1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Festival Über Lebenskunst di Berlin

Berlin menggelar festival „Über Lebenskunst“ yakni „seni hidup yang berkelanjutan.

default

Sesuai dengan namanya festival ini menampilkan karya-karya inovatif bagi kelestarian hidup. Ketua festival Hortensia Völckers menerangkan penggunaan ungkapan Über Lebenskunst, "Itu permainan kata-kata yang memiliki dua aspek yang penting. Pertama; hidup dan kehidupan yang berkelanjutan. Dan kedua; seni dari hidup dan keberlangsungan hidup.“

Hortensia Völkers

Hortensia Völckers

Selain acara kesenian, pada festival itu digelar seminar dan workshop yang diikuti oleh kalangan pakar dan aktivis lingkungan hidup serta politisi. Hortensia Völckers menekankan keterbatasan setiap bidang dalam memecahkan persoalan lingkungan.

Ungkapnya, "Bila politik tidak bisa mengatasinya maka demikian juga dengan seni. Sebab kita punya masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh politik. Jika kita tidak mencari bentuk hidup yang lain, maka politik tidak bisa menolong kita. Dan seni hanyalah satu aspek. Kita butuh ilmu pengetahuan, seni serta keterlibatan masyarakat.”


Hortensia Völckers menekankan pentingnya inisiatif setiap orang. Sebab meski, data tentang pemanasan iklim bumi sudah ada sejak lama, hingga kini belum ada penanganan yang tepat. Hortensia Völckers, "untuk itu selalu diperlukan kerja sama setiap pihak. Kita harus membuatnya sendiri, sebuah gerakan dari bawah. Masyarakat global harus menjelaskan aturannya ke dalam bentuk tertentu sehingga mengikat bagi seluruh manusia.“

Festival über Lebenskunst Think like a Forest FLASH Galerie

Think Like a Forest,


Florian Köhl, arsitek Jerman, dengan karyanya “Imbaueinbau” menciptakan sebuah bangunan didalam gedung tempat berlangsungnya festival tersebut „Haus der Kulturen der Welt“, disingkat HWK. Karya Köhl sebenarnya bertentangan dengan filsafat disain interior gedung HWK,yaitu membuat ruang terasa luas. Köhl menonjolkan efisiensi ruang dengan disain sederhana dari kayu. Luas bangunan sekitar 450 meter persegi yang dibagi kedalam tiga tingkat. Keseluruhan terdapat sembilan ruangan, yang digunakan untuk workshop, acara diskusi dan pameran.

Dari segi kelestarian, bangunan ini mudah dibongkar sehingga mudah digunakan untuk acara-cara lain dikemudian hari, Ujar Köhl,  "Ide lestari ini menimbul pertanyaan, tentang apa yang perlu diperhatikan. Bagi saya ada satu cara, yaitu memberikan keluwesan gerak pada ruang-ruang tersebut. Di HWK orang nampak sangat kecil karena gedungnya yang besar. Pembesaran manusia dan pengecilan ruang merupakan satu tantangan bagi saya.”

ÜBER LEBENSKUNST

Vorratskammer, Man im Wald


Di acara Festival Über Lebenskunst,  Arahmaiani seniwati Indonesia yang tinggal di Yogjakarta, membacakan tulisannya “Pemikiran seorang pengembara yang bermimpi”. Karya ini telah terbit dalam bahasa Jerman dan didasari kepeduliannya terhadap lingkungan hidup dan kesejahteraan manusia.

Menceritakan pengalamannya, Arahmaiani teringat pada kerjasama dengan komunitas “Green Palm“ di Yogya membantu masyarakat mengatasi dampak bencana, “Selain memberdayakan komunitas supaya bisa mandiri lalu menerapkan system sistematis yang sesuai dengan tuntutan alam dan lingkungan hidup disekitarnya. Maksudnya bahwa merapi akan selalu meletus kita sudah tahu. Nah disitu kita menerapkan sistim baru supaya kita bisa hidup dengan kondisi seperti itu.“

Juga pemusik asal Yogjakarta yang kini menetap di Berlin, Tomy Simatupang tampil di festival itu bersama grupnya "Jimmy Trash and the gunpowder tempel of heaven“. Menurut pemain bas itu, grupnya juga senang membuat lirik lagu yang bertemakan alam.

Boboy Simanjuntak
Editor: Edith Koesoemawiria