1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Euro Terancam Krisis Keuangan Yunani?

Mendung menggayuti mata uang Euro, yang tampak sedang mengalami krisis terberatnya. Sejak krisis ekonomi global, kondisi Yunani demikian buruk, bahkan sejumlah pengamat khawatir mata uang bersama Eropa itu dapat ambruk.

default

Lambang Euro Yunani

Delegasi Uni Eropa mengunjungi Yunani untuk membahas krisis keuangan berat yang dialami negara itu. Sampai akhir bulan ini pemerintah di Athena harus mengajukan rencana restrukturisasi anggaran belanja negara. Uni Eropa memperkirakan defisit di Yunani mencapai 14, 5 persen. Pemerintah Yunani sendiri mengumumkan beban hutang baru negara tahun 2010 akan lebih dari 12,7 persen, jadi defisit negara tahun ini akan mencapai 120 persen produk nasional bruto. Dua kali lipat lebih tinggi dari batas maksimal defisit negara yang ditetapkan pakta stabilitas Uni Eropa, yakni 60 persen dari produk nasional bruto. Situasi yang oleh sejumlah pengamat dikhawatirkan berdampak negatif bagi mata uang Euro.

Joachim Starbatty Profesor politik ekonomi di Universitas Tübingen, bersama dengan sejumlah profesor lainnya pada tahun 1997 gagal mengajukan gugatan kepada Mahkamah Konstitusi Jerman mengenai Perjanjian Amsterdam untuk tema peluncuran mata uang Euro. Kini Profesor Starbatty melihat kebenaran dari argumennya dulu

„Ketika Euro dibentuk, negara-negara yang memiliki sistem ekonomi politik yang berbeda-beda bergabung di dalamnya. Ada sejumlah negara yang berorientasi stabilitas sudah membuktikan keberhasilannya, sementara sejumlah negara masih harus diragukan. Terdapat kriteria penerimaan untuk memasuki kawasan pengguna mata uang Euro. Kriteria penerimaan ini sangat lemah, sangat longgar diinterpretasikan, bahkan sebagian tidak mengalami pengawasan. Dengan demikian terjadi penggabungan negara-negara pengguna mata uang Euro, yang memiliki pandangan politik dan sosial ekonomi berbeda-beda, yang sebetulnya tidak cocok satu sama lainnya.“

Sementara Helmut Schlesinger, mantan Gubernur Bank Sentral Jerman mengemukakan, mata uang bersama Uni Eropa dapat dikatakan menutup kemungkinan perubahan pertukaran kurs mata uang dan mengembalikan masalah penyesuaian politik ekonomi ke masing-masing negara. Dimana mereka harus berusaha sendiri, setidaknya melangkah sama dengan negara-negara mitra pengguna mata uang Euro lainnya dalam hal inflasi, kenaikan upah pekerja, kestabilan keuangan negara.

Peter Hampe Ketua Perhimpunan Jerman untuk Pendidikan Politik menjelaskan

„Mata uang bersama berarti saya tidak lagi dapat mengoreksi perkembangan yang berbeda-beda di masing-masing negara, terutama perbedaan perkembangan moneter. Artinya kecenderungan inflasi yang berbeda-beda tidak lagi dapat saya koreksi melalui kurs tukar mata uang, melainkan saya harus menyelaraskan hal itu melalui politik keuangan, politik upah, dan politik sosial negeri melalui ekonomi nasional dalam negerinya. Itu awalnya tidak dimengerti semua orang tapi itu adalah konsekuensi mata uang bersama. Dan jika negara-negara tidak berpegang pada aturan permainan ini, mereka akan menghadapi masalah.“

Tentang hal ini Joachim Starbatty Profesor ekonomi di Universitas Tübingen dan ketua aksi bersama ekonomi pasar sosial mengatakan

„Sebuah mata uang bersama ditandai dengan hanya tinggal ada satu politik keuangan dan bahwa masing-masing negara bersedia menyesuaikan politik nasionalnya pada kepentingan supranasional. Dan hal itu tidak terjadi, tidak di Italia, tidak di Yunani, Portugal atau Spanyol. Itu sekarang membawa mata uang Euro ke dalam krisis.“

Yunani, Italia, Spanyol dan Portugal selama bertahun-tahun mengecap keuntungan dari mata uang bersama Eropa, dengan mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pertumbuhan yang sementara ini kembali melemah, tapi dampak-dampaknya tidak terlihat pada situasi di negara-negara itu. Upah pekerja terus meningkat yang tidak diimbangi meningkatnya produktivitas. Biaya produksi meningkat lebih pesat dibanding di kawasan pengguna Euro lainnya. Dengan kata lain kemampuan bersaing negara-negara ini makin merosot, ekspor menurun drastis, sementara impor meningkat.

Tahun 2007 Yunani mengalami selisih negatif lebih dari 14 persen antara ekspor dengan impor barang dan jasanya. Di Spanyol dan Portugal defisit ini sekitar 10 persen. Seharusnya nilai mata uang negara-negara ini diturunkan. Ini akan mengurangi harga ekspor ke pasar dunia dan mengundang investasi asing. Tapi itu tidak mungkin dilakukan, karena negara-negara tersebut tidak lagi memiliki mata uang sendiri, mereka hanya memiliki Euro. Itulah yang menutup jalan keluar dengan penurunan mata uang. Pertanyaannya kini apakah dengan situasi tersebut ada gunanya melakukan penurunan kurs mata uang? Hal yang dipertanyakan Jürgen Matther dari Pusat Kajian ekonomi Jerman dan sekaligus dijawabnya sendiri

„Itu tidak realistis. Harus dilihat faktanya, mata uang bersama dan masuknya suatu negara ke dalam kawasan pengguna mata uang bersama, sebetulnya tidak dapat ditarik kembali. Karena justru dalam situasi seperti ini, dimana pasar keuangan semakin tidak stabil, keluarnya suatu negara dari mata uang bersama berarti, semakin besar krisis keuangan yang akan dihadapi negara tersebut. Sebab sudah jelas, jika suatu negara keluar dari mata uang bersama, nilai mata uangnya akan merosot. Itu yang disebut kami para ekonomi, spekulasi satu jalur. Artinya masing-masing pihak sudah dapat melihat apa yang akan terjadi. Semua akan mencoba untuk menarik keuntungan. Akan banyak uang dalam jumlah besar yang ditarik dari negara-negara ini dan dibawa ke kawasan mata uang Euro, untuk kemudian setelah devaluasi mata uang kembali ditukar agar dapat menarik keuntungan dari penurunan mata uang tersebut.“

Jadi klub pengguna mata uang Euro bukan hanya klub mata uang bersama melainkan juga penentuan nasib bersama. Sebuah jalan satu jalur. Sekali masuk tetap berada di dalam. Karena jika keluar dari klub ini akan berdampak bencana. Tapi yang dapat membantu negara-negara di selatan Eropa? Mereka harus keluar dari lumpur ini dengan kekuatan sendiri dengan disiplin tinggi politik upah dan politik keuangan. Demikian menurut para pakar seperti Profesor Joachim Starbatty

„Kini harus dikejar apa yang sebetulnya harus dilakukan sejak dulu. Itu tentu saja sulit melakukannya dalam situasi krisis. Kita lihat bahwa di Yunani sudah terjadi protes di jalanan. Dan jika kini benar-benar terjadi pemotongan belanja negara agar dapat kembali mampu bersaing, untuk mengurangi hutang maka dapat dibayangkan bagaimana hal itu akan menyebabkan goncangan besar. Sesuatu yang juga kita lihat di negara lainnya seperti di Islandia atau di Latvia.“

Jadi krisis keuangan global yang melanda seluruh dunia bukanlah pemicu guncangan di kawasan pengguna Euro. Kesalahannya sudah ada sejak dulu. Tapi tentu saja krisis saat ini sangat menyulitkan melakukan hal yang penting. Yakni melakukan penghematan dan penyesuaian upah yang berorientasi pada produktivitas.