1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Garis Tipis antara Tradisi Lokal dan Perburuhan Anak di Sumba

Di titik mana warisan budaya berubah menjadi perburuhan anak? Kisah joki di Sumba mungkin bisa memberi jawaban. Tekanan orangtua tanpa disadari mengubah anak-anak berusia 4 tahun menjadi penafkah keluarga.

Ade mengenakan helm dan bersiap untuk balapan kuda berikutnya. Usianya baru 7 tahun, tapi itu tidak menghentikannya untuk menjadi seorang joki profesional.

Ia bahkan punya bekas luka untuk membuktikannya: sebelah mata lebam karena jatuh dari kuda. Tak ayal, ia tidak memakai sepatu saat bersiap-siap. Joki anak-anak selalu telanjang kaki saat balapan.

"Ia sudah bekerja sebagai joki profesional sejak usia 4 tahun," ayah Ade berkisah kepada DW. "Kami mulai mengajarinya balap kuda pada usia tiga setengah tahun. Sekarang ia seorang penunggang kuda andal."

Ayah Ade membantu anaknya naik ke atas seekor kuda setinggi satu setengah meter. Ade pun siap menungganginya tanpa pelana.

Balapan dimulai. Hari itu cuaca cerah di Sumba. Ade mengelilingi pacuan kuda, memegang erat surai kuda setiap tikungan. Ia berhasil finish kedua.

"Saya lelah," ucap Ade. Ini balap ketiganya dalam sehari. Ayahnya terlihat puas seraya Ade mendapat bayaran sebesar Rp. 50.000,-

Sebuah kompetisi di Sumba berlangsung selama 11 hari dan menarik hampir 600 joki dan kuda

Sebuah kompetisi di Sumba berlangsung selama 11 hari dan menarik hampir 600 joki dan kuda

Buruh anak-anak

Di Indonesia, anak-anak di bawah usia 15 tahun dilarang bekerja. Namun Ade dan abangnya yang berusia 9 tahun, Enid, adalah penafkah keluarga.

Penyelenggara balapan kuda, Umbu Tamba, berargumen bahwa mereka tidak berbuat salah. "Ini adalah tradisi turun-temurun dari nenek moyang, jadi kami tidak melanggar hukum," tegasnya.

Tamda sendiri seorang joki waktu kecil, tuturnya. Meski ia jatuh berkali-kali dari kuda, ia tidak pernah terluka. Dan ia menambahkan, anak-anak tidak dipaksa untuk balapan.

"Siapapun yang bilang demikian hanya ingin memprovokasi dan membuat masalah," katanya. "Tidak ada anak yang dipaksa menjadi joki di sini."

Ibu Ade memandang balap kuda sebagai pekerjaan anak lelakinya. Begitu juga dengan Enid.

"Mereka mengerti kalau ini adalah pekerjaan mereka," ungkapnya kepada DW. "Saat guru mereka bertanya, 'Kenapa selalu bolos sekolah untuk balap kuda?' Mereka menjawab, 'Siapa yang akan membiayai ibu saya dan memberi makan adik kakak saya kalau kami tidak balapan'?"

Setelah 7 hari balapan, ibu Ade mengatakan keluarganya dapat membawa pulang uang sekitar 1.000 Dolar AS. Upah minimum di Indonesia hanya 50 Dolar AS per minggu.

Balapan kuda memberi prestise tersendiri bagi sebuah keluarga di Sumba

Balapan kuda memberi prestise tersendiri bagi sebuah keluarga di Sumba

Kunjungan ke rumah sakit

Usai makan siang, Ade menunggangi kuda lainnya. Di tengah balapan, kudanya menukik tajam, berlari menuju gerbang yang tertutup dan menungging. Ade pun terlempar jatuh.

Kakinya terlihat terluka. Apakah mereka akan membawa Ade ke rumah sakit?

"Kami tidak pernah membawa mereka ke rumah sakit," papar ibu Ade. "Kalau sampai patah kaki, kami harus memakai pengobatan lokal." Ia takut dokter akan mengamputasi kaki Ade, dan karena kondisi keuangan keluarga, ibu Ade mengkhawatirkan tagihannya. "Kalau anak-anak saya pergi ke rumah sakit, mereka pasti meminta uang dan kami tidak punya uang."

Tapi kali ini, kaki Ade hanya memar saja. Ayahnya sudah pernah melihat kondisi yang lebih parah.

"Kami sudah biasa," katanya. "Mereka juga sudah pernah patah kaki."

Dokter Gidion Mbilijora, seorang pemimpin setempat, juga melihat joki anak-anak sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya Sumba. "Ya, ada joki yang berusia 4 dan 5 tahun," terangnya kepada DW. "Tapi ini jatuh pada kategori tradisi lokal."

Apabila joki anak-anak dilarang, lanjutnya, ia akan dihujani protes. "Pemasukan dari balapan kuda menjadi bagian penting dari perekonomian setempat," pungkasnya.

Kembali ke arena pacuan kuda, seorang pemilik kuda mendekati Ade dan memintanya untuk kembali berpacu. Namun Ade menolak untuk pertama kalinya. Ia terlihat lelah dan meringkuk ke pamannya."Cukup sudah," ucapnya.

Begitu ia tumbuh dewasa, Ade harus mencari pekerjaan lain. Joki harus berberat badan ringan. Ia ingin menjadi tentara, menembakkan senjata, tuturnya, sembari meneriakkan "Dor! Dor! Dor!" Ayahnya khawatir anak-anaknya nanti akan bertanya kemana uang hasil balapan mereka. Sang ayah mengatakan ia membeli hewan ternak dan sebuah rumah dengan uang jerih payah kedua anak lelakinya - dan menyisihkan uang untuk biaya SMA serta universitas.

Menjelang sore, Ade berlari di sekitar lapangan kosong, mencoba menangkap jangkrik. Joki anak-anak lainnya sibuk berdansa bersama.

Sekarang, mereka bebas kembali menjadi anak-anak. Setidaknya, sampai esok hari.

Laporan Pilihan