1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

FIFA: Mesin Uang Berstatus Nirlaba

Sepp Blatter kembali terpilih menjadi presiden FIFA, setelah lawannya Prince Ali mengundurkan diri dalam putaran kedua. Tidak heran, posisi presiden menjadi incaran. FIFA adalah perusahaan multinasional berkocek tebal.

Presiden Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) tidak cuma sedang menunggangi sebuah organisasi berkocek tebal, tetapi juga dibekali pengaruh yang menggurita hingga ke ujung bumi.

Padahal konsep bisnis organisasi yang bermarkas di Swiss itu tergolong sederhana. Setiap kali Piala Dunia diselenggarakan, FIFA selalu kebanjiran duit. Organisasi yang memayungi federasi sepakbola di 209 negara itu menggantungkan tanggungjawab pembiayaan Piala Dunia kepada masing-masing penyelenggara.

Siapapun yang ingin mendapat hak menyelenggarakan Piala Dunia, harus menjanjikan pembebasan pajak untuk FIFA. Tahun 2006 di Jerman, badan dunia itu dibebaskan dari tunggakan pajak senilai 250 juta Euro. Tidak berbeda dengan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dan Brasil.

Cadangan Dana Bernilai Trilyunan

Selain itu FIFA juga mewajibkan negara penyelenggara agar membuka zona bebas pajak di sekitar stadion Piala Dunia. Yang paling diuntungkan dalam kasus ini adalah mitra dan sponsor FIFA yang bisa meraup keuntungan penuh.

Tapi kocek terbesar berasal dari hak siar yang bernilai selangit. Tahun 2014, FIFA mendapatkan sekitar 742 juta Dolar AS. Ditambah dengan hak marketing senilai 465 juta Dolar AS, FIFA tahun 2014 silam mencatat pemasukan sebesar 1,9 miliar Dolar AS.

Saat ini cadangan dana yang dikuasai oleh FIFA ditaksir bernilai 1,52 miliar Dolar AS atau sekitar 15 triliyun Rupiah.

Mesin Uang Berkat Adidas

Dilahirkan sebagai organisasi nirlaba, FIFA menjelma menjadi "mesin uang" sejak tahun 1974 pada Piala Dunia di Jerman. Saat itu fungsionaris Brasil, Joao Havelange baru saja terpilih sebagai presiden.

Jerman kemudian menawarkan konsep baru buat marketing yang digagas oleh Horst Dassler, putra dari pendiri Adidas, Adolf Dassler. Ia menyadari potensi ekonomi FIFA dan mulai mengumpulkan sponsor-sponsor besar.

Rencana Dassler sederhana. Ia ingin mengkoleksi perusahaan multinasional yang siap membayar mahal untuk hak ekslusif. Sebagai gantinya mereka mendapat hak marketing, ratusan tiket gratis dan bisa mengundang tamu perusahaan untuk acara ekslusif. Selain itu sponsor juga mendapat hak untuk menggunakan logo Piala Dunia dalam iklan-iklannya.

Saat ini FIFA dibekingi oleh Adidas, Coca-Cola, maskapai Emirates, raksasa elektronik Sony, produsen otomotif Hyundai dan kartu kredit Visa.

Laporan Pilihan