1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Gene Sharp dan Pengantar Revolusi Damai

Namanya tidak begitu terkenal. Pria ringkih itu berusia 83 tahun dan mengembangbiakkan anggrek. Tetapi ia adalah pria yang paling ditakuti diktator. Gene Sharp adalah teoretikus perlawanan tanpa kekerasan.

default

Gene Sharp

Bukunya yang berjudul "From Dictatorship to Democracy", atau dari kediktatoran menuju demokrasi, tebalnya tidak sampai 100 halaman, tetapi itu menjadi pengantar untuk menjatuhkan rejim yang otoriter. Walaupun sudah berusia 83 tahun, Gene Sharp masih bekerja setiap hari.

Dengan langkah yang lambat ia berjalan ke kantornya. Ia tidak perlu berjalan jauh, karena rumahnya yang berlokasi di bagian timur kota Boston, Amerika Serikat juga menjadi kantor Institut Albert Einstein yang didirikannya. Institut itu hanya punya dua pekerja, Gene Sharp dan kepala institut Jamila Raquib, yang memulai hari kerjanya dengan membaca semua permintaan informasi dari luar.

Pertanyaan Yang Lumrah

Kembali ada orang yang bertanya, apakah ada terjemahan untuk bukunya dalam bahasa Cina dan Somalia. Pertanyaan seperti itu sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Datangnya bisa dari mana saja, demikian dikatakan Gene Sharp sambil berpikir serius.

Pria kebangsaan Amerika Serikat itu telah menulis buku yang menjadi "bestseller", dan ia menjualnya dalam jumlah besar, tanpa mengantongi keuntungan sama sekali. Buku yang hanya terdiri dari 93 halaman itu memiliki kekuatan yang dapat dirasakan di seluruh dunia.

Dari Myanmar sampai Bosnia, dari Mesir sampai Zimbabwe, di mana-mana muncul saran praktis yang diberikan Gene Sharp, bagaimana cara melaksanakan revolusi tanpa kekerasan. Sarannya yang paling penting: perencanaan sebaik mungkin.

Cari Kelemahan Diktator

Bukunya, dari kediktatoran menuju demokrasi, sudah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa. Edisi bahasa Indonesia diterbitkan tahun 1997, "Menuju Demokrasi Tanpa Kekerasan: Kerangka Konseptual Untuk Pembebasan". Buku itu ditulisnya tahun 1993 setelah melakukan perjalanan ke Myanmar, yang dulunya bernama Birma.

Di negara itu, ia secara diam-diam mengajarkan perlawanan tanpa kekerasan. Untuk itu ia sudah mengumpulkan 198 metoden. Mulai dari boikot pemilu, aksi mogok makan dan aksi pendudukan di sebuah lokasi, semuanya berupa kerjasama untuk menolak pemerintah.

Ada banyak cara untuk mengatakan "tidak“ di negara, di mana polisi menekan rakyat, demikian Sharp. "Cari tahu, di mana kekuatan rejim itu, dan di mana kelemahannya,“ demikian dikatakan penulis itu dalam film dokumenter tentang dirinya yang akan dipublikasikan tahun ini. "Setiap kediktatoran punya kelemahan," demikian ditambahkan Sharp.

Perjuangan Damai

Ia mempropagandakan perjuangan damai untuk hak-hak kebebasan. Gene Sharp menghabiskan hidupnya dengan masalah perlawanan damai. Ia tentu telah mempelajari secara intensif antara lain hidup dan tulisan-tulisan Mahatma Gandhi serta Martin Luther King.

Ketika remaja, ia terpukul dengan kekuasaan NAZI di Eropa yang mengerikan. Ketika direkrut untuk ikut dalam perang Korea, ia menolak sehingga dipenjara sembilan bulan. Pakar ilmu politik itu mengajar lebih dari 30 tahun di Universitas Harvard. 1973 ia menulis karya utamanya "The Politics of Nonviolent Action" atau politik aksi tanpa kekerasan.

Tidak Kerjasama dengan Pemerintah

Sharp adalah pemikir yang pendiam dan lebih senang menyendiri. Tetapi saran-sarannya dihayati dalam aksi protes damai di Ukraina dan Georgia, juga di daerah Semenanjung Balkan dan Mesir. Ia tidak percaya, bahwa orang yang tidak memiliki senjata tidak punya kekuatan di dalam sebuah rejim.

Pesan inilah yang menyebar ke seluruh dunia. Pemerintah Venezuela, Iran atau Myanmar menjelek-jelekkan Sharp. Ia disebut agen CIA dan bertugas menyebabkan kerusuhan. Sharp hanya dapat tersenyum dengan lelah. Ia tidak akan pernah bekerjasama dengan pemerintah manapun, bahkan tidak dengan pemerintah negaranya sendiri, juga tidak untuk uang. Ia lebih senang menulis buku berikutnya dan terus mengembangbiakkan anggrek di rumahnya yang kecil dan sederhana, di bagian timur kota Boston.

Nicole Markwald / Marjory Linardy

Editor: Hendra Pasuhuk