1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Gelombang Teror di Eropa Bakal Berlanjut

Strategi baru Islamic State dengan memanfaatkan individu tanpa afiliasi apapun untuk menjalankan serangan teror membuat Eropa kalang kabut. Pengamat meyakini gelombang teror belum akan berakhir.

Eropa tidak habis-habisnya didera serangan teror. Terakhir dua simpatisan Islamic State membunuh seorang pendeta di Normandy, Perancis, dan menyandera jemaat saat misa di pagi hari.

Presiden Francois Hollande menyebut serangan tersebut "pembunuhan oleh pengecut" dan Perancis akan memerangi ISIS "dengan segara cara". Bahkan Paus Fransiscus meratapi "horor" yang ditimbulkan oleh tindak "kekerasan absurd."

Serangan di Perancis bernilai simbolik. Kota Saint-Etienne-du Rouvray selama ini dikenal tenang dan berada di luar radar terorisme. Maka serangan ISIS dianggap membawa pesan horor, bahwa tidak ada lagi tempat yang aman dari kejaran kelompok teror tersebut.

Pakar terorisme meyakini gelombang serangan teror di Eropa belum akan berakhir. "Skenario ini sudah diramalkan sejak lama," kata Rick Nelson, Analis dari Center for Strategic and International Studies kepada USA Today. "Saya tidak melihat fenomena ini akan mereda."

Hal serupa diungkapkan pengamat senior terorisme Israel, Boaz Ganor. Gelombang jihad di Eropa "sayangnya belum mencapai puncaknya," ujar pendiri dan direktur International Institute for Counter-Terrorism di Herzliya kepada Jerusalem Post.

Infografik Karte IS Terroranschläge weltweitet Englisch

Serangan teror oleh Islamic State di seluruh dunia

"Masyarakat Eropa belum terbiasa dengan fenomena ini," tuturnya. "Serangan semacam itu terinspirasi oleh ISIS, tapi pelakunya tidak serta merta aktif secara operasional atau disokong secara langsung oleh ISIS."

ISIS diyakini menerapkan taktik baru di Eropa. Dengan mengorbankan efektifitas, ISIS bisa menggandakan jumlah serangan di Eropa. Terlebih kelompok pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi itu membidik negara-negara yang bernilai simbolik tinggi, seperti Perancis, Jerman, Inggris atau Italia.

Selasa (27/7) kepolisian Italia menangkap dua pria asal Maroko yang diduga kuat menyebarkan propaganda Islamic State lewat media sosial. Kedua tersangka memiliki catatan kriminal seputar perdagangan obat bius. Belum jelas apakah pelaku termasuk dalam sel teror ISIS di Eropa, atau cuma sekedar simpatisan tanpa afiliasi apapun.

Perancis adalah negara yang paling sering dibidik kelompok teror Islamic State. Sejak serangan mematikan di Paris, November silam, hampir 250 orang tewas akibat teror di Perancis.

rzn/ap (dari berbagai sumber)

Laporan Pilihan