1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Gerakan Anti Islam di Jerman Tidak Lagi Atraktif

Kelompok anti Islam di Jerman-Pegida pecah, setelah 5 pentolannya menyatakan mundur. Isu anti Islam diperkirakan tidak lagi atraktif dan memainkan peranan penting.

Kejutan di pekan lalu adalah mundurnya lima pentolan gerakan anti Islam dan anti warga asing di Jerman-PEGIDA gara-gara konflik internal. Secara de facto gerakan itu sebetulnya sudah pecah, karena 7 pentolan yang masih bertahan kewalahan mengorganisir aksinya. Pada puncak kejayaannya beberapa pekan silam, aksi Pegida di kota Dresden dihadiri hingga 25.000 pendukung kelompok tersebut.

Pemicu ambruknya gerakan anti warga asing itu dimulai dengan mundurnya salah seorang pendiri, Lutz Bachmann gara-gara berpose sebagai Hitler di akun facebooknya. Bachmann yang pernah dipenjara karena sejumlah kasus kriminal juga disidik oleh mahkamah konstitusi terkait tudingan menghasut dan menyebarkan kebencian massal.

Tapi walaupun menyatakan mundur, Bachmann masih berusaha memainkan pengaruhnya dalam jajaran pimpinan Pegida yang disebut Orga-Team. Inilah yang memicu sengketa internal dan menyebabkan lima pentolan lainnya mundur. Mereka adalah waki ketua anti-Islam Rene Jahn, jurubicara gerakan Kathrin Oertel serta anggota Orga-Team, Thomas Tallacker, Achim Exner dan Bernd-Volcker Linke.

Mereka yang hengkang dari Pegida mengklaim, dalam waktu dekat akan membentuk kelompok baru, dan akan tetap mengusung tema anti pemohon suaka, menentang politik imigrasi dan anti warga migran.

Konstelasi baru

Sejumlah pakar politik di Jerman, sebelumnya sudah meramalkan bakal pecahnya kelompok anti Islam itu. "Sayap gerakan ini, yakni kelompok moderat dan kelompok radikal, sebetulnya terpecah. Tawaran dialog dari partai politik makin menyurutkan hasrat melakukan provokasi", ujar Prof.Werner Josef Patzelt pakar politik dari Universitas Teknik Dresden.

Para pentolan Pegida juga dinilai kewalahan mengorganisir aksi demonstrasi yang makin besar, karena tidak punya tokoh karismatik, program politik yang jelas dan pemikiran konseptual. "Ini ibarat kebakaran semak dan bara api yang tersisa", ujar pakar politik dari Dresden itu.

Analisa para pakar politik menyebutkan, perpecahan di dalam gerakan anti Islam itu akan memicu konstelasi baru. Kelompok neo Nazi atau radikal kanan dari gerakan itu akan bergerak mandiri dan bertindak makin radikal. Tapi kelompok radikal ini akan mendapat perlawanan semakin gencar dari masyarakat Jerman.

Kelompok yang lebih moderat, diperkirakan akan dirangkul oleh partai politik yang sehaluan dengan mereka, seperti partai anti-Eropa dan juga anti pemohon suaka "Partai Alternatif-AfD". "Kelompok ini akan dirayu untuk mengintegrasikan tuntutannya dalam sistem parlementer yang berlaku", kata Matthias Quent pakar sosiologi dari Universitas Friedrich Schiller di Jena.

Sementara sisanya yakni mayoritas peserta demo, yang disebut "para pejalan kaki yang ikut-ikutan" akan bubar sendiri. Posisi mereka lemah, dan perlu orang kuat untuk menggerakkannya lagi dalam aksi. Sementara agenda politik sebenarnya aksi tersebut tidak mereka mengerti.

as/ml (dpa,rtr,afp,epd)

Laporan Pilihan