1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Eropa Hadapi Eskalasi Krisis Pengungsi

Pulau Kos di Yunani adalah cerminan Eropa yang tidak siap hadapi gelombang pengungsi lewat Laut Tengah. Petugas kewalahan dan tidak bisa berbuat banyak bagi pengungsi.

Antrian panjang 1.000 orang pengungsi yang berharap bisa ditampung di kapal ferry besar yang dicarter pemerintah Yunani terlihat di pelabuhan Kos. Para pengungsi kebanyakan datang lewat Turki menggunakan perahu karet yang kelebihan penumpang.

Banyak diantaranya sudah tiga minggu terpaksa menginap di udara terbuka, menunggu penampungan darurat dan registrasi oleh pejabat lokal. Tanpa makanan, minuman atau bahkan sarana sanitasi memadai. Apa yang mereka alami di Pulau Kos, tentu saja jauh dari impian semula, mengenai Eropa yang makmur dan sejahtera. Realita bahwa Yunani juga sedang dihempas krisis ekonomi dan Pulau Kos tidak disiapkan sebagai tempat penampungan pengungsi, tidak masuk dalam pikiran mereka.

"Kami bekerjasama dengan petugas lokal untuk mencari lokasi di mana para pengungsi bisa diakomodasi dalam tenda. Susahnya kami harus meyakinkan terlebih dahulu pejabat lokal, untuk mendapat izin lokasi mendirikan tenda," ujar Roberto Mignone, koordinator tindak darurat dari badan pengungsi PBB-UHCR.

Situasi tegang

Ketegangan memuncak saat petugas lokal mengumumkan, siapa yang berhak naik kapal penampungan darurat dan pengungsi mana yang tidak boleh naik. "Hanya pengungsi dari Suriah yang sementara ini diizinkan naik kapal," ujar petugas. Akibatnya terjadi bentrokan dan aksi kekerasan baik diantara para pengungsi dari beragam negara maupun antara pengungsi dengan petugas keamanan lokal.

Mariah, perempuan berusia 25, pengungsi asal Afghanistan yang mendarat di pulau wisata Kos dua minggu lalu, mengatakan takut jika malam datang, karena ia tidak punya tempat penampungan dan terpaksa tidur di langit terbuka di pinggir jalan. "Saya tidak punya uang, dan tidak punya tempat bernaung," ujar Mariah yang masih menunggu registrasi.

Situasi di pulau wisata Kos, yang berpenduduk 30.000 orang dan bulan Juli lalu saja harus menampung 7.000 pengungsi, adalah cerminan ketidak siapan Eropa menghadapi gelombang pengungsi ini. Pulau-pulau lainnya di Yunani juga berkondisi serupa, tak siap diserbu arus pengungsi.

Krisis pengungsi merebak

Pemerintah Yunani sendiri juga sibuk dengan masalah besar yang menghadang di depan mata. Krisis utang, pengangguran, nyaris bangkrut. Pemerintah di Athena samasekali tak siap dan tidak mengantisipasi gelombang pengungsi, dengan misalnya menyediakan tempat registrasi.

Kini bukan hanya Yunani, tapi juga negara tetangga Macedonia ketiban pulung, harus menerima limpasan pengungsi dari Yunani. Setiap harinya beberapa puluh gerbong kereta bobrok dipenuhi pengungsi diberangkatkan dari Yunani ke Macedonia. Pemerintah di Skopje kini menyatakan angkat tangan tak mampu lagi menangani.

Jerman yang jadi tujuan utama para pengungsi, kini juga sudah kelabakan mencari lokasi tempat penampungan darurat. Sentimen anti pengungsi di beberapa negara bagian bekas Jerman Timur juga makin marak. Ditandai dengan makin kerapnya aksi serangan pembakaran terhadap lokasi dan bangunan yang akan atau sudah dijadikan tempat penampungan darurat.

Krisis pengungsi kini juga sudah jadi debat hangat di parlemen di Berlin, Athena, Paris, London atau juga Brussel. Sementera Uni Eropa masih berkutat pada perdebatan aturan kuota serta tindakan darurat, bukannya mencari solusi yang menyeluruh. Padahal, para pakar keamanan dan migrasi meramalkan, jumlah pengungsi yang berusaha masuk ke Eropa akan terus bertambah, dan mencatat rekor baru. Tahun 2014 silam tercatat 625.000 pengungsi mendarat di Eropa, dan semester pertama tahun 2015 sudah mencatat jumlah yang sama dan arus pengungsi, selama krisis di negara asal tidak terpecahkan, masih tetap datang tak terbendung ke Eropa.

Laporan Pilihan