1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialIndonesia

Era Thrifting Baru Lebih Kreatif Lewat Proses Rework

Shannyta Carnadi
14 April 2023

Thrifting sempat disinggung bisa turunkan produktivitas UMKM. Namun, anak muda tidak kehilangan akal, mereka melakukan bisnis rework. Apakah ini bisa jadi bentuk thrifting baru?

https://p.dw.com/p/4PuSu
T-shirt dan hoodie hasil rework
T-shirt dan hoodie hasil reworkFoto: Privat/Davian Rivaldy

Kecaman terhadap thrifting karena dianggap tidak ramah UMKM beberapa waktu lalu sempat menjadi sumber kegalauan di kalangan anak muda. Tindakan ini dianggap tidak solutif bagi mereka yang lebih memilih membeli pakaian bekas, baik itu karena faktor ekonomi maupun kegemaran pribadi. 

Thrifting atau berburu pakaian bekas dipandang sebagai cara alternatif untuk memiliki pakaian bekas layak pakai, tanpa harus membeli pakaian baru. Untuk sebagian orang, thrifting bahkan menjadi cara untuk mengekspresikan diri.  

Selain itu, thrifting juga dipandang sebagai salah satu cara mengurangi limbah fesyen yang saat ini jumlahnya sudah mencemaskan.  

Kecemasan ini adalah salah satu hal yang dirasakan oleh Davian Rivaldy, pendiri dari Our Ex, yang menjalani sebuah bisnis yang melaksanakan proses rework pada pakaian bekas. 

Apa itu rework? 

Rework adalah proses mengombinasikan dua pakaian bekas atau kain sisa untuk menciptakan suatu produk baru. Proses awal sebuah karya rework ini dimulai dengan sebuah sketsa desain pakaian. Menurut Davian, satu karya rework merupakan gabungan dari dua hingga tiga pakaian berbeda. Uniknya, ketiga pakaian tersebut tetap dapat menghasilkan tiga karya yang berbeda karena adanya sisa kain dari masing-masing pola yang dibuat per pakaian. 

Davian mengatakan bahwa selain kecemasan terhadap limbah, ide memulai rework adalah karena keinginannya untuk mencari cara menyalurkan kreativitas tanpa mengeluarkan modal awal yang terlalu mahal. 

Sebelum memulai bisnis ini, Davian sempat memikirkan beberapa kali mengenai minat untuk reworked fashion di Indonesia sebelum akhirnya terjun dan memulai bisnisnya.

Salah satu hoodie yang telah melalui proses rework
Salah satu hoodie yang telah melalui proses rework. Produk rework dinilai unik dan menjadi satu-satunyaFoto: Privat/Davian Rivaldy

"Saat awal memutuskan untuk memulai bisnis ini, aku sempat melakukan riset terlebih dahulu mengenai seberapa banyak bisnis seperti ini di Indonesia. Ternyata belum begitu banyak. Sehingga aku memutuskan untuk memulai dan akhirnya cukup berhasil," ujar Davian. 

Sebagian besar karyanya terinspirasi dari anime dan lirik-lirik lagu. Hal ini merupakan salah satu yang membedakan hasil rework Davian dengan yang lainnya. Beberapa karya rework-nya selain hasil gabungan beberapa pakaian bekas, ada pula yang dilukis tangan. Seringkali gambaran anime dan lirik-lirik lagu ini dilukiskannya pada hasil karyanya.

"Tantangannya adalah kita tidak ada stok ulang untuk setiap desain yang dibuat, jadi harus terus-menerus mencari ide terbaru dan desain yang harus dibuat kedepannya," katanya. 

Hal ini membuat reworked fashion menjadi sesuatu yang unik dan satu-satunya. Setiap orang yang menggunakannya tidak akan pernah sama persis dengan lainnya.

Rework bisa jadi tren berkelanjutan

Sementara itu, Creative Director Jakarta Fashion Week Andandika Surasetja mengatakan bahwa reworked fashion merupakan gerakan yang sangat menarik untuk terus diulik dan dikembangkan. 

"Justru reworked fashion ini harusnya sebisa mungkin senantiasa menjadi tren di masa depan, karena ini bisa menjadi solusi untuk kita membuat ekosistem fesyen yang lebih baik dan berdampak bagus di masa depan," ujar Andandika. 

Seorang model memperagakan produk rework
Rework bisa jadi salah satu solusi deadstock, yakni kondisi saat pakaian tidak bisa dijual dan mengendap di gudangFoto: Privat/Davian Rivaldy

Menurutnya, fenomena reworked fashion sudah mulai menjadi tren besar di industri kreatif. Seperti yang diketahui, rework juga dapat membantu memberikan nilai tambah dan memperpanjang siklus hidup pakaian tersebut. 

Pentingnya kolaborasi reworked fashion dan merek lokal 

Andandika Surasetja menilai bahwa kini merek fesyen lokal sudah sangat berkembang dan punya kualitas yang sangat baik. Namun salah satu hal yang sering menjadi persoalan adalah apa yang disebut dead stock.

Dead stock ini beragam penyebabnya, salah satunya adalah karena ukuran pakaian yang paling diminati sudah laku terjual dan ukuran lain tak terjual, diam mengendap di gudang. Alasan lainnya adalah bentuk pakaian sudah tidak lagi dianggap tren.  

"Dengan sekarang banyak kreator reworked fashion, barang-barang tersebut justru dapat dimanfaatkan kembali untuk mendapatkan sentuhan baru sehingga dapat memiliki daya tarik yang baru. Barang-barang yang tadinya dianggap tidak memiliki nilai jual lagi, justru menjadi sesuatu yang baru dan menarik lagi," ujar Andandika. 

Senada dengan Andandika, pendiri reworked fashion Our Ex, Davian Rivaldy juga mengatakan sangat tertarik untuk dapat bekerja sama dan menggandeng merek lokal. 

Davian mengatakan bahwa memiliki kesempatan untuk melakukan rework pada produk merek lokal dapat dipandang sebagai sesuatu yang cukup unik. Selain itu, Davian juga berharap reworked fashion bisa mendapat perhatian dari pemerintah. 

"Ini adalah sesuatu yang dibuat oleh tangan sendiri (handmade) dan dapat menghasilkan desain-desain yang unik," ujar Davian. 

Menyetujui hal ini, Andandika Surasetja, Creative Director Jakarta Fashion Week juga menyampaikan bahwa ini adalah gagasan yang dapat dilakukan jika ingin menghubungkan berbagai pelaku di industri fesyen dalam mewujudkan ekosistem yang baik. (ae)