20 provinsi, Kementerian Kesehatan melancarkan program imunisasi massal secara gratis untuk meredam penyebaran penyakit yang sejauh ini telah menewaskan 32 orang itu, termasuk anak-anak.

"Ini adalah peristiwa luar biasa karena wabah difteri di 2017 tidak mengenal batas usia. Korban paling muda berusia tiga setengah tahun, sementara tertua berusia 45 tahun," kata Muhammad Subuh, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan.

Menurut data Kemenkes, hingga November 2017 pihaknya mencatat 593 kasus difteri. Subuh mengklaim 66% korban infeksi tidak mendapat imunisasi, sedangkan 31% hanya mendapat separuh jumlah vaksin yang diperlukan buat menghadang difteri.

Adalah gerakan anti vaksinasi yang ikut ditengarai mempermudah penyebaran penyakit berbahaya. "Di Jatim kenapa masih tinggi? Karena banyak yang tidak mau divaksinasi. Ada yang bilang mengandung babi. Itu tidak betul," kata Dr. Agus Hariyanto kepada CNN Indonesia.

Hal senada diungkapkan pendiri Rumah Vaksin dr. Piprim Basarah Yanuarso "Seruan anti vaksin bukan main-main bisa bikin wabah bermunculan ke mana-mana. Kalau orang tua yang galau ini sampai 40 persen dari populasi wabah bisa bangkit kembali," ujarnya seperti dikutip Detik.com.

Sikap antipati terhadap vaksinasi sempat mencuat September silam menyusul polemik sertifikasi halal vaksin campak dan rubella (MR). Saat itu Majelis Ulama Indonesia turut menabur keraguan terhadap vaksin MR karena membebaskan orangtua dalam memilih imunisasi.

"MUI dalam kapasitas tidak menghalalkan dan tidak mengharamkan karena belum diproses. Tetapi yang ragu dan belum yakin halal dan menolak ya tidak apa-apa," ujar Prof. Hasanuddin, Ketua Komisi Fatwa MUI, kepada Detik.com.

Gerakan anti vaksin juga menguat berkat kemunculan tokoh masyarakat yang secara terang-terangan menolak imunisasi, meski telah dibantah dunia medis.

Difteri adalah penyakit lama yang sebenarnya mudah dicegah dengan memberikan vaksin DPT tiga kali seumur hidup dengan jarak 10 tahun. Akibat penemuan vaksin, angka pengidap difteri yang tadinya berjumlah satu juta kasus per tahun di seluruh dunia sebelum dekade 1980an, menyusut menjadi 4.500 kasus di dunia pada 2015 siilam.

Menurut Kementerian Kesehatan, Indonesia sebenarnya sudah terbebas dari wabah difteri sejak tahun 1990an akibat program imunisasi nasional. Namun pada tahun 2009, kasus infeksi difteri kembali meningkat. Bahkan angka kematian akibat penyakit ini sejak 2015 telah mencapai 502 kasus.

rzn/yf (kompas, detik, cnnindo, tribun)

 

Laporan Pilihan