1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

#DWnesia: Membangun Mental Bangsa

Masih di bulan Agustus ini, tak ada salahnya kita merefleksikan kembali pencapaian yang diperoleh bangsa kita setelah lepas dari penjajahan.

Salam #DWnesia

Segolongan masyarakat masih mengagungkan Barat, baik dengan perekonomiannya, sistem politiknya, gaya busananya atau yang lainnya. Sebagian lagi mengagungkan Arab, mulai dari bahasanya, busananya, kemakmurannya, dan lain sebagainya. Demikian pandangan Dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, Sumanto al Qurtuby dalam opininya pekan ini.

Apakah ada yang salah dengan “menjadi Barat” atau “menjadi Arab”? Apakah ada yang keliru dengan mengidolakan bangsa-bangsa lain? Tentu saja tidak ada yang salah. Masalahnya adalah mereka bukan hanya sekedar mengidolakan Barat atau mengultuskan Arab tetapi sikap fanatisme mereka terhadap bangsa lain itu diiringi dengan tindakan menafikan bangsa sendiri. Simak opini Sumanto selengkapnya dalam : Bangsa Kuli, Mental Inlander?

Di bukan kemerdekaan ini, kita juga merayakan hari jadi Wiji Thukul. Aktivis yang juga merupakan penyair ini lahir tanggal 26 Agustus 1963. Di bulan ini, sebuah film kolaborasi antara Yayasan Muara, KawanKawan Film, Partisipasi Indonesia, dan LimaEnam Films yang mengisahkan kehidupan Wiji Thukul, tampil di Locarno International Film Festival ke-69 yang diselenggarakan di Locarno, Swiss. Film yang ditujukan bagi generasi muda tersebut berjudul Istirahatlah Kata-kata. Dalam #DWnesia kali inji, Lilik HS menyampaikan ulasannya tentang pejuang anti penindasan itu dalam tulisan berjudul Wiji Thukul dan Kata-kata yang tak Pernah Binasa.

Lanjutan opini Mencurigai Kebangkitan Fasisme di Indonesia juga dapat Anda simak dalam edisi kali ini. Pengamat politik Indonesia yang merupakan dosen di universitas Bonn dan Köln, Jerman, Timo Duile menggali lebih jauh bagaimana benih fasisme tengah mencoba-coba melawan musuh imajiner, serta bagaimana fasisme mencederai hak asasi manusia di Indonesia. Simak: Mencurigai Fasisme Gaya Baru di Indonesia bagian 2.

Anda setuju dengan opini para penulis? Selamat berdiskusi, Sahabat DW…Kami tunggu opini Anda di Facebook DW_Indonesia dan twitter @dw_indonesia. Seperti biasa, sertakan tagar #DWNesia dalam mengajukan pendapatmu. Salam #DWnesia

Laporan Pilihan