1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Estetika Banal

Bagaimana "melihat" Jakarta lewat kacamata Fotografi? Ibukota yang lusuh, semrawut, dan warganya terlihat letih akibat kerasnya hidup. Penulis terkenal Ayu Utami membagi pandangannya lewat Deutsche Welle.

Memang fotografer ini teman baik saya. Tapi pencariannya bikin saya merenung juga. Sudah 20 tahun dia mengkhususkan diri untuk memotret jalanan Jakarta. Dia tak mau lagi berburu gambar candi, sunset, sunrise, gunung Bromo, orang Papua pakai koteka, petani tua dengan ayam, embun di ujung daun, segala yang cantik dan eksotik itu. Tapi, di ibukota pun ia tidak mau memotret pengemis lusuh yang menjulurkan tangan pada jaguar bling-bling dan segala klise kontras sosial. Jadi apa yang dia cari?

Suatu hari dia mengadu: “Hari ini kok aku ketemu orang jelek-jelek semua. Benar kata si Anu.” Kawan kami yang lain, si Anu, pernah mengeluh karena semua orang yang dilihatnya hari itu buruk rupa.

Waduh, saya jadi teringat kenalan lain, sastrawan dari Lebanon. Dia kadang melihat rombongan Indon di bandara Hongkong atau Dubai. Bilangnya, “To be frank, Indonesians are not beautiful people I think?” Sejujurnya, orang-orang Indonesia tidak rupawan ya? Sedih juga mendengarnya. (Biasanya bule-bule bilang cewek Indonesia cantik.)

Tapi kembali ke fotografer kita. Setelah satu dekade keluyuran memotret kotanya, ia sampai pada kesimpulan bahwa Jakarta memang tidak bisa dipotret dengan pendekatan fotografi yang berkembang di Barat. Kenapa?

“Karena kota ini jelek... kalau dilihat dengan pakem estetika fotografi Barat.”

1) Bandingkan dengan Paris, London, New York, Berlin, Tokyo... Kita tidak menemukan orang-orang bertampang atau berdandan keren di jalan-jalan Jakarta. Kalau ada sedikit sekali. Hawa sumuk, asap, rebutan kendaraan, persaingan pejalan kaki dengan motor di trotoar... Kota yang tak ramah tak mungkin membuat manusia jadi keren. Umumnya sosok dan wajah yang tampak di jalan adalah muka kilap-minyak-letih dengan baju asal membungkus badan. Apalagi waktunya bubar kantor.

2) Tata cahaya. Sst! Orang fesyen pasti tahu: keren itu juga soal pencahayaan! Nah. Terletak dekat khatulistiwa, matahari Jakarta menyorot lurus dan keras, membikin bopeng muka kentara dan kantung mata terlihat nyata. Bandingkan dengan kota-kota yang disebut tadi. Terletak di negeri empat musim, mereka mendapat cahaya miring yang keemasan nyaris sepanjang waktu. Golden hours adalah resep foto cantik. Mau kejar formula yang sama di Jakarta? Golden hours di kota ini cuma setengah jam! Cahaya emas bukanlah alam dominan Jakarta.

3) Langit nyaris selalu keruh.

4) Kota ini miskin sudut-sudut romantis dan nostalgis. Gedung tua di Kota Lama kebanyakan kumuh dan mau runtuh. Taman publik sangat jarang atau malah dikuasai pedagang (sekarang mulai ada perbaikan). Jembatan menampilkan pemandangan sungai kotor. Lampu jalan banyak yang norak. Segala yang dibayangkan tentang sejarah sebuah kota tidak tampil indah di Jakarta.

“Apakah kita tetap mau memotret dengan pakem yang berlaku di tempat lain?” tanya Erik Prasetya si juru potret itu. Tentu bisa memaksakan gambar-gambar salon tentang Jakarta. Tapi semua fotografer kelas dunia juga tahu itu bukan alam dominan yang sesungguhnya. Banyak nama besar internasional mampir juga ke sini. Raghu Rai, Sebastiao Salgado, Philip Jones Griffiths, Peter Turnley on assignment. Tapi dalam pameran atau buku pribadi, yang menunjukkan karya terbaik, tak satu pun menampilkan Jakarta. Kecuali jika foto kerusuhan (James Natchwey). Atau yang menampilkan foto indah ganjil tanpa ada manusia lantaran teknik eksposure yang sangat panjang (Peter Bialobrzeski).

Jakarta membutuhkan pendekatan fotografinya sendiri. Erik menamainya Estetika Banal: estetika yang mungkin tersingkap dalam momen-momen banal kota. Tercipta dari komposisi dan relasi antar elemen manusia yang dinamik di ruang publik. Termasuk manusia yang jelek-jelek dan kumuh itu.

Dalam sebuah diskusi dengan para peminat tatakota di Ruang Jakarta Juli lalu tercetus, pencarian estetik fotografi itu mungkin saja menemukan sesuatu tentang relasi antar manusia di ruang publik. Yang mulai terlihat adalah perubahan perilaku dari sebelum dan setelah Reformasi.

Jakarta bukan kota yang cantik. Tapi fotografer seperti dia sudah bosan dengan yang cantik. Untuk menemukan estetika dalam karakter Jakarta yang kacau, diperlukan pendekatan yang lain. Sialnya, jika fotografer itu ternyata punya istri, jangan-jangan dia sesungguhnya tertarik menemukan estetika dari cewek yang banal dan jelek belaka.