1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Ekosistem Yang Menjadi Korban Perang – Perairan Libanon Rusak Akibat Pencemaran Minyak

Tahun 2006, angkatan udara Israel membombardir kilang minyak Jiyyeh di Libanon. Sekitar 15.000 ton minyak berat tumpah dan hingga kini mencemari kawasan pantai di Libanon itu.

default

Pantai dii kota Beirut yang turut tercemar akibat tumpahan minyak dari kilang Jiyyeh

Serangan angkatan udara Israel pertengahan Juli tahun 2006 terhadap kilang minyak Jiyyeh, sekitar 30 km di selatan ibukota Libanon, Beirut, itu memicu bencana lingkungan amat berat di kawasan timur Laut Tengah. Sekitar 15.000 ton minyak berat mencemari dua pertiga kawasan pantai Libanon. Sekarang hampir semua orang melupakan bencana lingkungan itu, walaupun kerusakannya tidak semuanya dapat ditanggulangi.

Aktivis organisasi lingkungan “Lautan Libanon“, Mohammed al-Sarji, mengumpulkan ribuan foto, yang menunjukkan kerusakan lingkungan akibat perang itu. Al Sarji yang juga memiliki hobby menyelam itu, mendokumentasikan secara rinci sebaran cemaran minyak di sepanjang kawasan pantai Libanon yang terjadi Juli 2006 lalu.

Cemaran minyak itu, akibat masih berlangsungnya perang dan blokade laut Israel, baru lima minggu kemudian dapat dibersihkan. Dalam kurun waktu lima minggu itulah unsur-unsur berat dari minyak sudah mengendap ke dasar laut. Ombak juga menyebarkan cemaran minyak itu ke arah utara Jiyyeh. Sedikitnya 150 km dari seluruhnya 225 km bentang pantai Libanon tercemar berat. Cemaran minyak terbawa ombak sampai ke perairan Suriah dan Turki.

Mohammed al-Sarji menunjukkan foto-foto di sebuah pelabuhan kecil dekat Beirut dan pelabuhan Byblos yang bersejarah, yang diselaputi lapisan tebal minyak kental berwarna hitam. Kapal-kapal nelayan bagaikan dilem oleh lapisan minyak tebal. Batuan dan pasir pantai serta tebing-tebing karang yang berwarna hitam akibat cemaran minyak membentang di sepanjang kawasan pantai Libanon.

Bisnis perikanan dan pariwisata paling merasakan dampak negatif dari cemaran minyak itu. Kementrian Pariwisata Libanon menaksir kerugian sekitar tiga milyar Dollar. Juga induk koperasi perikanan Libanon menaksir kerugian senilai tiga milyar Dollar. Ribuan nelayan tiba-tiba menjadi penganggur.

Setelah perang dinyatakan usai dan blokade laut yang diterapkan Israel dicabut, para aktivis lingkungan Libanon dibantu organisasi internasional melakukan aksi pembersihan besar-besaran. Sekarang, tiga tahun kemudian kawasan pantai yang tercemar kelihatannya sudah bebas cemaran minyak. Juga jika menyelam ke dasar laut, endapan minyak tidak terlihat lagi. Tapi kenampakan visual itu sebetulnya menipu. Pencemaran yang terjadi telah merusak habitat ikan di kawasan itu.

Garabed Kazanjian, pimpinan Greenpeace di Beirut mengungkapkan hasil pengamatannya, "Dalam dua sampai tiga tahun, populasi ikan di kawasan perairan Libanon merosot tajam. Beberapa jenis bahkan terancam musnah. Minyak mencemari laut pada bulan Juli, bertepatan dengan musim kawin ikan. Ikan dewasa maupun anaknya banyak yang mati. Bukan hanya dampak langsung, melainkan juga dampak lanjutannya bagi generasi ikan berikutnya. Ditambah lagi, kawasan timur Lauit Tengah adalah tempat pemijahan penting banyak jenis ikan. Biasanya ikan-ikan bertelur di kawasan perairan dangkal."

Garabed Kazanjian tidak dapat menyebutkan angkanya secara pasti. Karena hingga kini tidak pernah dilakukan penelitian rinci menyangkut dampak jangka panjang dari cemaran minyak tersebut. Yang jelas, cemaran minyak yang terjadi bulan Juli 2006 itu menimbulkan beban berat bagi ekosistem kawasan Laut Tengah di Libanon yang sebelumnya juga sudah terancam kerusakan.

Kini Greenpeace bersama dengan koperasi nelayan lokal serta perhimpunan warga menggelar aksi kampanye, untuk menuntut agar kawasan perairan di sekitar pelabuhan Byblos yang bersejarah, dinyatakan sebagai kawasan cagar lautan. Dengan penetapan sebagai kawasan yang dilindungi, diharapkan paling tidak jumlah populasi ikan di kawasan bersangkutan dapat memiliki peluang untuk pulih kembali.

Mona Naggar/Agus Setiawan

Editor: Yuniman Farid