1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Jelajah Jerman

Festival Melawan Rasisme di Universitas Jerman

Masalah bahasa, hambatan birokrasi, dicap tertentu. Masalah ini dihadapi mahasiswa asing di Jerman. Guna menarik perhatian masalah ini, mahasiswa sejumlah kota di Jerman menggelar festival melawan rasisme.

Festival contre le racisme Plakataktion im Zelt Bild zugeliefert von Claudia Unseld/DW

Plakat Festival contre le racisme (Festival Melawan Rasisme) di Heidelberg

Teks yang sulit dimengerti, formulasi yang rumit dan kesulitan besar mendapat kerja sampingan. Semua itu dikenal baik oleh Azzeddine Echcharif. Mahasiswa kelahiran Maroko itu kuliah hukum di Universitas Münster dan berjuang melewati semua hambatan. "Jika mulai menempuh kuliah di Jerman, orang harus siap menerima tantangan," jelasnya. Karena itu tidak begitu mudah, Azzeddine membantu rekan-rekan mahasiswa asing lainnya sebisa mungkin.

Mula-mula istilah ilmiah untuk kuliah yang ditempuhnya. "Itu hambatan bagi hampir semua mahasiswa asing, juga meskipun dalam kehidupan sehari-hari kemampuan bahasanya cukup."

Klausur an der Universität (Ausschnitt)

Klausur atau ujian di Universitas

Pemahaman istilah ilmiah adalah penting agar bisa lulus "Klausur" atau ujian. Karena "Ausländeramt" (Badan Urusan Orang Asing) meminta bukti hasil ujian sebagai syarat memperpanjang visa, selain menunjukkan bukti sumber finansial dan mengisi banyak formulir.

"Ini semua menyebabkan mahasiswa asing sering butuh semester lebih banyak untuk menyelesaikan kuliah, dibandingkan mahasiswa Jerman," jelas Azzedine. Sehari-hari banyak mahasiswa mengalami diskriminasi. Pemilik apartemen tidak ingin penyewa orang asing, di trem penumpang lain sengaja menghindar dan di Cafe sering terdengar omongan tidak enak. Untuk mengangkat masalah mahasiswa asing, hal yang sering tidak diketahui oleh rekan mahasiswa Jermannya, digelar Festival "Contre le Racisme" (Festival melawan Rasisme).

Internationale Austauschstudenten nehmen an einer Vorlesung an der Handelshochschule Leipzig (HHL), der einzigen privaten Business School in Ostdeutschland, teil, aufgenommen am 30.09.2011. Die Hochschule wurde im April 1898 gegründet, gilt als Wiege der deutschen Betriebswirtschaftslehre und ist heute eine der führenden Business Schools in Europa. An der 1992 neu gegründeten Hochschule haben bisher jährlich rund 300 Absolventen von Universitäten aus aller Welt ihr Hauptstudium Betriebswirtschaftslehre oder ihr MBA- oder M.Sc.-Studium abgeschlossen. Foto: Jan Woitas

Mahasiswa asing di Jerman

Acara yang digagas di Perancis ini, sudah digelar di Jerman sejak 10 tahun. Tahun 2013 Festival melawan Rasisme, digelar 3-14 Juni di berbagai kota universitas di Jerman. Antara lain di Universitas Passau, Dresden dan Heidelberg.

Kuliah Juga Bagi Pengungsi

Di Heidelberg misalnya, mahasiswa terutama ingin menyoroti politik suaka Jerman dan masalah yang ditimbulkan karenanya. "Di Jerman, pemohon suaka tidak boleh kuliah di universitas mana pun, juga walaupun mereka berkualifikasi untuk itu," kritik Carolin Ott yang mengorganisir festival di Heidelberg.

Masalah besar juga dihadapi mahasiswa asing jika kuliahnya selesai, ditekankan Carolin. Kebanyakan tidak bisa tinggal, melainkan harus langsung meninggalkan Jerman karena visa mereka hanya untuk tujuan kuliah.

Bersama Meraih Lebih Banyak

"Dengan tema-tema serius tersebut, Festival yang kami gelar jauh berbeda dari festival budaya lainnya." Ditekankan Erik Marquardt, organisator festival yang studi jurusan kimia di Berlin.Tapi festival mahasiswa itu juga menawarkan pertunjukan teater, workshop, konser, podium diskusi, pameran bahkan pertandingan sepak bola.

Festival contre le racisme Aktion in der Heidelberger Innenstadt Bild zugeliefert von Claudia Unseld/DW

Festival contre le racisme di Heidelberg

Karena gagasan Festival Contre le Racisme berasal dari kampanye perhimpunan mahasiswa Perancis UNEF, organisator festival di Jerman juga saling bertukar pikiran dengan rekannya dan mengunjungi acara festival yang digelar di Perancis.

Azzedine Echcharif melihat festival itu sebagai peluang besar mencapai perubahan dalam masyarakat, tidak hanya menyangkut mahasiswa asing. "Sejauh ini festival kami adalah plattform yang bagus untuk pendekatan, pengertian dan toleransi."

Laporan Pilihan