1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Olahraga

FIFPro: Krisis Sepakbola Indonesia Sudah Kronis

Sebuah mimpi keberhasilan, menarik striker berbakat asal Kamerun, Salomon Bengondo, ke Indonesia. Namun kisahnya berakhir dengan kemiskinan, sakit-sakitan dan akhirnya kematian.

Penahanan pembayaran gaji oleh sejumlah klub sepakbola Indonesia mencapai "proporsi bencana besar", demikian menurut serikat pemain sepakbola internasional FIFPro. Dan Bengondo merupakan pemain asing kedua yang diketahui meninggal dunia setelah gajinya tidak dibayar.

Tahun 2012, seorang striker asal Paraguay, Diego Mendieta, meninggal akibat infeksi virus setelah tidak mampu membayar perawatan kesehatan, menyusul berbulan-bulan tidak mendapat gaji.

Bengondo tiba di Indonesia tahun 2005. Ia seorang pemain muda cukup berbakat, yang berharap dapat membangun karier di negara Asia Tenggara terbesar itu. "Ia punya segala peluang, ia punya harapan tinggi," ujar saudara lelaki Bengondo, Beliby Ferdinand, yang ikut tinggal di Jakarta.

Bengondo meninggal dunia akhir November lalu pada usia 32 tahun, akibat tidak mampu membayar perawatan rumah sakit. Bekas klubnya, Persipro Probolinggo, masih utang sejumlah besar uang kepada Bengondo, begitu menurut adik lelakinya.

Kehidupan yang lebih baik?

Seperti banyak pemain sepakbola asal Afrika lainnya, Bengondo datang ke Indonesia untuk mencari gaji yang lebih besar. Meski jumlah gajinya tidak satu liga dengan klub-klub Eropa, tingkat gaji pemain sepakbola di Indonesia masih lebih baik dibandingkan di Afrika.

Ia sangat geram atas perlakuan yang didapatkan, hingga memilih turun ke jalan bersama sesama pemain asal Afrika pada tahun 2012. Tapi rupanya aksi itu tidak memiliki dampak berarti. "Klub tetap tidak berbuat apa-apa," kisah Ferdinand yang berusia 27 tahun.

Brendan Schwab dari FIFPro memperingatkan, masalah kegagalan klub-klub Indonesia untuk membayar gaji atau honor pemain telah mencapai "proporsi yang secara harfiah bencana besar."

"Kami tidak mengenal negara lain di dunia sepakbola, dengan masalah yang menimpa para pemainnya yang lebih parah atau lebih serius dibanding Indonesia," tutur Schwab, kepala divisi Asia FIFPro, kepada kantor berita AFP.

Bukan hanya pemain asing yang tidak dibayar. Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) mengatakan 14 klub dari dua divisi teratas Indonesia masih menunggak gaji untuk musim 2012/2013.

Hanya dibayar sekali

Bengondo sempat bermain untuk beberapa klub, dan akhirnya dikontrak oleh Persipro-Probolinggo untuk musim 2011/12. Namun menurut adiknya, Bengondo hanya menerima 20 juta Rupiah saat bergabung dengan Persipro, dan tidak pernah menerima bayaran lagi.

Ia seharusnya mendapatkan lumsum ekstra dan 16.625.000 Rupiah per bulan selama 8 bulan, begitu menurut salinan kontraknya.

Meski tidak digaji, Bengondo tetap bermain untuk Persipro hingga akhir musim sebelum kembali ke Tangerang, untuk tinggal bersama adiknya.

Ia sudah merasa kurang sehat, merasakan sakit di dada dan juga masalah perut, kata Ferdinand.

Menjelang akhir November, rasa sakitnya bertambah parah dan ia menjalani sejumlah tes di sebuah klinik sebelum diberi obat untuk keluhan rasa sakit di perut.

Kesehatannya terus memburuk. Bengondo ingin dirawat di rumah sakit atau kembali ke Kamerun namun tidak memiliki dana. Seruannya berkali-kali ke Persipro untuk membayarnya tidak diindahkan, ujar adiknya. Ia meninggal dunia pada dini hari 29 November 2013.

Masih menunggu hasil otopsi

Adik lelakinya mengatakan tidak jelas apa sebenarnya penyakit yang diderita Bengondo. Dan hingga kini dirinya masih menunggu hasil otopsi.

Jenazah Bengondo diterbangkan kembali ke Kamerun awal Desember dengan bantuan dana dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Ferdinand, juga seorang pesepakbola namun tidak terikat kontrak dengan klub mana pun, mengatakan dirinya masih berharap mendapatkan uang dari Persipro dan kembali ke Kamerun. APPI juga berusaha membantu.

Ketua umum PSSI Djohar Arifin Husin mengatakan, klub-klub Indonesia bermasalah dengan pembayaran gaji, akibat persaingan ketat untuk mendapatkan sponsor. Sejak 2011 tim-tim profesional dilarang mendapat dana dari pemerintah lokal, sebuah sumber pendapatan yang vital di masa lalu.

Husin bersikeras PSSI tengah berupaya memecahkan masalah penahanan gaji. Ia mengatakan seluruh klub diberi tenggat waktu hingga 15 Januari untuk melunasi gaji-gaji yang ditunggak atau terancam dilarang ikut berkompetisi.

Namun komitmen semacam ini tidak cukup untuk meyakinkan Ferdinand setelah pengalaman pahit yang ia reguk dari dunia sepakbola Indonesia.

"Pemain sepakbola tidak dihormati di negeri ini," katanya.

cp/as (afp, ap)