1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Olahraga

FIFA Restui Teknik Pemindai Gol

Komite peraturan perhimpunan sepakbola dunia-FIFA merestui digunakannya teknik penentu gol. Pemicu keputusan ntara lain kontoversi gol dalam Piala Euro 2012 yang baru usai digelar.

Apakah bola sudah melewati garis gol atau belum? Tema ini selama bertahun-tahun didiskusikan panas dalam cabang sepakbola. Untuk menghindari silang sengketa, mulai Piala Eropa 2009/2010 FIFA telah menetapkan adanya wasit gol. Tapi terbukti kemampuan mata manusiai juga terbatas, sehingga berulangkali terjadi silang sengketa masuk atau tidaknya bola,dalam arti telah melewati garis gol.

Chip im Ball 2

Sistem "GoalRef" memasang chip komputer dalam bola.

Terkait hal itu, dan menimbang munculnya silang sengketa dalam Piala Eropa yang baru usai digelar di Polandia dan Ukraina, komite aturan FIFA-IFAB, setelah berdebat alot di Zürich, memutuskan mengizinkan digunakannya bantuan teknologi pemindai gol. Sejauh ini sudah eksis dua sistem, yakni "HawkEye" yang menggunakan teknik kamera dan dikembangkan di Inggris, serta "GoalRef" yang menggunakan chips komputer dan dikembangkan di Jerman.

Keputusan itu merupakan sebuah revolusi dalam sepakbola dan tugas wasit, yang dibantu hakim garis serta wasit gol. Para wasit selama ini hanya mengandalkan ketajaman matanya, untuk menetapkan masuk atau tidaknya sebuah gol.

FIFA menetapkan, bantuan sistem pembantu teknis itu mula-mula akan diterapkan dalam kejuaraan di tatanan dunia. Ujicoba perdana akan dilakukan pada laga ujicoba klub-klub piala dunia bulan Desember mendatang di Jepang, setelah itu dalam Confederations Cup 2013 dan Piala Dunia di Brazil 2014. FIFA juga menetapkan, pemasangan wasit gol tetap akan dipertahankan.

Teknologi mana yang akan digunakan, keputusannya diserahkan kepada penyelenggara event. Tapi sistem teknik pemindai gol yang digunakan, harus mendapat verifikasi terlebih dahulu dari perhimpunan sepakbola dunia itu.

Andreas Sten-Ziemons/Agus Setiawan

Editor : Dyan Kostermans