1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Olahraga

Felix Magath - Serigala Terakhir di Wolfsburg Dipecat

Kisah Felix Magath di Wolfsburg berakhir. Pelatih yang dikenal kejam terhadap para pemainnya itu harus pergi lantaran minim prestasi.

default

Felix Magath

Matahari baru beranjak. Embun masih mengambang di udara. Pukul 06:45 pagi, Pelatih VfL Wolfsburg, Felix Magath sudah berteriak menyemangati pasukannya yang sedang berlari berpasangan naik turun di sebuah bukit buatan yang oleh para pemain dijuluki "bukit penderitaan."

Bukit itu masih menjulang meski sang empunya telah meninggalkan kandang. Manajemen Wolfsburg Kamis (25/10) malam memecat pelatih yang setidaknya pernah merebut tiga gelar juara Bundesliga itu. Anjloknya prestasi Wolfsburg yang cuma mencatat satu kali kemenangan dari delapan pertandingan menjadi alasan utama kepergian sang pelatih.

Felix Magath sejak lama dikenal lantaran metode latihannya yang keras dan menitikberatkan pada kebugaran fisik serta disiplin. Beberapa pemain yang pernah dilatihnya menjuluki sosok berkacamata itu dengan berbagai sebutan, diantaranya "Saddam" atau yang terbaru, Quälix, padanan nama depannya, Felix dan kata kerja dalam bahasa Jerman Quälen, yang berarti menyiksa.

Fußball VfL Wolfsburg Trainer Felix Magath

Pelatih Wolfsburg Felix Magath

Sehari setelah kekalahan 0:3 dari FC Bayern München di Bundesliga, sang pelatih memerintahkan pemainnya untuk berlari di hutan sebelum kemudian menumpahkan sebagian besar dari 40 botol air minum yang disediakan. Saat itu ia berdalih, tindakannya adalah sebuah bentuk hukuman pedagogik lantaran para pemain mengabaikan kiper Diego Benaglio yang jatuh kesakitan di tengah pertandingan.

Bungkam Kritik Dengan Prestasi

Selama ini Magath mampu membungkam kritik yang diarahkan terhadapnya dengan prestasi. Dua kali ia mampu membawa FC Bayern München ke puncak tangga juara Bundesliga. Begitu pula tatkala ia menghadiahkan gelar juara Bundesliga pertama untuk Wolfsburg.

Namun keberhasilannya itu harus dibayar mahal. Sejumlah pemain Bayern memberontak lantaran tidak tahan dengan metode latihan sang pelatih. Hasilnya Magath ditendang dari Sabener Strasse setelah cuma mampu bertengger di posisi ke-lima klasemen akhir.

Di Wolfsburg, Magath menjual dan membeli pemain layaknya toko baju yang sedang cuci gudang. Sejak Juni 2011 ada sekitar 83 pemain yang dibeli, dijual atau dipinjamkan oleh Wolfsburg. Tidak ada klub lain yang sedemikian aktif di bursa transfer pemain.

Seberapa kritis situasi di Volkaswagen Arena tampak pada pekan lalu. Ketika takluk 0:2 di tangan Freiburg, para pendukung di stadion menyoraki tim lawan saat membobol gawang Benaglio. Mereka kemudian meneriaki Magath agar mengundurkan diri.

Buat sang pelatih, menemukan pekerjaan baru di Bundesliga akan sangat sulit. Tidak ada klub lain yang mau menyediakan kekuasaan sedemikian besar dan anggaran transfer yang tinggi seperti yang didapatnya di Bayern, Schalke atau Wolfsburg.

Dan pada kamis sore kisahnya di Volkswagen Arena pun berakhir. Kepada salah satu koran lokal, Magath yang ditanya soal pemecatannya berkata, "Saya tidak ingin berkomentar. sampai jumpa lagi!"

RN/AP(dpa/sid)