1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

El Baradei Serukan Boikot Pemilu Presiden Mesir

Tokoh oposisi Mesir, Mohamed El Baradei, mantan Direktur Badan Tenaga Atom Internasional IAEA mengimbau pendukungnya memboikot pemilu presiden Mesir, 2011.

default

Mohamed El Baradei

Mohamed El Baradei yang merupakan harapan besar bagi kubu oposisi di Mesir memperingatkan kemungkinan bahwa penentang pemerintah Mesir akan melampiaskan ketidakpuasannya dengan situasi politik dengan menggunakan kekerasan. Kekerasan dapat dihindari bila dilaksanakan reformasi politik, ujar mantan Direktur Badan Tenaga Atom Internasional IAEA itu sambil menyerukan agar memboikot pemilu presiden Mesir yang dijadwalkan tahun depan.

El Baradei menyampaikan seruan itu melalui pesan video yang ditayangkan pada jaringan sosial facebook di internet. Kepada masyarakat Mesir ia mengomentari hasil pemilu parlemen Mesir yang digelar 5 Desember lalu, dan menyebut pemilu tersebut sebagai "dagelan": "Saya pikir bahwa sekarang adalah kesempatan yang tepat untuk berbicara kepada anda - kesempatan yang tepat setelah tragedi pemilu parlemen atau yang disebut orang sebagai pemilu."

Pada pemilu parlemen putaran terakhir awal Desember lalu, partai pemerintah PND dari Presiden Hosni Mubarak keluar sebagai pemenang dengan meraup 420 dari 508 kursi parlemen. Kandidat independen mengantongi 70 kursi dan oposisi hanya berhasil mendapat 14 mandat, sementara hasil bagi empat kursi dianggap tidak berlaku.

Sedangkan partai-partai terpenting sekular dan oposisi Islam radikal memboikot pemilu hari Minggu lalu itu (05/12). Kini El Baradei mengimbau semua kubu oposisi untuk bersatu dan menunjukkan sikap yang sama untuk menanggapi pemilihan presiden Mesir tahun 2011. Kembali Mohamad El Baradei: "Kita sendiri mengubah diri. Kita mengubah diri kita sendiri sedemikian rupa sehingga kita menjadi fundamen bagi aksi penolakan. Dan inilah yang merupakan kesatuan oposisi. Oposisi harus berdiri bahu membahu, tanpa mengindahkan apakah di antaranya terdapat saudara-saudara yang beragama Islam atau Kristen Koptik. Siapa pun yang berada di dalamnya: Kita bekerja sama dengan setiap warga Mesir, dari yang berhaluan paling kanan sampai yang paling kiri."

Bekas direktur IAEA yang pernah mendapat penghargaan Nobel perdamaian itu juga mendesak agar para pegiat Mesir mengirimkan sinyal jelas kepada yang disebutnya rezim yang akan mereka boikot pada "dagelan" pemilu tahun depan. Demikian El Baradei. Sebelumnya ia menuntut reformasi konstitusi yang mengizinkan kandidat independen seperti dirinya sendiri, untuk mencalonkan diri pada pemilu tahun depan sebagai presiden. Namun pemerintah Mesir tidak menolak tuntutan itu.

Kini Mohammed El Baradei juga mengancam akan melaksanakan pembangkangan sipil bila rezim di mesir tidak memenuhi tuntutan oposisi: "Bila kami dipaksa untuk itu, kami akan melaksanakan pembangkangan sipil secara damai. Ini adalah metode kami untuk mencapai perubahan secara damai yang menjunjung tinggi peraturan dan diakui secara internasional. Saya harap, rezim mengerti bahwa ini terjadi bila hak kami tak terpenuhi dan bila tidak ada jalan lain bagi masyarakat Mesir. Saya harap ini tidak akan terjadi. Jika tidak, kita akan melihat kekerasan di Mesir. Dan tak seorang Mesir pun yang menginginkan hal ini. Saya harap, rezim Mesir juga tidak."

Sementara itu, di Mesir banyak pihak menduga bahwa Hosni Mubarak, presiden saat ini yang berusia 82 tahun itu hendak mewariskan jabatan tertinggi di negeri sungai Nil itu kepada putranya Gamal Mubarak yang berusia 47 tahun. Gamal adalah bankir yang mendorong reformasi ekonomi liberal. Ayahnya, Hosni Mubarak memerintah di mesir sejak 29 tahun ini.

Christa Saloh/afpe/rtre/ap

Editor. Luky Setyarini

Laporan Pilihan