1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Eropa Antisipasi Ancaman Teror Radikal Islamis

Eropa baru-baru ini diguncang serangan teror, rangkaian razia dan peringatan kemungkinan serangan baru. Para menteri luar negeri Uni Eropa menggelar KTT untuk mencari rumusan ampuh mencegah serangan teror.

Eropa memasuki tahun 2015 dengan ketakutan yang makin meningkat terhadap aksi serangan teror kelompok Islamis radikal. Serangan pembunuhan di Paris, razia besar-besaran disertai baku tembak dan penangkapan di Belgia serta aksi penangkapan di Jerman menjadi bukti dari "ancaman" kelompok teror Islamis terhadap Eropa.

Perang melawan Islamis militan menjadi agenda utama dalam pertemuan puncak para menteri luar negeri 28 anggota Uni Eropa yang digelar di Brussel Senin (19/01). Terutama akan dibahas kerjasama lebih erat, khususnya di jajaran dinas rahasia negara anggota. Sebelumnya para menteri dalam negeri Uni Eropa sudah menyepakati untuk mengintensifkan pertukaran data penting.

Para penanggung jawab keamanan di Eropa kini bertarung melawan ancaman yang berubah dan makin kompleks dari kelompok jihadis. Baik dari front yang dikategorikan sel-sel yang dari luar kelihatan tidak aktif atau disebut "sleeper" serta dari para jihadis yang kembali dari front petempuran di Timur Tengah khususnya dari Suriah dan Irak

"Lanskap keamanan di Eropa makin sulit dan makin penuh tantangan dibandingkan periode lain sejak serangan teror 11 September 2001", ujar komandan lembaga kepolisia Eropa, Rob Wainwright. Sebagai antisipasi, sejumlah negara Eropa sudah menerapkan pemeriksaan makin ketat di perbatasan serta merencanakan aturan imigrasi lebih ketat.

Bergerak global

Para pakar keamanan juga hendak memanfaatkan pertemuan puncak para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussel untuk menggarisbawahi, bahwa asumsi "pelaku teror tunggal" yang selama ini dianut sejumlah negara Uni Eropa adalah kesalahan fatal.

Setiap serangan teror yang dilancarkan di barat dalam beberapa tahun terakhir membuktikan, semua pelakunya memiliki hubungan dengan kelompok ekstrimis yang menggiatkan jihad secara global. "Serangan pembunuhan di Paris dan aksi baku tembak di Belgia sekali lagi membuktikan gagasan "pelaku teror tunggal" adalah mitos yang salah", ujar Jean-Pierre Filiu pakar terorisme dari Science Po University di Paris.

"Gagasan pelaku tunggal" adalah rekayasa intelektual yang muncul tahun 2001 di Amerika Serikat sebagai bagian dari perang melawan teror yang dicanangkan pemerintahan George W. Bush", tambah Filiu. Gagasan semacam itu menjadi kebijakan politik yang lebih gampang dijual kepada publik sebagai tindakan keamanan yang lebih ketat.

"Nyatanya di balik setiap serangan teror, selalu ada dalang yang memberikan perintah baik langsung maupun tidak langsung," ujar pakar terorisme itu.

Walau begitu, para analis keamanan dan pakar terorisme dari berbagai lembaga "think tank" kenamaan menekankan, adalah kontra produktif menuduh semua umat Muslim sebagai potensi tersangka jihadis atau radikal Islamis. "Hanya ada lusinan orang yang beperilaku radikal diantara jutaan warga Muslim Eropa, sehingga aktivitas mereka sulit dilacak.

as/vlz (afp,ap,dpa)

Laporan Pilihan