1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Generasi 89 dan Pandangan Mereka terhadap Sejarah

Tahun 1989 adalah tahun terobosan bagi seluruh Eropa juga bagian lain dunia. Para diktator sosialis blok timur ambruk bersama-sama. Di Jerman, Tembok Berlin runtuh.

default

Gambar simbol Generasi 89

Generasi 89, mereka yang lahir di tahun, ketika Tembok Berlin runtuh dan tumbuh sejalan bersama proses penyatuan kembali Jerman……………………

Berlin Kreuzberg. Cafe-cafe di jalan Bergmann menyediakan meja dan kursi bagi tamu yang ingin duduk di luar. Pengendara sepeda lalu lalang. Pejalan kaki melewati deretan toko Turki, toko barang antik dan kedai-kedai dengan kain India aneka warna. Suasananya agak multi kultur, alternatif dan agak memasyarakat. Esra Chamma besar di lingkungan ini. Waktu ia dilahirkan, tak jauh dari sini masih berdiri Tembok Berlin. Kreuzberg dulu termasuk Berlin Barat.

"Berlin tetap campur aduk aneka warna. Banyak orang gila di kota ini, tapi gila dalam tanda kutip. Orang desa mungkin akan menyebut mereka gila, tapi menurut saya mereka hanya menikmati hidup," tutur Esra, yang baru menamatkan sekolah menengah tahun ini. Sejak musim gugur ia terdaftar sebagai siswi sekolah akting di Berlin dan bercita-cita jadi pemain drama.

Tak lama setelah Ezra lahir, Tembok Berlin roboh. Berlin Barat dan Timur menjadi satu kota. Jerman Barat Timur saling berkenalan lagi. Bahwa Berlin dulu terbagi dua, lama tak disadarinya. "Lapangan Alexander masuk Berlin Timur nggak? Berarti saya untuk pertama kalinya ke Berlin Timur waktu kelas 6. Waktu itu sih orang-orang di sana terlihat biasa saja. Sekarang baru saya menyadari situasinya."

Baru pada pelajaran sejarahlah Esra mengalami pembagian kota itu. Mengenal bagian timur Berlin dalam arti sesungguhnya, baru ia alami tahun 2008 lalu. Temannya, Samuel, waktu itu tinggal di Köpenick, sebuah pemukiman pekerja di Berlin Timur.

"Orang-orang di Köpenick lain. Masih banyak prasangka di sana. Orang asingnya sedikit. Dan banyak A… saya nggak mau bilang asosial, tapi pecandu alkohol dan orang asosial di sana lebih banyak daripada di sini,“ papar Esra.

Ibu Esra berasal dari Turki, sementara ayahnya Libanon. Daripada perbedaan karakter antara Berlin barat dan Timur, Esra lebih memahami perbedaan mental antara warga Berlin asal Turki, Arab dan asli Jerman. Sebaliknya, teman Esra, Samuel, bisa menerangkan lebih banyak, apa yang membedakan warga Berlin Barat dan Timur.

"Perbedaannya seperti siang dan malam. Saya tinggal di timur Berlin sampai kelas 4, SD saya di Presnzlauer Berg. Perkawanan di kelas kami menyenangkan, tidak ada permusuhan. Kelas 5 saya pindah ke Kreuzberg, Berlin Barat. Wah murid-muridnya bicara tentang hal yang saya tidak mengerti, seks misalnya. Semua pakai barang bermerk. Sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Separuh murid di kelas saya orang asing. Buat saya kondisinya menyebalkan. Seperti di film, orang harus hati-hati supaya tidak diejek kalau salah bicara," ungkap Samuel.

Pengalaman hidup di bekas Berlin Timur bisa diceritakan dengan rinci oleh Wenke Ludwig, yang juga lahir tahun '89, setelah Tembok Berlin runtuh dan Jerman bersatu kembali.

Setiap hari Wenke Ludwig menyempatkan diri datang ke taman Weißensee, danau Weißen, di timur laut Berlin. "Saya selalu kagum melihat pemandangan di danau ini. Ada angsa, burung bangau, bebek. Keindahan alam yang masih dipertahankan di sebuah kota besar."

Sejak 1,5 tahun lalu Wenke tinggal di apartemen mahasiswa di dekat Weißensee. Ia belajar ilmu biologi dan ingin jadi ilmuwan. Cita-cita yang tak sesuai keinginan ibunya. "Ibu saya dulu ingin jadi atlit ice skating, tapi tidak bisa karena ia besar di desa dan ia terlalu kuat. Jadi ia mengirim saya dan abang saya untuk belajar ice skating. Abang saya tidak bisa meneruskan karena ia juga terlalu kuat. Saya mulai pada usia tiga tahun dan menekuninya sampai umur 15 tahun. "

Wenke belajar di sekolah khusus untuk atlit, peninggalan Republik Jerman Timur, DDR. Eiskunstlaufen adalah salah satu cabang olahraga yang banyak dipertunjukkan di DDR. Bintang-bintang seperti juara olimpiade dua kali Katarina Witt, adalah kebanggaan rejim, tapi juga dicintai rakyat. Setelah perubahan arah politik, sekolah olahraga lama itu diintegrasikan ke dalam sistem baru.

Pada usia 15 tahun, Wenke memutuskan berhenti. Ia merasa sangat tertekan dan tidak bisa berprestasi lagi. Namun ia masih boleh tinggal di sana untuk melanjutkan sekolahnya. Para guru sudah mengajar di sana sejak masa DDR. Murid-muridnya pun semua berasal dari keluarga penduduk asli Jerman Timur.

"Bagi saya, DDR bukanlah negara melainkan sebuah masa, periode waktu. Waktu saya berumur 9 atau 10 baru saya paham bahwa DDR itu negara. Bahwa ada dua Jerman yang berbeda. Tapi DDR bagi saya tetap sebuah masa yang positif."

Tentu saja, kata Wenke, dia tahu bahwa DDR adalah negara diktator. Namun soal kediktatoran itu tak banyak meninggalkan jejak dalam ingatan orangtua dan guru-gurunya. Sebuah dunia penuh nostalgia yang bagi Wenke tidak terlalu cocok dengan pameran atau buku-buku dewasa ini tentang Jerman Timur. Wenke sendiri menginjak Berlin Barat untuk pertama kalinya pada usia 15, setelah tidak lagi menjadi atlit ice skating.

"Dan pengalaman itu bagi saya, sampai sekarang, sangat aneh. Buat saya, Berlin Barat tidak terlalu bagus. Saya tidak kerasan di sana. Semua tampak sangat steril dan kelabu. Setiap kali ke sana terasa aneh, dari dulu sampai sekarang."

Semakin banyak Wenke Ludwig mengenal warga Berlin Barat, semakin ia menyadari adanya perbedaan karakter. Orang Berlin Barat lebih individualis, kurang solider, lebih berorientasi pada materi. Kesan ini sama dengan yang selalu ia dengar dari orang Jerman Timur yang berusia lebih tua darinya.

"Saya memang lahir tahun '89 dan sebetulnya tidak secara langsung mengalami hidup di era Jerman Timur. Tapi saya menyadari bahwa saya mewarisi banyak mentalitas Jerman Timur dan karakter saya khas kaum timur, Ossi."

Mathias Bölinger/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid