1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Favela dan Harapan Keluar dari Kemiskinan

Favela adalah sebutan daerah kumuh di Brasil. Tapi dalam beberapa tahun terakhir sudah banyak diambil langkah untuk memperbaiki situasi hidup disana, dan sukses.

Penjahat dan pedagang obat bius harus menghentikan bisnisnya di kompleks Favela, Complexo do Maré, bagian utara Rio de Janeiro, Brasil. Hari Minggu (30.03.2014) sekitar 4.000 anggota militer dan satuan elit polisi bersenjata berat masuk areal itu dan menempatkannya di bawah kekuasaan negara. Bagi penjahat, masa-masa sulit kini dimulai. Mereka harus beralih ke tempat lain, di mana aparat keamanan belum hadir.

Kedatangan militer dan polisi mengikuti pola tertentu, yang sukses di Rio de Janeiro serta kota-kota besar lainnya. Dengan senjata berat, aparat keamanan dari pemerintah pusat dan regional mengambil alih kekuasaan di daerah miskin. Setelah itu pasukan perdamaian hadir, dan tinggal di sana untuk jangka panjang untuk melaksanakan pembangunan struktur negara secara bertahap. Yang paling penting adalah keamanan.

Brasilien Polizei in der Favela Mare

Polisi Brasil di kompleks Favela, Complexo do Maré, 30 Maret 2014

Edinilson Ferreira dos Santos, kepala gerakan bantuan hukum bagi penghuni Favela (MDDF), menilai kehadiran polisi di Favela sangat baik. Tetapi harus didukung tindakan lain, karena masalah di Favela terlalu besar, kata dos Santos. Jika tidak ada tindakan lain, penempatan aparat keamanan hanya jadi kepala berita saja. Penghuni Favela akan merasa, ini hanya untuk politisi saja, bukan untuk mereka, dan itu menyebabkan perlawanan. Demikian dos Santos.

Hak Milik dan Harga Diri

Favela yang pertama terbentuk lebih dari 100 tahun lalu karena modernisasi kota. Penduduk miskin dan biasaya berkulit hitam didesak ke daerah pinggiran. Akibat kedatangan yang tidak terkontrol, hak kepemilikan di Favela sering tidak jelas. Ditambah lagi dengan kedatangan sejumlah besar orang ke kota-kota pada tahun 1970-an. Akibatnya dramatis. Menurut Kantor Statistik Brasil IBGE, saat ini sekitar 11,5 juta orang, atau sekitar 6% rakyat Brasil tinggal di Favela. Menurut IBGE, di seluruh negeri terdapat lebih dari 6.000 Favela.

Favela yang jumlah penduduknya terbesar bisa ditemukan di Rio de Janeiro, yaitu hampir satu setengah juta orang. Jumlah yang besar ini jadi beban berat bagi badan negara yang mengurus kependudukan. Sementara penduduk Favela harus menerima kenyataan, bahwa mereka bisa dipaksa pindah tempat tinggal kapan saja. Yang melakukannya bukan badan negara atau pemerintah kota, melainkan orang lain yang juga perlu tempat tinggal. Orang yang diusir dari tempat tinggalnya, tidak bisa menuntut hak kepemilikan.

Brasilien Polizei in der Favela Mare

Helikopter polisi berpatroli di udara selama aksi pengambil alihan kekuasaan berlangsung, 30 Maret 2014

Oleh sebab itu, sejak 2007 hak kepemilikan diatur sistematis. Saat ini di Rio de Janeiro 103.000 tanah diperiksa kepemilikannya. Seperempatnya termasuk daerah Favela. Hak kepemilikan menjamin hak tidak terbatas bagi pemilik, dan harga diri, kata Menteri Pembangunan Pemukiman Rio de Janeiro, Rafael Oicciani. Tapi ada juga yang mengkritik. Alasannya, dengan adanya ketetapan baru, hukum pasar tidak berlaku lagi. Orang yang ingin memiliki tanah hanya perlu menduduki tanah itu selama mungkin.

Kaya di Antara Yang Miskin

Hak kepemilikan bagi penduduk Favela juga jadi motif untuk memperbaiki daerah tempat tinggalnya. Ini sangat penting. Menurut IBGE Favela adalah "daerah kota di bawah standar normal" dengan infrastruktur yang jelas sangat buruk. Misalnya, tidak ada pelayanan medis, tidak ada air bersih, pembersihan sampah dan alat transportasi. Bagi penduduk, keadaan ini bisa berdampak fatal. Penghuni Favela tidak bisa mendapat pekerjaan di pusat kota, jika tidak ada hubungan transportasi antara Favela dan pusat kota.

Brasilien Polizei in der Favela Mare

Polisi Brasil ketika berpatroli di kompleks Favela, Complexo do Maré, 30 Maret 2014

Di lain pihak, sangat banyak orang senang tinggal di Favela. Menurut sebuah jajak pendapat yang dilakukan institut demografi Data Popular, hanya sepertiga penduduk Favela mau meninggalkan daerah kumuh itu, jika punya kesempatan.

Berkat program sosial yang mulai dilaksanakan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva, dan diteruskan Dilma Rousseff, banyak orang berhasil keluar dari kemiskinan dan termasuk dalam lapisan menengah bawah. Perkembangan ini juga tampak di Favela. Tahun 2013, dua pertiga penduduk Favela termasuk kelas menengah. Sepuluh tahun sebelumnya, hanya sepertiga, demikian pencatatan Data Popular.

Selain itu, menurut hasil jajak pendapat, setengah warga Brasil menilai, tinggal di luar Favela tidak berarti lebih bahagia. Menurut laporan harian O Globo, banyak penghuni Favela melihatnya secara pragmatis. Mereka lebih senang jadi orang kaya di antara orang miskin, daripada jadi orang miskin di antara orang kaya.

Laporan Pilihan